Tidak Terlihat, namun Mampu Mengendalikan Emosi Penonton : Menyelami Dunia Pengisi Suara Bersama Almira Syarafina
Gambar : Almira Saat Wawancara
Oleh :
Yanuar Btara Restafianto - Universitas Siber Asia
Suara sering kali hadir tanpa terlihat. Namun, hanya melalui suara, sebuah karakter dapat terasa hidup dan mampu membuat penonton tertawa, menangis bahkan emosi lainnya yang sedang dialami karakter. Di balik suara tersebut terdapat kemampuan seorang pengisi suara yang tidak hanya membaca dialog, tetapi juga memahami bagaimana cara “menghidupkan” karakter yang diperankannya.
Salah satu sosok yang menekuni dunia tersebut adalah Almira Syarafina, pengisi suara profesional sekaligus penyanyi cantik asal Kudus, Jawa Tengah. Selama lebih dari lima tahun berkarir di industri animasi, Almira telah mengisi suara berbagai karakter, mulai dari Kibo dalam WakaKibo Kids, Nyla dalam Nyla, hingga karakter anime Jepang Hazuki Kudou dalam Watashi no Shiawase na Kekkon versi bahasa Indonesia.
Perjalanan Almira menjadi pengisi suara berawal dari ketertarikannya terhadap film animasi sejak kecil. Ia merasa penasaran bagaimana seorang pengisi suara dapat membuat karakter yang hanya terlihat di layar seolah-olah memiliki kehidupan melalui suara.
“Sejak kecil, saya suka nonton film-film animasi. Dari situ saya penasaran, kok bisa ya mereka menghidupkan sebuah karakter melalui suara?” ujar Almira
Rasa penasaran tersebut kemudian memotivasi Almira untuk menirukan (impersonate) suara berbagai karakter yang ia temui dalam film animasi. Tanpa disangka, hal iseng tersebut justru membuatnya merasa nyaman dan menikmati proses bermain dengan suara. Ketertarikan yang awalnya hanya iseng-iseng kemudian berkembang menjadi pilihan karir.
Menjadi Karakter, Bukan Sekadar Membacakan Dialog
Bagi Almira, menjadi pengisi suara bukan sekadar membaca tulisan yang terdapat dalam naskah. Seorang pengisi suara harus mampu memahami karakter dan menerjemahkan kepribadian serta emosinya melalui suara. Ia mengingat salah satu masukan yang diperolehnya dari seorang praktisi pengisi suara, Novi Burhan, ketika mengadakan workshop di studio tempat Almira bekerja. Menurutnya, salah satu prinsip penting dalam pengisian suara adalah “Jadilah karakter itu”.
Prinsip tersebut membuat Almira selalu berusaha membayangkan bagaimana karakter akan bereaksi dalam suatu situasi, bagaimana cara karakter berbicara, serta emosi apa yang sedang dirasakannya, semua itu dilakukan berdasarkan arahan atau brief dari sutradara.
Pendekatan itu juga membuat Almira memiliki ketertarikan khusus terhadap karakter-karakter eksperimental. Ia menyukai karakter yang memberikan ruang untuk memainkan berbagai warna suara, terutama karakter anak-anak.
“Saya lebih suka (menjadi) karakter eksperimental. Alasannya karena lebih banyak warna suara yang bisa saya lakukan, gak cuma unik tapi juga cocok untuk menguji skill saya”
Menurut Almira, karakter anak-anak memiliki rentang suara dan emosi yang lebih beragam. Hal tersebut menjadi tantangan karena ia harus menjaga kestabilan suaranya selama proses rekaman.
Latihan yang Tidak Sekadar Melatih Suara
Menjadi pengisi suara profesional membutuhkan latihan yang dilakukan secara konsisten. Salah satu latihan sederhana yang disarankan oleh Almira adalah dengan membiasakan diri membaca dengan lantang. Menurutnya, kebiasaan tersebut dapat membantu seseorang meningkatkan kejelasan dalam berbicara sehingga pengucapan kata menjadi lebih lancar dan tidak terbata-bata.
