Ketika Teknologi Meniru Manusia: Tantangan Etika dan Nilai Kemanusiaan di Era Kecerdasan Buatan
(Ilustrasi AI/Foto: ist)
Oleh: Mutiara Akifa Sabrina – Mahasiswa Universitas Siber Asia*
Kajian: Estetika Humanisme – Industry 4.0 & Society 5.0
ZTV - Pendahuluan Perkembangan kecerdasan buatan atau *artificial intelligence* telah mengubah banyak bagian kehidupan manusia. Teknologi AI kini dapat membantu menulis, menerjemahkan bahasa, membuat ilustrasi, menyusun musik, menganalisis data, bahkan menghasilkan video dan suara yang menyerupai manusia. Berbagai pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu berjam-jam kini dapat diselesaikan dalam hitungan menit.
Kemampuan tersebut menunjukkan bahwa teknologi telah mencapai tingkat kecanggihan yang luar biasa. Namun, pada saat yang sama, muncul pertanyaan penting: apa yang terjadi ketika teknologi tidak hanya membantu manusia, tetapi juga mampu meniru identitas, cara berbicara, kreativitas, dan ekspresi manusia?
Fenomena ini dapat ditemukan dalam penggunaan teknologi *deepfake*, penggandaan suara berbasis AI, avatar digital, asisten virtual, dan konten otomatis di media sosial. Melalui teknologi tersebut, wajah seseorang dapat ditempelkan pada video tertentu, suaranya dapat ditiru, dan pernyataan palsu dapat dibuat seolah-olah benar-benar diucapkan olehnya.
Kementerian Komunikasi dan Digital menjelaskan bahwa teknologi AI telah banyak digunakan dalam pembuatan foto, video, dan suara palsu untuk melakukan penipuan. Konten seperti itu dapat membuat seseorang terlihat atau terdengar melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah dilakukan.
Fenomena tersebut relevan dengan kajian Estetika Humanisme, terutama dalam topik *Industry 4.0 & Society 5.0* serta kemampuan berpikir kritis, ilmiah, dan sistematis yang tercantum sebagai pilihan pembelajaran dalam soal Ujian Akhir Semester. Estetika Humanisme tidak hanya membahas sesuatu yang indah secara visual, tetapi juga menilai bagaimana hasil kreativitas manusia memiliki makna, tanggung jawab, dan manfaat bagi kehidupan.
*Teknologi yang Semakin Menyerupai Manusia*
Pada masa lalu, kemampuan komputer terbatas pada pengolahan angka dan pelaksanaan perintah yang telah ditentukan. Saat ini, AI generatif dapat mempelajari pola dari sejumlah besar data dan menghasilkan karya baru yang menyerupai buatan manusia.
AI mampu membuat tulisan dengan gaya tertentu, menciptakan gambar realistis, menggubah musik, dan menjawab pertanyaan menggunakan bahasa yang terasa alami. Beberapa sistem bahkan dapat mengenali ekspresi wajah dan menyesuaikan respons berdasarkan percakapan pengguna.
Kemampuan tersebut membawa banyak manfaat. Dalam dunia pendidikan, AI dapat membantu mahasiswa memahami materi, mencari gagasan, menerjemahkan sumber, dan memperoleh penjelasan tambahan. Dalam industri kreatif, AI dapat membantu membuat rancangan awal, memperbaiki kualitas gambar, dan mempercepat proses produksi. Dalam pelayanan publik dan bisnis, teknologi ini dapat membantu mengolah data serta memberikan pelayanan secara lebih cepat.
Namun, teknologi yang mampu menyerupai manusia juga dapat menciptakan persoalan ketika digunakan tanpa batas moral. Kemampuan meniru wajah dan suara dapat dimanfaatkan untuk menyebarkan informasi palsu, menipu korban, mencemarkan nama baik, dan mengambil keuntungan dari kepercayaan orang lain.
Pada Januari 2026, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Komunikasi dan Digital menyampaikan bahwa serangan *deepfake* meningkat sekitar 1.400 persen secara tahunan dari 2024 ke 2025. Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa manipulasi wajah dan suara berbasis AI telah menjadi salah satu tantangan keamanan digital yang serius.
