Anger Management di Era Media Sosial: Belajar Mengendalikan Emosi Sebelum Menyesal
(ilustarasi/Foto: ist)
Oleh : MARIANO HENRIQUES DA COSTA - Mahasiswa Universitas Siber Asia
ZTV - Saat ini media sosial sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Hampir setiap hari kita melihat berita, video, atau komentar yang kadang membuat emosi. Banyak orang langsung marah dan menulis komentar tanpa berpikir panjang. Tidak sedikit juga yang akhirnya bertengkar hanya karena perbedaan pendapat.
Menurut saya, kemampuan mengendalikan amarah atau anger management sangat penting dimiliki oleh setiap orang, terutama generasi muda. Marah adalah hal yang wajar karena semua manusia memiliki perasaan. Namun, yang lebih penting adalah bagaimana kita mengendalikan kemarahan itu agar tidak menyakiti diri sendiri maupun orang lain.
Sebagai orang yang berasal dari Timor-Leste, saya belajar bahwa kehidupan masyarakat mengajarkan pentingnya saling menghormati dan menjaga hubungan baik. Walaupun ada perbedaan pendapat, persoalan sebaiknya diselesaikan dengan berbicara baik-baik. Orang tua sering mengingatkan bahwa emosi yang tidak dikendalikan hanya akan membawa penyesalan.
Fenomena yang sering terjadi sekarang adalah banyak orang mudah terpancing oleh informasi yang belum tentu benar. Ada juga yang membuat konten hanya untuk mencari perhatian sehingga memancing kemarahan orang lain. Jika kita tidak mampu mengendalikan emosi, kita bisa ikut menyebarkan kebencian dan memperbesar konflik.
Dalam perspektif Humanisme, setiap manusia memiliki martabat yang harus dihargai. Karena itu, saat marah kita tetap harus menjaga cara berbicara dan menghormati orang lain. Mengendalikan emosi bukan berarti lemah, tetapi menunjukkan bahwa seseorang memiliki kedewasaan dan mampu berpikir dengan jernih.
Ada beberapa cara sederhana untuk mengelola amarah, seperti menarik napas dalam-dalam, tidak langsung membalas komentar yang membuat emosi, berdoa, berbicara dengan orang yang dipercaya, atau meninggalkan situasi sejenak sampai pikiran menjadi lebih tenang. Cara-cara sederhana ini sering kali lebih efektif daripada melampiaskan kemarahan.
Sebagai mahasiswa, saya percaya bahwa ilmu pengetahuan harus berjalan bersama dengan sikap yang baik. Nilai yang tinggi tidak akan berarti jika seseorang tidak mampu mengendalikan emosinya. Oleh karena itu, anger management merupakan bekal penting untuk kehidupan di kampus, di tempat kerja, maupun di tengah masyarakat.
Kesimpulannya, marah adalah bagian dari kehidupan, tetapi kita memiliki pilihan bagaimana menyikapinya. Dengan mengendalikan emosi, kita dapat membangun hubungan yang lebih baik, menyelesaikan masalah dengan damai, dan menjadi pribadi yang lebih dewasa. Saya berharap semakin banyak anak muda yang menggunakan media sosial untuk menyebarkan hal-hal positif, bukan kemarahan dan kebencian.
