Senjata Mahasiswa Melawan Algoritma dan Hoaks
(Ilustrasi AI)
Leni Pebriyati Universitas Siber Asia
ZTV - Pendahuluan. Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat mendapatkan dan menyebarkan informasi. Media sosial tidak hanya digunakan untuk berkomunikasi, tetapi juga menjadi tempat masyarakat membentuk pendapat mengenai berbagai persoalan. Melalui algoritma, platform digital menampilkan konten berdasarkan minat, kebiasaan, dan aktivitas penggunanya.
Namun, kondisi ini juga menimbulkan masalah. Konten yang menarik perhatian, menimbulkan emosi, atau bersifat provokatif sering kali lebih cepat muncul dan menyebar. Akibatnya, informasi yang belum tentu benar dapat dipercaya oleh banyak orang. Inilah salah satu alasan hoaks mudah berkembang di media sosial.
Mahasiswa memiliki peran penting untuk menghadapi persoalan tersebut. Mahasiswa tidak seharusnya hanya menjadi pengguna media sosial, tetapi juga harus mampu memeriksa dan menyebarkan informasi secara bertanggung jawab. Literasi digital, sikap kritis, dan etika dalam berkomunikasi menjadi bekal penting untuk melawan algoritma dan hoaks.
Pengaruh Algoritma terhadap Informasi
Algoritma merupakan sistem yang digunakan oleh platform digital untuk menentukan konten yang akan ditampilkan kepada pengguna. Sistem ini melihat berbagai aktivitas pengguna, seperti konten yang disukai, komentar, pencarian, dan video yang ditonton. Berdasarkan data tersebut, platform akan menampilkan konten yang dianggap sesuai dengan minat pengguna.
Di satu sisi, algoritma memang memudahkan seseorang menemukan informasi yang dibutuhkan. Namun, di sisi lain, algoritma dapat membuat pengguna hanya melihat informasi yang sesuai dengan pandangannya. Keadaan ini disebut sebagai ruang gema atau echo chamber. Pengguna terus menerima informasi yang sama sehingga sulit melihat sudut pandang lain.
Masalah menjadi lebih besar ketika konten yang sering muncul adalah informasi palsu. Konten yang membuat orang marah, takut, atau penasaran biasanya lebih menarik perhatian. Akibatnya, hoaks dapat menyebar lebih cepat daripada informasi yang sudah diperiksa kebenarannya. UNESCO menekankan bahwa literasi media dan kemampuan melakukan verifikasi sangat penting untuk menghadapi misinformasi dan disinformasi.
Hoaks di Lingkungan Digital
Hoaks merupakan informasi palsu atau menyesatkan yang disebarkan seolah-olah benar. Hoaks dapat berupa berita yang dibuat-buat, judul yang tidak sesuai dengan isi, foto yang digunakan di luar konteks, kutipan palsu, maupun video yang telah diedit.
Penyebaran hoaks sering terjadi karena pengguna langsung membagikan informasi tanpa membaca dan memeriksanya terlebih dahulu. Tidak sedikit orang yang hanya melihat judul berita, lalu menyimpulkan isi keseluruhannya. Selain itu, informasi yang dikirim oleh teman atau keluarga sering dianggap benar hanya karena berasal dari orang yang dikenal.
Untuk menghindari hoaks, mahasiswa perlu memeriksa sumber informasi, tanggal berita, isi berita, serta membandingkannya dengan sumber lain yang lebih terpercaya. Kemampuan tersebut penting karena mahasiswa juga dapat menjadi penyebar informasi melalui unggahan, komentar, maupun grup percakapan.
Literasi Digital sebagai Senjata Mahasiswa
Senjata utama mahasiswa dalam melawan hoaks adalah literasi digital. Literasi digital bukan hanya kemampuan menggunakan telepon pintar atau media sosial. Literasi digital juga berarti kemampuan memahami, menilai, dan menggunakan informasi dengan bijak.
Sebelum membagikan informasi, mahasiswa dapat melakukan beberapa langkah berikut:
1. Membaca berita secara lengkap, bukan hanya judulnya.
2. Memeriksa sumber dan penulis berita.
3. Membandingkan informasi dengan media terpercaya.
4. Memeriksa tanggal dan konteks berita.
5. Memastikan foto atau video tidak digunakan di luar konteks.
6. Membedakan fakta dan pendapat.
7. Tidak membagikan informasi yang belum terbukti kebenarannya.
Kebiasaan sederhana tersebut dapat membantu mengurangi penyebaran hoaks. Mahasiswa juga perlu memahami bahwa banyaknya tanda suka, komentar, atau tayangan tidak selalu menunjukkan bahwa suatu informasi benar. Popularitas sebuah konten tidak dapat dijadikan satu-satunya ukuran kebenaran.