INTERPOL juga memperingatkan bahwa penipuan yang diperkuat AI dapat menghasilkan keuntungan sekitar 4,5 kali lebih besar bagi pelaku dibandingkan metode penipuan tradisional. Teknologi generatif, termasuk video, gambar, suara, dan chatbot palsu, membuat penjahat semakin mudah menyamar sebagai orang yang dipercaya oleh korban. ([Interpol][3])
*Ketika Mata dan Telinga Tidak Lagi Cukup*
Selama ini, manusia cenderung mempercayai sesuatu yang dapat dilihat dan didengar. Foto dianggap sebagai bukti visual, sedangkan rekaman suara dan video dianggap sebagai dokumentasi suatu kejadian. Kehadiran AI generatif mengubah anggapan tersebut.
Video yang terlihat meyakinkan belum tentu merekam peristiwa nyata. Suara yang terdengar sangat mirip belum tentu berasal dari orang yang bersangkutan. Foto yang tampak sempurna mungkin merupakan hasil rekayasa komputer.
UNESCO menyebut dampak *deepfake* sebagai bagian dari “krisis mengetahui”. Masalahnya tidak hanya terletak pada adanya konten palsu, tetapi juga pada semakin sulitnya masyarakat menentukan informasi yang dapat dipercaya. Ketika konten asli dan konten buatan semakin sulit dibedakan, manusia dapat kehilangan dasar untuk membangun pemahaman bersama mengenai suatu peristiwa.
Keadaan tersebut dapat merusak kepercayaan dalam hubungan sosial. Seorang anggota keluarga dapat menerima panggilan suara palsu yang meniru kerabatnya dan meminta pengiriman uang. Seorang pegawai dapat menerima perintah palsu yang menggunakan suara atasannya. Masyarakat juga dapat menerima video palsu yang menampilkan tokoh tertentu sedang memberikan pernyataan yang tidak pernah disampaikan.
Pada Oktober 2025, Kementerian Komunikasi dan Digital menyebutkan bahwa kerugian akibat modus penipuan yang memanfaatkan AI dilaporkan telah mencapai sekitar Rp700 miliar. Pemerintah juga menekankan pentingnya transparansi, etika, dan akuntabilitas dari pengembang platform berbasis AI.
Krisis kepercayaan ini memperlihatkan bahwa kemajuan teknologi tidak selalu disertai kemajuan etika. Manusia mungkin berhasil menciptakan mesin yang dapat meniru dirinya, tetapi belum tentu berhasil memastikan bahwa teknologi tersebut selalu digunakan untuk tujuan yang baik.
*Perspektif Estetika Humanisme*
Dalam Estetika Humanisme, manusia ditempatkan sebagai pusat dari perkembangan kebudayaan dan teknologi. Teknologi seharusnya membantu manusia menjalani kehidupan yang lebih bermakna, adil, aman, dan bermartabat.
Keindahan teknologi tidak hanya dapat dinilai dari ketepatan gambar yang dihasilkan atau kemiripan suara yang diciptakan. Teknologi juga perlu dinilai dari tujuan dan dampaknya bagi manusia. Sebuah karya AI mungkin terlihat menakjubkan secara visual, tetapi kehilangan nilai kemanusiaannya ketika dibuat dengan mencuri identitas, merendahkan martabat, atau menipu orang lain.
Dengan demikian, sesuatu yang indah belum tentu baik. Video buatan AI dapat terlihat sangat realistis, tetapi realisme tersebut menjadi tidak bermakna apabila digunakan untuk menyebarkan kebohongan. Suara sintetis dapat terdengar sempurna, tetapi kesempurnaan teknisnya tidak dapat membenarkan penggunaannya untuk melakukan penipuan.
Humanisme mengajarkan bahwa wajah, suara, nama, pengalaman, dan kreativitas seseorang merupakan bagian dari identitas manusia yang harus dihormati. Identitas tersebut bukanlah bahan digital yang bebas digunakan tanpa persetujuan.
Penggunaan AI seharusnya mempertimbangkan beberapa nilai utama, yaitu kejujuran, tanggung jawab, keadilan, privasi, transparansi, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Pengguna teknologi juga harus memikirkan akibat yang dapat diterima orang lain sebelum membuat atau menyebarkan suatu konten.
Ketika teknologi digunakan untuk pendidikan, kesehatan, kreativitas, pelayanan, dan penyelesaian masalah sosial, teknologi memiliki nilai humanistik. Sebaliknya, ketika digunakan untuk mempermalukan, memanipulasi, atau merugikan orang lain, teknologi telah menjauh dari tujuan kemanusiaan.
*AI Tidak Memiliki Nurani Manusia*
AI dapat mengolah data dan mengenali pola, tetapi tidak memiliki pengalaman hidup seperti manusia. AI tidak merasakan rasa bersalah, empati, kasih sayang, kehilangan, atau tanggung jawab moral. Sistem AI menghasilkan keluaran berdasarkan data, pola, dan instruksi yang diberikan kepadanya.
