Komentar Toxic di Media Sosial: Cerminan Krisis Kecerdasan Emosional di Era Digital
Oleh: Ratna Maulida
Mahasiswa S1 Manajemen – Universitas Siber Asia
ZTV - Media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Platform digital memudahkan siapa pun untuk berbagi informasi, berdiskusi, hingga menyampaikan pendapat. Namun, di balik kemudahan tersebut, saya melihat munculnya fenomena budaya komentar toxic yang mencerminkan rendahnya kecerdasan emosional.
Dalam perspektif Estetika Humanisme, manusia harus diperlakukan dengan hormat. Keindahan tidak hanya tampak pada karya seni, tetapi juga melalui sikap, tutur kata, dan cara memperlakukan orang lain. Karena itu, komentar penuh kebencian bertentangan dengan nilai kemanusiaan.
Saya berpendapat bahwa akar persoalan ini bukan hanya rendahnya literasi digital, tetapi juga kurangnya kemampuan mengendalikan emosi. Banyak orang langsung bereaksi terhadap isu viral tanpa memeriksa fakta atau memikirkan dampak ucapannya.
Salah satu contohnya adalah kasus perundungan terhadap Aulia Risma Lestari. Maraknya komentar negatif dan spekulasi menunjukkan bahwa masyarakat sering kali menghakimi sebelum memahami fakta secara utuh. Menurut saya, kondisi ini menunjukkan pentingnya empati dalam bermedia sosial.
Modul Sesi 5 Estetika Humanisme menjelaskan bahwa kecerdasan emosional berkaitan dengan kemampuan mengenali, memahami, dan mengelola emosi. Mayer dan Salovey juga menjelaskan bahwa kecerdasan emosional membantu seseorang menggunakan emosi untuk membimbing pikiran dan tindakan.
Daniel Goleman menambahkan lima aspek penting, yaitu kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi, empati, dan keterampilan sosial. Kelima aspek tersebut menjadi bekal penting agar komunikasi di media sosial tetap santun dan bertanggung jawab.
Sebagai mahasiswa Manajemen, saya melihat kecerdasan emosional merupakan kompetensi penting dalam kehidupan akademik maupun dunia kerja. Kritik tetap diperlukan, tetapi harus disampaikan berdasarkan fakta, sopan, dan bertujuan memberi solusi.
Pada akhirnya, perubahan budaya bermedia sosial harus dimulai dari diri sendiri. Sebelum menulis komentar, kita perlu bertanya apakah komentar tersebut bermanfaat atau justru menyakiti orang lain. Kemajuan teknologi harus diimbangi dengan karakter, etika, dan penghargaan terhadap nilai kemanusiaan.
Daftar Pustaka Goleman, D. (1995). Emotional Intelligence: Why It Can Matter More Than IQ. Bantam Books.
Goleman, D. (1998). Working with Emotional Intelligence. Bantam Books.
Mayer, J. D., & Salovey, P. (1997). What Is Emotional Intelligence? Dalam P. Salovey & D. J. Sluyter (Eds.), Emotional Development and Emotional Intelligence: Educational Implications. Basic Books.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2024 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.
Universitas Siber Asia. (2026). Modul Pembelajaran MKU Estetika Humanisme Sesi 5: Kecerdasan Emosional. Universitas Siber Asia.
