Diri yang Hilang di Antara Konten Pamer
(Ilustrasi AI)
Nama : Naimah Inzani
Mata Kuliah : Estetika Humanisme
Topik : Self Concept
Oleh: Naimah Inzani - Mahasiswa Universitas Siber Asia
ZTV - Ada saatnya saya menonaktifkan TikTok tidak karena merasa bosan, melainkan karena kelelahan emosional. Ini bukan disebabkan oleh konten yang menyedihkan, justru sebaliknya, terlalu banyak orang memperlihatkan tanda-tanda "kesuksesan". Rumah baru, liburan ke luar negeri, tas yang harganya setara gaji setahun, semuanya muncul di layar dalam waktu singkat.
Fenomena pamer seperti ini, yang belakangan dikenal dengan sebutan flexing, awalnya saya anggap sekadar hiburan semata. Tetapi seiring waktu, saya menyadari ada yang berbeda dalam cara pandang saya terhadap diri sendiri setiap kali saya menutup aplikasi tersebut.
Ini bagi saya bukan hanya masalah apakah merasa iri atau tidak. Ini tentang bagaimana pikiran manusia secara alami mencari perbandingan untuk mengevaluasi posisi dirinya, sesuatu yang dalam psikologi dikenal sebagai kecenderungan untuk membandingkan diri dengan orang lain. Dulu, yang menjadi patokan kita hanya tetangga sebelah atau teman seangkatan. Kini, hanya dengan satu aplikasi, kita dihadapkan pada ribuan "pemenang kehidupan" setiap harinya, yang lebih berbahaya adalah ketidakpastian mengenai mana yang nyata dan mana yang hanya rekayasa demi konten.
Yang membuat saya merasa cemas adalah bagaimana standar-standar itu perlahan-lahan berubah menjadi tolok ukur sukses. Memiliki IPK tinggi terasa biasa saja jika dibandingkan dengan teman sebaya yang sudah memiliki mobil di usia dua puluhan. Usaha keras yang dulu terasa memadai, tiba-tiba menjadi tidak berarti. Padahal jika dipikir kembali, kita sedang membandingkan perjalanan panjang kita sendiri dengan cuplikan terbaik hidup orang lain yang sudah diseleksi secara ketat sebelum dipublikasikan.
Dari perspektif humanisme, saya meyakini bahwa nilai seseorang tidak akan pernah bisa disederhanakan menjadi sekadar harta yang dimiliki atau saldo di rekening banknya. Martabat individu jauh lebih dalam, mencakup usaha keras, sifat, dan cara ia berinteraksi dengan orang lain. Sayangnya, logika media sosial sering kali membalikkan pandangan ini: orang yang paling banyak dipromosikan dianggap paling sukses.
Menyadari hal tersebut, saya mulai mengadopsi beberapa kebiasaan kecil agar pandangan saya terhadap diri sendiri tetap positif. Saya berusaha untuk tidak mudah terpengaruh dengan apa yang saya lihat di FYP, dengan mengingatkan diri bahwa itu hanyalah bagian kecil dari kehidupan seseorang. Saya juga belajar untuk menghargai prestasi saya sendiri, sekecil apapun, tanpa merasa perlu membandingkannya dengan keberhasilan instan orang lain. Yang tak kalah penting, saya lebih memilih mencari dukungan dari orang-orang terdekat ketimbang pada jumlah suka atau komentar memuji dari orang yang tidak dikenali.
Saya bukan bermaksud untuk mendorong semua orang untuk berhenti menggunakan TikTok atau membenci mereka yang suka menunjukkan pencapaian. Harapan saya sederhana: kita semua, terutama para mahasiswa, bisa lebih menyadari bahwa layar ponsel tidak mencerminkan kehidupan yang sesungguhnya. Identitas yang kuat tidak muncul dari seberapa banyak pengakuan yang kita terima, melainkan dari keberanian untuk menerima diri sendiri di tengah dunia yang selalu mengajak kita membandingkan diri dengan orang lain.
