AI Menulis Skripsimu, Tapi Siapa yang Benar-BenarBelajar? Menyoal Estetika Humanisme di Tengah Otomatisasi Kampus
Oleh :
Masryani sinurat - Mahasiswa Universitas Siber Asia
Abstrak
Perkembangan Artificial Intelligence (AI) generatif seperti ChatGPT telah mengubah secara
signifikan cara mahasiswa menyelesaikan tugas akademik, mulai dari makalah harian hingga
penulisan esai ilmiah. Kekhawatiran akan dampak kognitif dari ketergantungan ini bukan lagi
sekadar spekulasi, melainkan telah dibuktikan secara empiris melalui studi MIT Media Lab
bertajuk “Your Brain on ChatGPT” (Kosmyna dkk., 2025), yang menemukan fenomena
cognitive debt atau “utang kognitif” pada partisipan yang menulis esai dengan bantuan AI.
Studi ini menjadi viral secara global dan diberitakan luas oleh media besar seperti TIME,
CNN, dan The Hill. Artikel ini menganalisis temuan tersebut melalui empat kerangka:
transformasi teknologi dalam konteks Industry 4.0 dan Society 5.0, penguatan human
literacy sebagai kompetensi fundamental mahasiswa, dinamika Higher Order Thinking Skills
(HOTS) dan Lower Order Thinking Skills (LOTS) dalam interaksi mahasiswa dengan AI, serta
perspektif estetika humanisme sebagai kerangka reflektif untuk memaknai relasi antara
manusia dan teknologi dalam pendidikan. Hasil analisis menunjukkan bahwa penggunaan AI
yang bersifat konsumtif-pasif berpotensi mereduksi keterlibatan kognitif dan kemampuan
berpikir kritis mahasiswa, sementara penggunaan yang generatif-reflektif justru dapat
memperkuat penalaran tingkat tinggi. Artikel ini merekomendasikan perlunya kesadaran
kolektif dari mahasiswa dan institusi pendidikan untuk memposisikan AI sebagai mitra
dialogis dalam belajar, bukan sebagai pengganti proses berpikir itu sendiri.
Kata kunci: Artificial Intelligence, pola belajar mahasiswa, Society 5.0, human literacy,
berpikir kritis, estetika humanisme
Abstract
The rapid development of generative Artificial Intelligence (AI) such as ChatGPT has
significantly changed the way university students complete academic tasks, from daily
assignments to scholarly essay writing. Concerns about the cognitive impact of this
dependence are no longer mere speculation; they have been empirically demonstrated
through the MIT Media Lab study titled “Your Brain on ChatGPT” (Kosmyna et al., 2025),
which identified a phenomenon known as cognitive debt among participants who wroteessays with AI
assistance. The study went viral worldwide and was widely covered by major
outlets such as TIME, CNN, and The Hill. This article analyzes these findings through four
frameworks: technological transformation within the context of Industry 4.0 and Society 5.0,
the strengthening of human literacy as a fundamental student competence, the dynamics of
Higher Order Thinking Skills (HOTS) and Lower Order Thinking Skills (LOTS) in students’
interaction with AI, and the perspective of humanist aesthetics as a reflective framework for
understanding the relationship between humans and technology in education. The analysis
shows that consumptive-passive use of AI has the potential to reduce cognitive
engagement and students’ critical thinking abilities, whereas generative-reflective use can
instead strengthen higher-order reasoning. This article recommends the need for collective
awareness among students and educational institutions to position AI as a dialogical partner
in learning, rather than a substitute for the thinking process itself.
