TikTok di 2026 sebagai Modal Sosial dan Instrumen Soft Power Generasi Muda Indonesia.
Oleh :
Nunung Pratiwi - Mahasiswa Universitas Siber Asia
Perkembangan teknologi digital di era ini sangat cepat, hal ini mengubah pola interaksi masyarakat khususnya generasi Muda. Salah satu media social paling hits saat ini adalah TikTok. Media social ini awalnya hanya berisi video pendek dan hiburan, tapi perkembangannya sangat cepat dan jauh lebih luas. Tiktok saat ini dapat digunakan untuk menjadi wadah bagi masyarakat untuk menambah wawasan, membangun pertemanan, mempromosikan produk dan budaya serta gagasan lainnya kepada semua masyarakat bahkan sampai luar negeri.
Hal ini menarik untuk di bahas melalui persepektif Sosial Capital dan Soft Power. Sosial Capital dan Soft Power berkaitan dengan jaringan social, kepercayaan, norma dan hubungan masyarakat. Sementara soft power adalah kemampuan untuk memperoleh daya Tarik, nilai, budaya dan gagasan, bukan melalui paksaan atau kekuatan material. Dalam konteks digital TikTok dapat mempertemukan kedua konsep tersebut.
Penelitian tentang pengguna muda TikTok di Indonesia menunjukan bahwa media social ini dapat mempengaruhi pengambilan keputusan dan kepuasan pengguna. Penelitian terhadap 326 pengguna TikTok muda di Indonesia menunjukan bahwa media social memiliki structural, relasional, dan kognitif. Sehingga hubungan di TikTok tidak hanya berkaitan dengan jumlah koneksi, tetapi juga dengan kualitas hubungan dan kesamaan diantara pengguna.
Tiktok sebagai Sosial Capital dapat dipahami sebagai sumber daya yang munccul dari hubungan social dan jaringan yang dimiliki seseorang. Dalam hal ini bentuk hubungan ini tidak lagi terbatas pada ruang fisik. TikTok memberikan kesempatan pada pengguna untuk mengikuti akun tertentu, berkomentar, melakukan duet, membuat stitch, mengikuti tren maupun bergabung dengan komunitas digital. Aktifitas tersebut memungkinkan terbentuknya jaringan baru.
Penelitian mengenai media social pada pemuda di perkotaan Indonesia juga menunjukan bahwa teknologi digital dapat membantu generasi muda memperluas jaringan social, meskipun hubungan secara daring kadang tidak sedalam dengan hubungan tatap muka. Fenomena tersebut dapat dilihat dari munculnya komunitas tertentu. Contohnya komunitas olahraga, pendidikan, dan sebaginya. Namun, jumlah like dan dan pengikut tidak dapat secara otomati dianggap sebagai modal sosial.
TikTok sebagai Soft Power dalam konteksnya, daya Tarik tersebut dapat melalui konten konten video di TikTok. Konsep Soft Power di perkenalkan Joseph Nye menekankan bahwa pengaruh dapat diperoleh dari budaya, nilai, dan kebijakan.
Konten di TikTok sangat mudah menyebar melalui system rekomendasi dan partisipasi pengguna. Budaya local sebelumnya hanya dikenal oleh masyarakat tertentu. Tetapi sekarang dalam hitungan detik sudah dapat dinikmati oleh masyarakat luas bahkan sampai mancanegara dengan video pendek. Contohnya Tari tradisional, Makanan Khas Daerah, Tempat wisata dan sebagainya. Hal ini dapat mengundang turis mancanegara untuk mengunjungi Indonesia.
Dengan demikian konten creator TikTok tidak hanya berperan sebagai konten creator saja, melainkan bisa menjadi actor non-negara yang ikut membentuk citra suatu negara.
Hubungan Sosial Capital dan Soft Power di TikTok dapat memperkuat ekosistem TikTok. Sosial Capital menyediakan jaringan dan keprcayaan, sedangkan Soft Power memanfaatkan daya Tarik untuk menghasilkan pengaruh. Contohnya Seorang Konten kretaor Indonesia membuat konten makanan tradisional lalu konten tersebut viral sampai ke masyarakat luar negeri. Hal ini membuat nama Indonesia semakin terkenal dan membuat pengguna TikTok penasaran dan ingin mencoba. Proses tersebut termasuk soft power karena pengaruh muncul karena daya Tarik, bukan melalui paksaan.
Penggunaan TikTok juga perlu disertai dengan literasi digital dan tanggung jawab sosial, karena penyebaran informasi sosial yang salah dapat merusak kepercayaan masyarakat.
TikTok bukan hanya platform hiburan, tetapi dapat mejadi ruang terbentuknya Sosial capitan dan berkembangnya Soft Power. Kekuatan TikTok tidak hanya terletak dari jumlah views, likes, atau followers. Tetapi pada kemampuan media sosial tersebut menjadi jaringan, jaringan menjadi kepercayaan, dan daya tarik budaya menjadi pengaruh. Penggunaan TikTok yang kreatif, kritis, dan bertanggung jawab menjadi salah satu bentuk kontribusi generasi muda dalam memperkuat media sosial sekaligus Soft Power Indonesia.
Sumber :
Nye, J.S (2004). Soft Power: The Means to Succes in World Politics. PublisAffairs
Wijaya, M (2025). Sosial Capital Formation Among Urban Youth in Indonesia: Pembentukan Modal Sosial di Antara Pemuda Perkotaan di Indonesia. HUMANIST: As’adiyah International Journal of Humanities and Education.