Karena itu, tanggung jawab atas penggunaan AI tetap berada pada manusia. Pengguna tidak dapat menyalahkan mesin ketika konten yang dibuatnya merugikan orang lain. Pengembang juga tidak dapat hanya mengejar kecanggihan teknologi tanpa memperhatikan risiko sosial yang dihasilkan.
UNESCO menekankan bahwa teknologi dapat mendukung pekerjaan manusia, tetapi tidak dapat menggantikan tanggung jawab profesional dan pengawasan manusia. Prinsip ini penting karena keputusan yang berdampak pada kehidupan seseorang tidak seharusnya diserahkan sepenuhnya kepada sistem otomatis.
Manusia harus tetap menentukan batas mengenai hal yang layak dan tidak layak dilakukan. AI mungkin mampu membuat video palsu, tetapi manusia yang memutuskan apakah video tersebut akan dibuat, digunakan, dan disebarkan. Di sinilah nurani berperan sebagai pengarah yang tidak dimiliki mesin.
*Pentingnya Human Literacy*
Menghadapi perkembangan AI tidak cukup hanya dengan meningkatkan kemampuan teknis. Masyarakat juga membutuhkan *human literacy* atau literasi kemanusiaan.
Literasi kemanusiaan mencakup kemampuan memahami diri sendiri dan orang lain, berpikir kritis, berempati, berkomunikasi, bekerja sama, mengendalikan emosi, serta mempertimbangkan dampak moral dari sebuah tindakan. Kemampuan tersebut membantu manusia menggunakan teknologi secara sadar dan bertanggung jawab.
Dalam menghadapi konten AI, berpikir kritis berarti tidak langsung mempercayai informasi hanya karena terlihat meyakinkan. Seseorang perlu memeriksa sumber, konteks, waktu publikasi, akun yang menyebarkan, dan keberadaan informasi pembanding.
Kecerdasan emosional juga sangat dibutuhkan. Penipuan digital sering memanfaatkan rasa takut, panik, marah, atau kasihan agar korban segera bertindak. Dengan mengendalikan emosi, seseorang dapat berhenti sejenak sebelum mengirim uang, membagikan informasi, atau menuduh orang lain.
Empati menjadi bagian yang tidak kalah penting. Sebelum menggunakan foto atau suara seseorang, pengguna AI perlu mempertimbangkan perasaan dan kerugian yang mungkin dialami orang tersebut. Sebelum membagikan konten yang belum terverifikasi, seseorang perlu membayangkan dampaknya terhadap nama baik, keluarga, dan kehidupan korban.
Menurut *Future of Jobs Report 2025*, keterampilan AI, data, dan keamanan siber akan semakin dibutuhkan. Namun, keterampilan manusia seperti berpikir analitis, kreativitas, ketahanan, fleksibilitas, kepemimpinan, dan kolaborasi tetap menjadi kemampuan utama dalam dunia kerja.
Hal tersebut menunjukkan bahwa masa depan bukan sekadar persaingan antara manusia dan mesin. Masa depan membutuhkan manusia yang mampu menggunakan mesin tanpa kehilangan kualitas kemanusiaannya.
*Menjadi Pengguna AI yang Bertanggung Jawab*
Penggunaan AI yang bertanggung jawab dapat dimulai dari kebiasaan sederhana. Ketika menerima video, gambar, atau rekaman suara yang mencurigakan, pengguna sebaiknya tidak langsung mempercayai dan menyebarkannya.
Sumber informasi perlu diperiksa melalui akun resmi, media terpercaya, atau pernyataan langsung dari pihak yang bersangkutan. Apabila terdapat permintaan uang atau data pribadi melalui rekaman suara, penerima perlu menghubungi orang tersebut melalui saluran komunikasi lain.
UNESCO memperkenalkan prinsip “berhenti, verifikasi, lalu bagikan” sebagai salah satu perlindungan terhadap penyebaran disinformasi. Prinsip tersebut mengajarkan bahwa setiap pengguna memiliki tanggung jawab untuk memeriksa informasi sebelum memperluas penyebarannya. ([UNESCO][8])
Pengguna AI juga perlu menyampaikan secara terbuka apabila sebuah gambar, video, atau tulisan dibuat menggunakan bantuan AI. Transparansi tersebut penting agar audiens tidak tertipu dan tetap dapat menilai konteks suatu karya.
