Memulihkan Kemanusiaan di Ruang Digital: Analisis Cyberbullying dalam Perspektif Psikologi Humanistik
Oleh : Irvan listiono
Mahasiswa UNIVERSITAS SIBER ASIA
Berkembangnya teknologi digital yang pesat telah mengubah cara manusia berinteraksi, dari yang dilakukan secara tradisonal, interaksi secara langsung,sekarang bisa dilakukan Dimanasaja melalui daring. namun di sisi lain juga melahirkan fenomena yang merugikan seperti cyberbullying (perundungan siber). Sementara perspektif psikologi lain sering kali berfokus pada dorongan biologis atau pengondisian lingkungan, psikologi humanistik menawarkan cara pandang yang berbeda. Humanisme melihat manusia sebagai makhluk yang pada dasarnya baik, memiliki kehendak bebas, dan didorong oleh motivasi alami untuk mencapai aktualisasi diri. Dalam kacamata ini, cyberbullying bukan sekadar pelanggaran perilaku, melainkan sebuah bentuk hambatan dari keaslian diri dan krisis makna terhadap hakikat kemanusiaan, baik bagi korban maupun pelaku.Bagi korban, dampak cyberbullying merusak fondasi kesejahteraan psikologis mereka secara mendasar. Merujuk pada Teori Hierarki Kebutuhan Abraham Maslow, manusia tidak dapat mencapai potensi tertingginya sebelum kebutuhan dasar mereka terpenuhi. Ruang siber yang penuh teror, intimidasi, dan penghinaan langsung meruntuhkan "kebutuhan akan rasa aman" (safety needs) dan "kebutuhan untuk memiliki dan dicintai" (belongingness and love needs). Korban merasa terisolasi, ditolak oleh lingkungan sosialnya, dan kehilangan kendali atas privasinya. Akibatnya, energi mental yang seharusnya digunakan untuk pertumbuhan diri dan kreativitas habis terkuras demi mekanisme pertahanan diri dari kecemasan ekstrem. Ketika kebutuhan dasar ini goyah, proses menuju aktualisasi diri otomatis terhenti.Selain itu, Carl Rogers menekankan pentingnya konsep diri (self-concept) yang sehat dan berada dalam kondisi saat real self sejalan dengan ideal self, untuk menjadi pribadi yang berfungsi utuh. Cyberbullying menyerang harga diri korban secara luar biasa besar melalui penilaian negatif yang konstan dari orang lain (conditions of worth). Ketika korban mulai menginternalisasi ejekan tersebut, terjadi ketidaksesuaian antara diri yang sebenarnya (real self) dan cara mereka memandang diri sendiri akibat bentukan komentar siber. Krisis konsep diri ini memicu depresi, hilangnya rasa berharga, hingga dalam kasus ekstrem, hilangnya keinginan untuk hidup.Fenomena ini juga mencerminkan penurunan kualitas kemanusiaan pada diri pelaku. Psikologi humanistik percaya bahwa perilaku destruktif muncul ketika seseorang gagal mengaktualisasikan dirinya secara sehat. Kegiatan anonim di media sosial sering kali memisahkan pelaku dari keaslian dirinya (inauthenticity). Di balik layar gawai, mereka memakai "topeng" digital yang menjauhkan mereka dari empati alami manusia. Pelaku cyberbullying sering kali memproyeksikan rasa rendah diri, ketidakamanan, atau kegagalan mereka sendiri ke ruang digital. Mereka mengejar penghargaan diri dengan cara yang destruktif—merendahkan orang lain demi mendapatkan validasi semu, popularitas, atau rasa berkuasa yang instan.Untuk mengatasi krisis ini, pendekatan pemulihan humanistik harus mengutamakan rekonstruksi ruang aman dan hubungan interpersonal yang tulus. Intervensi psikologis bagi korban perlu menerapkan prinsip Rogers tentang unconditional positive regard (penerimaan positif tanpa syarat). Korban harus ditempatkan dalam lingkungan yang suportif di mana mereka diterima apa adanya, tanpa penghakiman, guna membangun kembali harga diri mereka yang hancur. Di sisi lain, pencegahan untuk pelaku tidak cukup hanya dengan hukuman, melainkan dengan melatih kembali empati dan membantu mereka menemukan cara-cara sehat yang autentik untuk mengaktualisasikan potensi diri mereka tanpa menyakiti sesama.Kesimpulannya, cyberbullying adalah bukti nyata dari terhambatnya pertumbuhan manusia di era modern. Dengan memahami fenomena ini melalui psikologi humanistik, kita disadarkan bahwa kunci utama mengatasi perundungan siber bukan hanya memperketat regulasi teknologi, melainkan memulihkan kembali nilai-nilai kemanusiaan, empati, dan penerimaan sejati di dalam diri setiap individu, baik secara luring maupun daring.