Keywords: Artificial Intelligence, students’ learning patterns, Society 5.0, human literacy,
critical thinking, humanist aesthetics
Pendahuluan
Dunia pendidikan tinggi saat ini tengah menghadapi tantangan baru seiring pesatnya
perkembangan Artificial Intelligence (AI) generatif. Kehadiran AI seperti ChatGPT, Gemini,
dan berbagai model bahasa besar (large language model) lainnya telah mengubah cara
mahasiswa mencari informasi, menyusun tugas, hingga menulis karya ilmiah. Berbagai
laporan media edukasi menyebutkan bahwa AI kini digunakan secara luas oleh mahasiswa
untuk membantu menyusun outline skripsi, merangkum jurnal berbahasa asing, hingga
menghasilkan ide topik penelitian hanya dalam hitungan detik.
Kekhawatiran mengenai dampak jangka panjang dari ketergantungan ini kini memiliki dasar
bukti yang kuat. Pada Juni 2025, tim peneliti dari MIT Media Lab yang dipimpin oleh Nataliya
Kosmyna mempublikasikan studi berjudul “Your Brain on ChatGPT: Accumulation of
Cognitive Debt when Using an AI Assistant for Essay Writing Task”. Penelitian ini melibatkan
54 partisipan berusia 18–39 tahun dari lima universitas di kawasan Boston, yang dibagi ke
dalam tiga kelompok: kelompok pengguna AI (ChatGPT), kelompok pengguna mesin
pencari, dan kelompok yang menulis tanpa bantuan alat apa pun (“otak saja”).
Menggunakan teknologi pemantauan aktivitas otak (electroencephalography/EEG), para
peneliti menemukan bahwa kelompok pengguna AI menunjukkan keterlibatan kognitif
(cognitive engagement) yang jauh lebih rendah dibandingkan dua kelompok lainnya,
kesulitan mengingat kembali kutipan dari esai yang mereka tulis sendiri, serta merasa
memiliki rasa kepemilikan (ownership) yang lebih rendah terhadap karya tersebut. Yang
lebih mengejutkan, efek penurunan keterlibatan kognitif ini tetap bertahan bahkan setelah
partisipan berhenti menggunakan AI—sebuah fenomena yang oleh para peneliti disebutsebagai cognitive
debt atau “utang kognitif”.
Studi ini dengan cepat menjadi viral dan diberitakan oleh berbagai media arus utama
internasional, termasuk TIME, CNN, dan The Hill, yang menyoroti temuan bahwa
penggunaan ChatGPT berpotensi mengikis kemampuan berpikir kritis. Meski demikian,
penting dicatat bahwa studi ini masih berbentuk pracetak (preprint) di arXiv dan belum
melalui proses tinjauan sejawat (peer review) secara penuh, sehingga sejumlah akademisi—
termasuk peneliti dari The Conversation—mengingatkan bahwa temuan tersebut perlu
dibaca secara hati-hati dan tidak serta-merta disimpulkan sebagai bukti definitif bahwa AI
“merusak otak”, mengingat desain studi memiliki keterbatasan, termasuk jumlah partisipan
yang relatif kecil dan durasi observasi yang singkat.
Terlepas dari perdebatan metodologis tersebut, studi MIT ini tetap menjadi salah satu bukti
empiris paling konkret hingga saat ini mengenai bagaimana interaksi mahasiswa dengan AI
generatif dapat memengaruhi kualitas proses berpikir mereka. Fenomena ini relevan untuk
dikaji lebih lanjut melalui empat kerangka analisis: pertama, kerangka Industry 4.0 dan
Society 5.0, yang menjelaskan konteks makro transformasi teknologi dalam pendidikan;
kedua, human literacy, sebagai kompetensi fundamental yang menentukan bagaimana
mahasiswa memaknai penggunaan AI; ketiga, dinamika Higher Order Thinking Skills (HOTS)
dan Lower Order Thinking Skills (LOTS), sebagai indikator kualitas proses berpikir
mahasiswa; dan keempat, perspektif estetika humanisme, sebagai kerangka filosofis untuk
menilai apakah pemanfaatan AI dalam pendidikan telah memuliakan atau justru mereduksi
nilai-nilai kemanusiaan mahasiswa sebagai pembelajar.