Selain itu, wajah dan suara orang lain tidak boleh digunakan tanpa izin, terutama untuk iklan, hiburan, konten seksual, kampanye politik, atau kegiatan komersial. Pemerintah Indonesia menilai praktik *deepfake* seksual tanpa persetujuan sebagai pelanggaran serius terhadap hak asasi manusia, martabat, dan keamanan warga di ruang digital.
*Peran Mahasiswa di Era Kecerdasan Buatan*
Mahasiswa merupakan kelompok yang dekat dengan teknologi dan memiliki tanggung jawab besar dalam membangun budaya digital yang sehat. Mahasiswa tidak cukup hanya menjadi pengguna aplikasi, tetapi perlu menjadi pengguna yang kritis, kreatif, dan beretika.
Dalam kegiatan akademik, mahasiswa dapat menggunakan AI untuk mencari ide, membuat kerangka tulisan, menerjemahkan sumber, atau memahami materi yang sulit. Namun, hasil AI tetap harus diperiksa. Mahasiswa tidak seharusnya menyerahkan seluruh proses berpikir kepada mesin.
Penggunaan AI tanpa pemahaman dapat membuat mahasiswa kehilangan kesempatan untuk melatih kemampuan menulis, menganalisis, memecahkan masalah, dan menyampaikan argumentasi. Karena itu, AI sebaiknya digunakan sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti usaha belajar.
Mahasiswa juga dapat berperan dengan memberikan edukasi kepada keluarga dan lingkungan sekitar. Pengetahuan mengenai *deepfake*, penipuan suara, keamanan data, dan verifikasi informasi dapat membantu melindungi kelompok masyarakat yang belum memahami teknologi tersebut.
Di media sosial, mahasiswa perlu menjadi teladan dengan tidak menyebarkan konten yang belum terverifikasi. Mahasiswa juga dapat menghasilkan konten edukatif yang menjelaskan manfaat, risiko, dan penggunaan AI secara bertanggung jawab.
*Menuju Society 5.0 yang Manusiawi*
Konsep Society 5.0 menggambarkan masyarakat yang menggunakan teknologi untuk menyelesaikan persoalan manusia. Dalam konsep tersebut, teknologi bukan tujuan akhir, melainkan alat untuk meningkatkan kualitas kehidupan.
Masyarakat yang maju bukan hanya masyarakat yang memiliki sistem AI paling canggih. Masyarakat yang benar-benar maju adalah masyarakat yang mampu menggunakan AI untuk memperluas akses pendidikan, memperbaiki pelayanan kesehatan, membantu kelompok rentan, menciptakan lapangan kerja, dan menyelesaikan persoalan sosial.
Karena itu, pengembangan AI perlu disertai aturan yang jelas, pendidikan literasi digital, perlindungan data, mekanisme pelaporan, dan pertanggungjawaban pengembang. Pemerintah, perusahaan teknologi, lembaga pendidikan, media, keluarga, dan masyarakat harus bekerja sama membangun ekosistem digital yang aman.
Teknologi harus tetap berada di bawah kendali manusia. Kecepatan inovasi tidak boleh membuat manusia melupakan hak, keadilan, keamanan, dan martabat sesama.
*Penutup*
Kemampuan teknologi dalam meniru manusia merupakan salah satu pencapaian besar pada era kecerdasan buatan. Teknologi dapat menciptakan gambar, suara, tulisan, dan video yang semakin menyerupai karya manusia. Namun, kecanggihan tersebut juga menghadirkan tantangan baru berupa penipuan, manipulasi identitas, penyebaran informasi palsu, dan krisis kepercayaan.
Dalam perspektif Estetika Humanisme, teknologi harus dinilai tidak hanya dari kecanggihannya, tetapi juga dari nilai, tujuan, dan dampaknya bagi manusia. Teknologi yang indah adalah teknologi yang membantu manusia berkembang, menghormati martabat, dan memberikan manfaat bagi kehidupan.
Manusia tidak perlu menolak perkembangan AI. Hal yang perlu dilakukan adalah mengarahkannya dengan etika, literasi, empati, dan tanggung jawab. AI dapat meniru wajah, suara, bahasa, dan karya manusia, tetapi AI tidak memiliki nurani untuk menentukan sesuatu yang benar dan salah.
Pada akhirnya, masa depan tidak hanya ditentukan oleh seberapa cerdas teknologi yang berhasil diciptakan. Masa depan juga ditentukan oleh seberapa bijaksana manusia menggunakannya.
*Teknologi mungkin mampu meniru manusia, tetapi nilai kemanusiaan tetap hanya dapat dijaga oleh manusia itu sendiri.*
