Menjaga "Jiwa" Manusia di Era AI: Tantangan Emotional Intelligence dan Mindfulness dalam Masyarakat Digital
Oleh :
Rattri Alvina Nasution + Mahasiswa Prodi Komunikasi PJJ Universitas Siber Asia
Pendahuluan
Di era digital yang bergerak sangat cepat saat ini, fenomena kemajuan teknologi seperti Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) dan ledakan informasi di media sosial telah mengubah cara manusia berinteraksi, bekerja, dan memahami diri sendiri. Fenomena doomscrolling (kebiasaan terus-menerus membaca berita negatif di media sosial) hingga ketergantungan berlebih pada AI seperti ChatGPT dan generative tool lainnya menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.
Di satu sisi, teknologi menawarkan efisiensi tanpa batas. Namun di sisi lain, muncul krisis baru: hilangnya fokus, menurunnya kepekaan emosional, serta erosi empati antarindividu. Di sinilah letak pentingnya Estetika Humanisme, sebuah pendekatan yang menempatkan keindahan, emosi, dan martabat manusia sebagai pusat dari perkembangan zaman.
Pembahasan: Fenomena Digital dan Human Literacy
Pentingnya Emotional Intelligence di Tengah Otomatisasi
Teknologi mungkin mampu menyelesaikan perhitungan kompleks dan menghasilkan teks secara instan, tetapi teknologi tidak memiliki kesadaran emosional. Emotional Intelligence (Kecerdasan Emosional) yang mencakup kesadaran diri (self-awareness), empati, dan regulasi emosi menjadi pembeda utama antara manusia dan mesin. Fenomena perselisihan di media sosial (cyberbullying atau online conflict) sering kali bersumber dari rendahnya kecerdasan emosional pengguna dalam merespons informasi secara bijak.
Mindfulness dan Fokus sebagai Bentuk Estetika Hidup
Estetika bukan sekadar soal keindahan visual, melainkan bagaimana manusia merasakan dan menikmati keberadaannya secara utuh (mindful). Dalam dunia yang penuh dengan distraksi konstan dari notifikasi smartphone, kemampuan untuk mempraktikkan mindfulness and focus adalah bentuk estetika modern. Menjaga fokus pada hal-hal yang substantif membantu manusia terhindar dari kecemasan berlebih (anxiety) dan menjaga kesehatan mental.
Harmoni Antara Society 5.0 dan Nilai Humanistik
Gagasan Society 5.0 menekankan pada masyarakat berpusat pada manusia (human-centric society) yang mengimbangi kemajuan ekonomi dengan penyelesaian masalah sosial melalui integrasi ruang siber dan fisik. Untuk mencapai hal ini, manusia tidak boleh menjadi "budak" algoritma, melainkan harus menggunakan literasi manusia (human literacy) dan berpikir kritis (High Order Thinking Skills / HOTS) dalam menyaring informasi.
Kesimpulan
Kunci utama dalam menghadapi era disrupsi teknologi adalah memanusiakan kembali manusia. Emotional Intelligence dan Mindfulness bukanlah sekadar konsep psikologi, melainkan fondasi dari Estetika Humanisme yang menjaga keindahan nurani dan kejelasan berpikir. Dengan mengasah kecerdasan emosional dan fokus, kita dapat memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan esensi kemanusiaan kita.
Daftar Pustaka / Referensi
Goleman, D. (2006). Emotional Intelligence: Why It Can Matter More Than IQ. Bantam Books.
Kabat-Zinn, J. (2015). Wherever You Go, There You Are: Mindfulness Meditation in Everyday Life. Hachette Books.
Rosanah. Materi Perkuliahan MKU Estetika Humanisme. Universitas Siber Asia.