Analisis
Artikel ini disusun melalui pendekatan analisis kualitatif berbasis studi kepustakaan (library
research) yang berpijak pada temuan empiris studi Kosmyna dkk. (2025) dari MIT Media Lab
sebagai data utama, dilengkapi dengan literatur akademik pendukung berupa jurnal ilmiah
nasional dan internasional yang membahas dampak AI generatif terhadap pembelajaran dan
berpikir kritis di pendidikan tinggi.
Analisis dilakukan dengan mengaitkan temuan studi tersebut dengan empat kerangka
konseptual yang telah disebutkan di bagian pendahuluan, kemudian dimaknai lebih lanjut
melalui perspektif estetika humanisme sebagai pisau analisis utama. Pendekatan ini dipilih
karena tujuan artikel bukan sekadar melaporkan hasil satu penelitian, melainkan memahami
makna dan implikasi yang lebih luas dari temuan tersebut terhadap pola belajar mahasiswa
di era digital, sekaligus menempatkannya secara proporsional dengan mempertimbangkan
keterbatasan metodologis yang melekat pada studi tersebut.Pembahasan
AI dalam Kerangka Industry 4.0 dan Society 5.0
Fenomena ketergantungan mahasiswa terhadap AI tidak dapat dilepaskan dari dua kerangka
besar transformasi teknologi yang saling berkesinambungan. Industry 4.0 menempatkan
otomatisasi dan kecerdasan buatan sebagai motor penggerak efisiensi di berbagai sektor,
termasuk pendidikan tinggi—termanifestasi melalui hadirnya AI generatif yang mampu
menyusun ringkasan materi, menjawab pertanyaan kompleks, hingga membantu penulisan
esai dalam hitungan detik, sebagaimana dimanfaatkan oleh partisipan kelompok AI dalam
studi MIT tersebut.
Namun, Society 5.0 hadir sebagai koreksi paradigmatik yang menempatkan manusia kembali
sebagai pusat dari transformasi teknologi tersebut. Dalam konteks pendidikan, hal ini berarti
mahasiswa tidak cukup hanya mahir menggunakan teknologi, tetapi juga dituntut memiliki
kesadaran kritis dan etis dalam memanfaatkannya. Temuan bahwa kelompok pengguna AI
dalam studi Kosmyna dkk. menunjukkan keterlibatan kognitif yang jauh lebih rendah dapat
dibaca sebagai bukti empiris atas risiko nyata ketika efisiensi teknologi Industry 4.0 tidak
diimbangi dengan orientasi kemanusiaan Society 5.0: kecepatan menyelesaikan tugas
diperoleh, namun keterlibatan berpikir yang mendalam berkurang.
Human Literacy sebagai Fondasi Ketahanan Kognitif
Human literacy, atau literasi manusia, merujuk pada kemampuan memahami diri sendiri,
berpikir reflektif, serta memaknai pengalaman belajar secara mendalam—kompetensi yang
secara inheren sulit tergantikan oleh mesin secanggih apa pun. Temuan menarik dari studi
MIT adalah rendahnya rasa kepemilikan (ownership) yang dirasakan partisipan kelompok AI
terhadap esai yang mereka “tulis” sendiri, serta kesulitan mereka mengingat kembali kutipan
dari tulisan tersebut. Temuan ini mengindikasikan bahwa ketika AI mengambil alih terlalu
banyak proses berpikir, mahasiswa kehilangan koneksi personal dan reflektif terhadap hasil
belajarnya sendiri—sebuah gejala melemahnya human literacy.
