Ketika “Healing” Kehilangan Makna:Membaca Ulang Budaya Self-Healing Gen Z
(Ilustrasi AI)
melalui Lensa Psikologi Humanistik
Oleh: Titi Bidawati – Mahasiswa Universitas Siber Asia
ZTV - Dalam kurun waktu belakangan ini, istilah healing telah menjadi salah satu kosakata yang paling sering muncul pada linimasa media sosial generasi muda, khususnya Generasi Z. Unggahan bertema solo travelling ke destinasi alam, staycation pada akhir pekan, maupun aktivitas journaling yang didokumentasikan dengan pencahayaan dan komposisi visual tertentu, seluruhnya kerap diberi label serupa: healing.
Fenomena tersebut sesugguhnya tidak dapat diredukasi sekadar sebagai tren gaya hidup semata, mengingat sejumlah kajian mutakhir mengindikasikan bahwa makna healing telah mengalami pergeseran signifikan, dari kebutuhan psikologis yang otentik menjadi konstruksi identitas gaya hidup, bahkan komoditas yang diperdagangkan melalui kelas berbayar bertema pelepasan trauma maupun terapi terhadap diri masa kecil.
Persoalan yang layak dikemukakan kemudian adalah apakah fenomena tersebut sungguh-sungguh merepresentasikan kebutuhan mendasar manusia untuk memulihkan diri dan bertumbuh, ataukah sekedar ruang baru bagi individu untuk menampilkan kesan “seolah telah pulih” di hadapan khalayak. Pertanyaan inilah yang hendak ditelaah melalui kerangka berpikir Psikologi Humanistik.
Psikologi Humanistik: Pandangan terhadap Manusia sebagai Entitas yang utuh Psikologi Humanistik pada mulanya muncul sebagai bentuk kritik terhadap dua aliran psikologi yang lebih dahulu mapan. Aliran psikoanalisis cenderung memosisikan manusia sebagai makhluk yang digerakkan oleh dorongan dorogan bahwa sadar, sementara aliran behaviorisme memandang manusia semata sebagai hasil dari relasi stimulasi dan respons terhadap lingkungan sekitarnya. Berbeda dari kedua pendekatan tersebut, aliran humanistik, yang digagas antara lain oleh Abraham Maslow dan Carl Rogers, memandang manusia sebagai subjek yang utuh, memiliki kehendak bebas, serta memiliki kecenderungan alamiah untuk berkembang menuju potensi terbaik dari dirinya, yang lazim disebut sebagai aktualisasi diri.
Maslow merumuskan gagasan tersebut melalui susunan hierarki kebutuhan manusia, di mana aktualisasi diri ditempatkan pada puncak hirearki sebagai kebutuhan tertinggi yanng hanya dapat dicapai secara bermakna setelah kebutuhan-kebutuhan yang lebih mendasar, seperti kebutuhan akan rasa aman dan rasa memiliki, terpenuhi secara memadai. Sementara itu Rogers mengajukan konsep kongruensi (congruence), yaitu keselarasan antara diri yang sesungguhnya dihayati oleh seseorang (real self) dengan citra diri yang hendak dicapai atau ditampilkan kepada pihak lain (ideal self).
Menurut Rogers, persoalan psikologis pada dasarnya bersumber dari melebarnya jarak antara kedua konstruk tersebut, sedangkan proses pemulihan yanng otentik hanya dapat berlangsung melalui penerimaan tanpa syarat terhadap diri sendiri, baik yang bersumber dari lingkungan sosial maupun dari individu itu sendiri, yang disebutnya sebagai uncoditional positive regard.
Healing di Ruang Digital: antara Aktualisasi Diri dan Simulasi Kesembuhan
Apabila ditinjau melalui kerangka Maslow, meluasnya keterbukaan generasi muda dalam membicarakan kondisi psikologisnya pada dasarnya dapat dimaknai sebagai perkembangan yang positif. Generasi Z tampak jauh lebih terbuka membahas kesehatan mental dibandingkan generasi-generasi sebelumnya, sekaligus mulai menyadari bahwa menyadari bahwa menjaga kondisi psikologis bukan sekedar kebutuhan tersier, melainkan bagian dari kebutuhan yang lebih tinggi dalam hirearki kesejahteraan manusia. Keterbukaan tersebut selaras dengan semangat humanistik yang menempatkan pertumbuhan psikologis sebagai hak setiap individu, bukan sesuatu yang harus disembunyikan.
