Ketika AI Semakin Pintar, Apakah Manusia Semakin Kritis?, Menjaga Human Literacy di Era Kecerdasan Buatan
(Ilustrasi AI/Foto: ist)
Jus – Mahasiswa Universitas Siber Asia
ZTV - Kecerdasan buatan generatif kini hadir sangat dekat dengan kehidupan mahasiswa. Dalam hitungan detik, teknologi ini dapat menjelaskan konsep, merangkum bacaan, menyusun kerangka tulisan, menerjemahkan bahasa, bahkan membantu mencari alternatif penyelesaian suatu persoalan. Pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu berjam-jam dapat diselesaikan jauh lebih cepat.
Kemudahan tersebut tentu membawa manfaat, tetapi juga melahirkan pertanyaan yang tidak kalah penting: ketika AI semakin mampu memberikan jawaban, apakah manusia masih bersedia menjalani proses berpikir?
Pertanyaan ini tidak dimaksudkan untuk menolak perkembangan teknologi. AI telah menjadi bagian dari perubahan besar yang dibawa oleh Revolusi Industri 4.0.
Teknologi seperti artificial intelligence, big data, cloud computing, dan Internet of Things telah mengubah cara manusia bekerja, belajar, berkomunikasi, dan mengambil keputusan. Namun, Society 5.0 mengingatkan bahwa kemajuan teknologi seharusnya tetap menempatkan manusia sebagai pusatnya.
Teknologi digunakan untuk membantu menyelesaikan persoalan sosial dan meningkatkan kualitas hidup, bukan membuat manusia kehilangan peran, kebebasan berpikir, serta tanggung jawabnya.
AI sebagai Alat Bantu atau Jalan Pintas?
Penggunaan AI dalam pendidikan sebenarnya memiliki potensi yang besar. Chan dan Hu (2023), melalui penelitian terhadap 399 mahasiswa, menemukan bahwa mahasiswa memandang AI generatif secara cukup positif. Teknologi ini dinilai dapat membantu proses brainstorming, penulisan, penelitian, analisis, serta pembelajaran yang lebih personal. Namun, para mahasiswa juga menyampaikan kekhawatiran mengenai akurasi informasi, privasi, persoalan etika, integritas akademik, dan dampaknya terhadap perkembangan kemampuan pribadi.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa persoalan utama tidak terletak pada keberadaan AI, melainkan pada cara manusia menggunakannya. AI dapat menjadi teman belajar ketika mahasiswa tetap membaca, bertanya, membandingkan sumber, dan menguji kembali jawaban yang diperoleh. Sebaliknya, AI berubah menjadi jalan pintas ketika seluruh proses berpikir diserahkan kepada mesin, sedangkan pengguna hanya menerima dan menyalin hasilnya.
Sebagai mahasiswa, godaan untuk memakai AI sebagai jalan tercepat sangat mudah dipahami. Tekanan tugas, keterbatasan waktu, dan tuntutan untuk menghasilkan tulisan yang rapi sering membuat jawaban instan terasa menarik. Masalahnya, proses pendidikan tidak hanya dinilai dari hasil akhir.
Pendidikan juga membentuk cara seseorang memahami masalah, menyusun alasan, mempertimbangkan pandangan yang berbeda, serta bertanggung jawab atas pendapatnya. Ketika proses tersebut dilewati, tulisan mungkin terlihat baik, tetapi kemampuan penulisnya belum tentu ikut berkembang.
Penelitian Essel et al. (2024) terhadap mahasiswa menunjukkan bahwa penggunaan ChatGPT dapat memengaruhi keterampilan berpikir kritis, kreatif, dan reflektif. Temuan ini memberi pesan bahwa AI memang dapat mendukung kemampuan kognitif apabila ditempatkan di dalam rancangan pembelajaran yang tepat. Artinya, teknologi tidak otomatis melemahkan atau memperkuat daya pikir.
Hasilnya sangat bergantung pada tujuan, cara penggunaan, dan sejauh mana pengguna tetap terlibat dalam proses intelektualnya.
Berpikir Kritis Tidak Bisa Digantikan Mesin
Materi HOTS dan LOTS menjelaskan bahwa kemampuan berpikir manusia memiliki beberapa tingkatan. LOTS mencakup kemampuan mengingat, memahami, dan menerapkan informasi. Sementara itu, HOTS menuntut kemampuan menganalisis, mengevaluasi, dan menciptakan. Seseorang yang hanya mampu mengulang jawaban belum tentu dapat menilai apakah jawaban tersebut benar, relevan, dan sesuai dengan persoalan yang sedang dihadapi.
Kehadiran AI justru membuat kemampuan berpikir tingkat tinggi semakin penting. Jawaban AI dapat terdengar meyakinkan meskipun mengandung kesalahan, informasi yang tidak lengkap, sumber yang tidak tepat, atau sudut pandang yang bias. Karena itu, pengguna tetap harus bertanya: dari mana informasi ini berasal, apakah argumennya masuk akal, apakah ada data yang mendukung, dan apakah terdapat penjelasan lain yang perlu dipertimbangkan?