Menariknya, studi tersebut juga menemukan hal yang memberi harapan: pada sesi keempat,
ketika kelompok yang sebelumnya menulis “dengan otak saja” beralih menggunakan AI,
mereka menunjukkan keterlibatan kognitif yang lebih tinggi dibandingkan kelompok yang
sejak awal bergantung pada AI. Temuan ini mengisyaratkan bahwa fondasi kemampuan
berpikir mandiri yang telah terbentuk sebelumnya dapat membantu mahasiswa tetap kritis
dan reflektif meski kemudian menggunakan bantuan AI—menegaskan pentingnya
membangun human literacy sejak dini, sebelum mahasiswa terpapar kemudahan AI secara
masif.
Dinamika HOTS dan LOTS dalam Interaksi Mahasiswa dengan AIAI generatif telah mampu
mengambil alih sebagian besar tugas kognitif pada ranah Lower
Order Thinking Skills (LOTS), seperti mengingat, memahami, dan sebagian menerapkan
konsep. Studi MIT secara empiris mengonfirmasi hal ini: partisipan kelompok AI cenderung
menghasilkan esai dengan pola bahasa yang homogen dan kurang orisinal dibandingkan
dua kelompok lainnya, mengindikasikan proses berpikir yang lebih dangkal.
Sebaliknya, kemampuan menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta yang merupakan ranah
Higher Order Thinking Skills (HOTS) tetap menuntut keterlibatan kognitif manusia secara
aktif. Peneliti menamai fenomena penurunan keterlibatan kognitif jangka panjang ini sebagai
cognitive debt—istilah yang menggambarkan bagaimana kemudahan jangka pendek dari AI
dapat menghasilkan biaya kognitif jangka panjang berupa penurunan kemampuan berpikir
kritis, kreativitas, dan kemandirian intelektual. Studi lain mengenai penggunaan ChatGPT di
lingkungan pendidikan tinggi turut menemukan bahwa pola interaksi yang bersifat pasif dan
sepenuhnya diarahkan AI cenderung menurunkan kemampuan evaluasi kritis mahasiswa,
sementara interaksi yang bersifat kolaboratif justru dapat memperkuat kemampuan
menyusun argumen dan berpikir reflektif—menegaskan bahwa pola interaksi, bukan
teknologi itu sendiri, yang menjadi penentu utama kualitas berpikir mahasiswa.
Estetika Humanisme: Memaknai Ulang Relasi Manusia dan AI dalam Belajar
Temuan-temuan di atas pada akhirnya bermuara pada satu pertanyaan mendasar: apakah
proses belajar yang dimediasi AI masih menyisakan ruang bagi keindahan dan
kebermaknaan pengalaman manusiawi? Estetika humanisme memandang belajar bukan
semata proses transaksional untuk memperoleh nilai atau menyelesaikan tugas secepat
mungkin, melainkan sebuah perjalanan yang melibatkan kegelisahan intelektual, proses trial
and error, kegagalan, hingga momen ditemukannya pemahaman baru secara mandiri.
Rendahnya rasa kepemilikan (ownership) yang ditemukan pada partisipan kelompok AI
dalam studi Kosmyna dkk. adalah data yang secara langsung menggambarkan hilangnya
dimensi estetis dari proses belajar: ketika sebuah karya tidak lagi terasa sebagai “milik”
penulisnya, maka nilai keindahan dan kebermaknaan personal dalam proses
menciptakannya turut memudar. Salah satu peneliti utama studi ini, Nataliya Kosmyna,
bahkan menegaskan bahwa tujuan penelitiannya bukan untuk memusuhi teknologi AI,
melainkan untuk memahami bagaimana teknologi dapat benar-benar mendukung manusia—
sebuah pandangan yang selaras dengan semangat estetika humanisme: AI idealnya
diposisikan sebagai mitra dialogis yang memperkaya proses berpikir, bukan otoritas tunggal
yang menggantikannya.