Akan tetapi, dititik inilah persoalan yang lebih mendasar mulai tampak. Ketika praktik healing dijalankan dengan oreintasi pada tampilan visual, dirancang agar terlihat menarik secara estetika, kemudian dipublikasikan demi memperoleh apresiasi berupa tanda suka maupun komentar, maka yang sesungguhnya berlangsung bukan lagi proses pemulihan batin, melainkan pergeseran dari real self menuju ideal self yang justru semakin diajuhkan. Dalam kerangka pemikiran Rogers, kondisi tersebut dapat dipahami sebagai bentuk incrogruence baru; individu tidak berupaya jujur terhadap kondisi emosionalnya yang sesungguhnya, melainkan berupaya membangun citra sebagai “sosok yang sedang menjalani proses penyembuhan’ demi memenuhi ekspetasi sosial di ruang digital.
Alih-alih memperoleh unconditional positive regard dari dirinya sendiri, individu justru terjebak pada penerimaan bersyarat (conditional positive regard) dari algoritma dan audiens media sosial, yang hanya memberikan apresiasi apabila healing tersebut dikemas secara menarik dan estetis.
Fenomena tersebut turut melahirkan gejala yang oleh sejumlah pengamat disebut sebagai toxic positivy, yaitu kecenderungan untuk senantiasa menampilkan afirmasi dan kebahagiaan, sembari menekan menyangkal emosi negatif yang sesungguhnya sedang dialami. Padahal, apabila merujuk kembali pada gagasan inti humanistik, pertumbuhan psikologis yang sehat justru mensyaratkan penerimaan penuh terhadap seluruh spektrum pengalaman manusia, termasuk kesedihan, kemarahan, dan kegagalan, bukan penyangkalan terhadapnya demi mempertahankan citra yang tampak baik-baik saja.
Kritik: Healing sebagai Komodifikasi, Bukan Aktualisasi
Secara kritis, dapat dikemukakan bahwa sebagian besar praktik healing di ruang digital dewasa ini tenngah mengalami apa yang dapat disebut sebagai komodifikasi luka batin. Ketika proses penyembuhan psikologis dikemas menjadi produ yang dapat diperjual belikan, mulai dari kelas berbayar, merchandise bertema penerimaan diri, sehingga destinasi wisata yang memasarkan dirinya sebagai lokasi healing, maka proses aktualisasi diri yang seharusnya bersifat intrinsik dan personal berubah menjadi aktivitas konsumtif yanng bersifat ekstrinsik.
Kecendrungan tersebut secara mendasar bertentangan dengan gagasan Maslow, yang menegaskan bahwa aktualisasi diri tidak dapat dibeli maupun dipercepat melalui konsumsi, melainkan harus ditempuh melalui proses reflektif dan pemenuhan kebutuhan psikologis yang autentik.
Meskipun demikian, uraian ini tidak dimaksudkan untuk menegasikan seluruh fenomena healing sebagai sesuatu yang semata negatif. Terdapat pula bentuk-bentuk healing yang tetap selaras dengan prinsip humanistik, misalnya ketika seseorang menggunakan waktunya untuk journaling secara privat tanpa berorientasi pada publikasi, atau memilih terapi profesional sebagai ruang aman untuk memahami real self-nya tanpa tekanan validasi sosial.
Titik pembeda yang paling menentukan bukan terletak pada bentuk aktivitasnya, melainkan pada orientasi dan kejujuran motif yang melandasinya: apakah healing tersebut dilakukan untuk benar benar didengar oleh diri sendiri, ataukah didengar dan divalidasi oleh pihak lain.
Penutup: Kembali pada Keujujuran terhadap Diri
Psikologi Humanistik mengajarkan bahwa jalan menuju kesejahteraan psikologis bukanlah jalan yang instan maupun performatif, melainkan proses yang menuntut kejujuran dalam menerima diri apa adanya. Fenomena healing culture di kalangan Generasi Z pada dasarnya merupakan cerminan dari kebutuhan psikologis yang sah dan manusiawi, namun berisiko kehilangan maknanya yang paling esensial ketika bergeser menjadi sekedar tontonan dan komoditas digital. Oleh karena itu tantangan generasi muda hari ini bukan lagi soal bagaimana melakukan healing, melainkan bagaimana melakukanya dengan jujur, yaitu berani menerima real self tanpa syarat, tanpa perlu menunggu validasi dari layar dan filter media sosial, sebab pada titik itulah aktualisasi diri yang sesungguhnya, sebagaimana digagas oleh para pemikir humanistik, benar benar terjadi.