Lee dan Low (2024) menunjukkan bahwa AI dapat digunakan untuk memperkuat kemampuan berpikir kritis ketika mahasiswa dilatih untuk mengevaluasi, memperbaiki, dan mempertanyakan hasil yang diberikan oleh AI.
Dalam kegiatan pembelajaran yang mereka bahas, mahasiswa tidak diminta sekadar memperoleh jawaban dari ChatGPT, tetapi menilai kualitas jawaban tersebut melalui kerangka berpikir kritis dan pemikiran sistem. Setelah mengikuti proses itu, mahasiswa merasa lebih sadar dan lebih strategis dalam menggunakan AI untuk belajar.
Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan memberi perintah atau prompt saja belum cukup. Pengguna AI juga harus memahami masalah, memiliki pengetahuan dasar, dan mampu menilai hasilnya. Tanpa kemampuan tersebut, manusia mudah menjadi penerima jawaban yang pasif. Ia terlihat produktif, tetapi sebenarnya semakin bergantung pada sistem yang tidak selalu dapat menjelaskan dasar pengambilan jawabannya secara utuh.
Human Literacy sebagai Penjaga Arah
Estetika Humanisme memandang teknologi berdasarkan manfaatnya bagi manusia. Kemajuan tidak hanya diukur dari kecepatan, efisiensi, atau kemampuan menghasilkan sesuatu, tetapi juga dari kemampuannya menjaga martabat, kebebasan, tanggung jawab, dan perkembangan manusia. Inilah alasan human literacy dibutuhkan saat AI semakin banyak digunakan.
Human literacy mengingatkan bahwa manusia mempunyai sesuatu yang tidak cukup digantikan oleh kecepatan komputasi. Manusia mampu memahami pengalaman hidup, merasakan empati, mempertimbangkan kepatutan, menilai dampak suatu tindakan, dan mengambil keputusan berdasarkan tanggung jawab moral. AI dapat menyusun kalimat tentang kesedihan, tetapi tidak mengalami kesedihan. AI dapat menjelaskan empati, tetapi tidak menjalani hubungan antarmanusia.
AI dapat memberikan banyak pilihan, tetapi manusia tetap harus menentukan pilihan yang layak dilakukan.
UNESCO menegaskan bahwa penggunaan AI generatif dalam pendidikan harus memakai pendekatan yang berpusat pada manusia. Penggunaannya perlu bersifat etis, aman, adil, dan bermakna. UNESCO juga mengingatkan bahwa perkembangan AI bergerak lebih cepat daripada kemampuan banyak lembaga pendidikan dan pemerintah dalam menyiapkan aturan, perlindungan data, serta desain pembelajaran yang sesuai. Oleh sebab itu, manusia tidak cukup hanya belajar menggunakan AI, tetapi juga perlu memahami risiko dan batasnya.
Di Indonesia, prinsip serupa tercantum dalam Surat Edaran Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 9 Tahun 2023 tentang Etika Kecerdasan Artifisial.
Pedoman tersebut menempatkan kemanusiaan, inklusivitas, keamanan, aksesibilitas, transparansi, kredibilitas, akuntabilitas, dan perlindungan data pribadi sebagai prinsip penting dalam penyelenggaraan AI. Informasi yang dihasilkan AI harus dapat dipercaya dan dipertanggungjawabkan sebelum disebarkan kepada publik.
Menggunakan AI tanpa Kehilangan Diri
Penggunaan AI yang manusiawi dimulai dari kesadaran bahwa tanggung jawab akhir tetap berada pada pengguna. Mahasiswa perlu memulai pekerjaan dengan pertanyaan dan pemikirannya sendiri. AI dapat membantu mengembangkan ide, tetapi arah pembahasan sebaiknya tetap ditentukan oleh manusia. Dengan cara ini, AI berfungsi sebagai teman berdiskusi, bukan pengganti pikiran.
Setiap hasil yang diberikan AI juga perlu diperiksa. Nama penulis, tahun penerbitan, data, kutipan, dan alamat sumber tidak boleh langsung dianggap benar. Pengguna harus membuka sumber aslinya, membaca bagian yang relevan, lalu memastikan bahwa informasi tersebut tidak dipotong dari makna sebenarnya. Kebiasaan memeriksa sumber inilah yang membedakan penggunaan teknologi secara kritis dengan sekadar menerima jawaban otomatis.
Pengendalian diri juga mempunyai peran penting. Zhou et al. (2024) menempatkan regulasi diri dalam penggunaan AI sebagai unsur yang berkaitan dengan kemampuan berpikir kritis dan memecahkan masalah. Mahasiswa harus mampu menentukan kapan AI diperlukan, bagian mana yang boleh dibantu, serta bagian mana yang harus tetap dikerjakan melalui usaha sendiri. Tanpa pengendalian tersebut, kemudahan AI berisiko berubah menjadi ketergantungan.