Kesimpulan
Berdasarkan analisis di atas, dapat disimpulkan bahwa pengaruh Artificial Intelligenceterhadap pola
belajar mahasiswa bersifat ambivalen, berpotensi memberdayakan sekaligus
mereduksi, tergantung pada bagaimana AI dimaknai dan digunakan. Studi MIT Media Lab
(Kosmyna dkk., 2025) memberikan bukti empiris konkret bahwa ketergantungan berlebihan
terhadap AI dalam menulis dapat menurunkan keterlibatan kognitif, rasa kepemilikan
terhadap karya, dan berpotensi menimbulkan cognitive debt jangka panjang—meski temuan
ini masih perlu ditinjau lebih lanjut mengingat statusnya sebagai studi pracetak dengan
keterbatasan metodologis.
Dalam kerangka Industry 4.0 dan Society 5.0, temuan ini menegaskan perlunya AI
diposisikan sebagai instrumen yang tetap berorientasi pada manusia, bukan sekadar alat
untuk mengejar efisiensi semata. Human literacy terbukti menjadi fondasi krusial yang
menentukan apakah mahasiswa menggunakan AI sebagai alat bantu berpikir atau justru
sebagai pengganti proses berpikir itu sendiri. Dinamika HOTS dan LOTS menunjukkan
bahwa keberhasilan mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi sangat ditentukan
oleh pola interaksi mahasiswa dengan AI, apakah bersifat generatif-reflektif atau konsumtif-
pasif. Sementara itu, perspektif estetika humanisme menegaskan bahwa proses belajar
seharusnya tidak kehilangan nilai keindahan, rasa kepemilikan, dan pergulatan intelektual
yang menjadi esensi dari pengalaman belajar itu sendiri.
Diperlukan kesadaran kolektif dari mahasiswa, dosen, dan institusi pendidikan untuk
menjaga keseimbangan antara kemajuan teknologi dan pemuliaan nilai-nilai kemanusiaan,
agar AI dapat berfungsi sebagai mitra dialogis yang memperkaya proses belajar, bukan
sebagai jalan pintas yang menggantikannya.
Daftar Pustaka
Baidoo-Anu, D., & Ansah, L. O. (2023). Education in the era of generative artificial
intelligence (AI): Understanding the potential benefits of ChatGPT in promoting teaching
and learning. Journal of AI, 7(1), 52–62.
Deguchi, A., Hirai, C., Matsuoka, H., Nakano, T., Oshima, K., Tai, M., & Tani, S. (2020). What
is Society 5.0? In Society 5.0: A People-Centric Super-Smart Society (pp. 1–23). Springer.
Facione, P. A. (1990). Critical thinking: A statement of expert consensus for purposes of
educational assessment and instruction. The California Academic Press.
Freire, P. (2000). Pedagogy of the Freedom: Ethics, Democracy, and Civic Courage.
Rowman & Littlefield.
Kosmyna, N., Hauptmann, E., Yuan, Y . T., Situ, J., Liao, X.-H., Beresnitzky, A. V ., Braunstein,
I., & Maes, P. (2025). Your brain on ChatGPT: Accumulation of cognitive debt when using an
AI assistant for essay writing task. arXiv preprint, arXiv:2506.08872.https://arxiv.org/abs/2506.08872
Mabrouk, S. (2024). The impact of using generative artificial intelligence tools (ChatGPT) on
developing critical thinking skills among university students. Social Science and Humanities
Journal, 9(8), 8773–8781. https://doi.org/10.18535/sshj.v9i08.2008
Marrone, R., & Kovanovic, V . (2025, 23 Juni). MIT researchers say using ChatGPT can rot
your brain. The truth is a little more complicated. The Conversation.
https://theconversation.com/mit-researchers-say-using-chatgpt-can-rot-your-brain-the-
truth-is-a-little-more-complicated-259450
Exploring the impact of generative AI ChatGPT on critical thinking in higher education:
Passive AI-directed use or human–AI supported collaboration? (2025). Education Sciences,
15(9), 1198. https://www.mdpi.com/2227-7102/15/9/1198
Schwab, K. (2016). The Fourth Industrial Revolution. World Economic Forum.