Membuat Konten yang Positif
Mahasiswa tidak hanya dapat melawan hoaks dengan membantah informasi yang salah. Mahasiswa juga dapat membuat konten yang benar, menarik, dan mudah dipahami. Misalnya, mahasiswa dapat membuat infografik, video pendek, artikel, atau unggahan edukatif tentang cara mengenali hoaks.
Dalam membuat konten, sumber informasi harus dicantumkan dengan jelas. Judul juga harus sesuai dengan isi dan tidak dibuat secara berlebihan. Foto, video, dan kutipan perlu diberikan penjelasan agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.
Konten yang informatif tidak harus selalu menggunakan bahasa yang sulit. Mahasiswa dapat menggunakan contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dengan begitu, informasi yang benar dapat lebih mudah diterima oleh masyarakat.
Peran Kampus dan Organisasi Mahasiswa
Perlawanan terhadap hoaks akan lebih kuat jika dilakukan bersama-sama. Kampus dapat menjadi tempat untuk meningkatkan kesadaran mahasiswa mengenai pentingnya literasi digital. Kegiatan seperti diskusi, seminar, pelatihan cek fakta, dan kampanye antihoaks dapat dilakukan melalui organisasi mahasiswa atau pers kampus.
Mahasiswa dari berbagai bidang juga dapat bekerja sama. Mahasiswa komunikasi dapat membuat strategi penyampaian pesan, mahasiswa teknologi dapat membantu mengolah data, sedangkan mahasiswa ilmu sosial dapat menganalisis dampak hoaks terhadap masyarakat.
Kerja sama tersebut dapat membantu menciptakan lingkungan kampus yang lebih kritis terhadap informasi. Selain itu, pengetahuan yang diperoleh dapat dibagikan kepada masyarakat di sekitar kampus.
Etika dalam Meluruskan Informasi
Meluruskan hoaks harus dilakukan dengan cara yang baik. Mahasiswa tidak perlu menghina atau menyerang orang yang menyebarkan informasi keliru. Cara yang kasar justru dapat menimbulkan konflik dan membuat orang tersebut semakin sulit menerima koreksi.
Informasi yang salah dapat diluruskan dengan menunjukkan sumber yang terpercaya dan menjelaskan letak kesalahannya. Penyampaian koreksi harus dilakukan dengan bahasa yang sopan dan berdasarkan fakta. Tujuan meluruskan hoaks bukan untuk memenangkan perdebatan, melainkan agar orang lain mendapatkan informasi yang benar.
Sikap terbuka dan menghargai pendapat orang lain juga penting dalam komunikasi digital. Dengan menerapkan etika, mahasiswa dapat membantu menciptakan ruang media sosial yang lebih sehat.
Penutup
Algoritma dan hoaks merupakan tantangan yang dihadapi masyarakat dalam kehidupan digital. Algoritma dapat memengaruhi informasi yang muncul di media sosial, sedangkan hoaks dapat menyebabkan kesalahpahaman dan konflik di tengah masyarakat.
Mahasiswa memiliki peran penting dalam menghadapi masalah tersebut. Peran itu dapat dilakukan melalui literasi digital, pemeriksaan fakta, pembuatan konten yang bertanggung jawab, kerja sama di lingkungan kampus, dan komunikasi yang sopan.
Dengan demikian, senjata mahasiswa melawan algoritma dan hoaks bukan hanya teknologi, tetapi juga pengetahuan, sikap kritis, dan etika. Mahasiswa harus mampu menggunakan media digital secara bijak agar dapat menjadi penyebar informasi yang benar dan ikut menjaga ruang publik dari pengaruh hoaks.
Daftar Pustaka
Ireton, C., & Posetti, J. (Eds.). (2018). Journalism, “fake news” & disinformation: Handbook for journalism education and training. UNESCO.
Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia. (2020). Survei literasi digital Indonesia 2020. https://aptika.kominfo.go.id/wp-content/uploads/2020/11/Survei-Literasi-Digital-Indonesia-2020.pdf
Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia. (2022). Laporan survei status literasi digital Indonesia 2022. https://aptika.kominfo.go.id/wp-content/uploads/2023/02/Report_Nasional_2022_FA_3101.pdf
UNESCO. (2024). Journalism, fake news and disinformation. https://www.unesco.org/en/articles/journalism-fake-news-disinformation