Selain itu, latihan pernapasan juga menjadi bagian penting dalam persiapan seorang pengisi suara. Setiap ekspresi yang dikeluarkan karakter memiliki karakteristik napas yang berbeda. Karena itu, pengisi suara perlu memahami bagaimana mengatur napas agar suara yang dihasilkan dapat mendukung emosi karakter.
Almira menyarankan untuk memperbanyak referensi karakter. Dengan mendengarkan dan mempelajari berbagai karakter suara, seseorang dapat memperluas wawasan mengenai teknik vokal yang dapat digunakan ketika berakting. Almira juga menyarankan untuk meminta teman atau keluarga memberikan evaluasi dan penilaian terhadap perkembangan latihan.
“Jangan takut, perbanyak referensi karakter suara dan banyak latihan. Sebisa mungkin ajak teman atau keluarga untuk menilai progress latihan dan yang paling penting, jangan menyerah!” pesannya.
Ketika Suaranya Berpindah dari Jepang ke Indonesia
Salah satu pengalaman yang berkesan bagi Almira adalah ketika dirinya dipercaya untuk mengalihbahasakan suara karakter dari anime Jepang berjudul Watashi no Shiawase na Kekkon atau My Happy Marriage.
Kesempatan tersebut datang setelah Almira berkenalan dengan Novi Burhan. Setelah beberapa kali berbincang, beberapa bulan kemudian Almira mendapat telepon langsung untuk mengisi suara karakter Hazuki Kudou.
Hazuki merupakan seorang perempuan dari kalangan bangsawan yang memiliki hubungan sebagai kakak dari pemeran utama pria sekaligus kakak ipar dari pemeran utama wanita. Karakter tersebut memiliki kepribadian anggun dan tegas, tetapi tetap memiliki sisi humor.
Bagi Almira, memerankan karakter tersebut berarti harus mampu menghadirkan sosok seorang kakak dengan karakteristik yang berbeda dari karakter-karakter yang pernah ia mainkan sebelumnya.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa pekerjaan pengisi suara dapat membawa seorang talent untuk memainkan karakter dengan latar belakang kepribadian, dan emosi yang beragam.
Membimbing Talenta Muda
Selain menjadi pengisi suara, saat ini Almira melanjutkan karirnya sebagai voice over director, sebuah peran yang membuatnya turut membimbing para talenta muda dalam proses pengisian suara. Pengalamannya selama lebih dari lima tahun di industri animasi menjadi bekal untuk membantu pengisi suara lain mengembangkan kemampuan mereka. Baginya, perkembangan industri tidak hanya ditentukan oleh kemampuan individu, tetapi juga oleh perilaku para pelaku di dalamnya dalam saling mendukung.
Ia berharap para pengisi suara dapat saling merangkul dan tidak ragu berbagi wawasan kepada mereka yang baru memulai karir.
Di luar dunia pengisi suara, Almira juga mengembangkan dirinya sebagai penyanyi. Ia memiliki sebuah single berjudul Gelatik yang dapat didengarkan melalui berbagai platform musik digital.
Dari seorang anak yang awalnya hanya penasaran bagaimana suara dapat menghidupkan karakter, Almira kini justru menjadi bagian dari proses tersebut. Perjalanannya menunjukkan bahwa suara bukan sekadar bunyi yang keluar dari mulut seorang talent, karena di baliknya terdapat latihan, teknik, interpretasi, dan kemampuan memahami emosi.
Karakter yang terlihat di layar mungkin hanya berupa gambar. Namun, tanpa suara yang tepat, karakter tersebut belum tentu mampu menyampaikan perasaannya kepada penonton. Di situlah peran seorang pengisi suara bekerja. Tidak selalu terlihat, tetapi mampu membuat penonton merasakan emosi yang seolah-olah datang langsung dari karakter di hadapan mereka.