Kejujuran akademik juga tidak boleh diabaikan. Apabila AI digunakan untuk membantu penyusunan tugas, penggunaannya perlu mengikuti aturan lembaga pendidikan dan, bila diminta, dinyatakan secara terbuka. Transparansi tidak mengurangi nilai sebuah pekerjaan. Sebaliknya, keterbukaan menunjukkan bahwa penulis memahami batas penggunaan teknologi dan berani bertanggung jawab atas hasil akhirnya.
Kemampuan manusia tetap dibutuhkan bahkan ketika penguasaan AI semakin penting. Future of Jobs Report 2025 menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap keterampilan AI, big data, dan keamanan siber akan meningkat dengan cepat. Pada saat yang sama, dunia kerja tetap membutuhkan kemampuan manusia seperti berpikir analitis, kreativitas, ketahanan, fleksibilitas, kepemimpinan, dan kolaborasi. Masa depan tidak hanya membutuhkan manusia yang mampu mengoperasikan teknologi, tetapi manusia yang dapat berpikir dan bekerja bersama teknologi secara bertanggung jawab.
Teknologi yang Memperkuat Manusia
AI tidak perlu diposisikan sebagai musuh pendidikan. Melarangnya sepenuhnya juga tidak selalu realistis karena teknologi ini akan terus berkembang dan digunakan dalam kehidupan profesional. Hal yang lebih penting adalah membentuk kebiasaan penggunaan yang sehat. Mahasiswa perlu diajak memakai AI untuk membuka pertanyaan, membandingkan pandangan, memperoleh umpan balik, dan menguji gagasan, bukan sekadar menghasilkan jawaban akhir.
Ketika AI digunakan dengan cara tersebut, teknologi dapat memperluas kemampuan manusia. Waktu yang sebelumnya habis untuk pekerjaan mekanis dapat digunakan untuk membaca lebih dalam, berdiskusi, menilai argumen, dan menciptakan gagasan baru. Namun, manfaat itu hanya muncul jika manusia tetap menjadi pengarah prosesnya.
Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu diajukan bukan apakah AI lebih pintar daripada manusia. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah manusia masih mau berpikir, belajar, dan bertanggung jawab ketika teknologi mampu menyediakan banyak kemudahan. Kecerdasan buatan dapat menghasilkan jawaban, tetapi manusia tetap harus menentukan arti, nilai, dan tujuan dari jawaban tersebut.
Kemajuan teknologi akan terasa indah apabila membuat manusia lebih mampu memahami kehidupan dan membantu sesamanya. Inilah inti Estetika Humanisme di era AI. Teknologi harus memperkuat kemanusiaan, bukan perlahan-lahan menghilangkan keberanian manusia untuk menggunakan pikirannya sendiri.
Daftar Pustaka
Chan, C. K. Y., & Hu, W. (2023). Students’ voices on generative AI: Perceptions, benefits, and challenges in higher education. International Journal of Educational Technology in Higher Education, 20, Article 43. https://doi.org/10.1186/s41239-023-00411-8
Essel, H. B., Vlachopoulos, D., Essuman, A. B., & Amankwa, J. O. (2024). ChatGPT effects on cognitive skills of undergraduate students: Receiving instant responses from AI-based conversational large language models (LLMs). Computers and Education: Artificial Intelligence, 6, Article 100198. https://doi.org/10.1016/j.caeai.2023.100198
Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia. (2023). Surat Edaran Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 9 Tahun 2023 tentang Etika Kecerdasan Artifisial.
https://jdih.komdigi.go.id/produk_hukum/view/id/883/t/surat%2Bedaran%2Bmenteri%2Bkomunikasi%2Bdan%2Binformatika%2Bnomor%2B9%2Btahun%2B2023
Lee, C. C., & Low, M. Y. H. (2024). Using genAI in education: The case for critical thinking. Frontiers in Artificial Intelligence, 7, 1452131.
https://doi.org/10.3389/frai.2024.1452131
Miao, F., & Holmes, W. (2023). Guidance for generative AI in education and research. UNESCO. https://unesdoc.unesco.org/ark:/48223/pf0000386693
Rosanah, S. S. HOTS and LOTS: Higher order thinking and low order thinking skills [Materi presentasi]. Universitas Siber Asia.
Rosanah, S. S. Industry 4.0 & Society 5.0 [Materi presentasi]. Universitas Siber Asia.
World Economic Forum. (2025). The future of jobs report 2025.
https://www.weforum.org/publications/the-future-of-jobs-report-2025/
Zhou, X., Teng, D., & Al-Samarraie, H. (2024). The mediating role of generative AI self-regulation on students’ critical thinking and problem-solving. Education Sciences, 14(12), 1302. https://doi.org/10.3390/educsci14121302
