Social Capital dan Soft Power: Fenomena Viral Aura Farming dalam Perspektif Estetika Humanisme
Oleh :
Ahmad Sulton Kamal - Mahasiswa Universitas Siber Asia
Di era digital yang serba terhubung, fenomena viral telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Salah satu fenomena yang baru-baru ini mengguncang jagat maya adalah “aura farming,” sebuah tren yang berawal dari aksi sederhana seorang anak bernama Rayyan yang berdiri dengan tenang di atas perahu dalam tradisi pacu jalur Riau. Dalam hitungan minggu, gaya khasnya ditiru oleh pesepak bola PSG, bintang NFL, dan jutaan pengguna media sosial di seluruh dunia. Fenomena ini menarik untuk dikaji dari perspektif Estetika Humanisme yaitu sebuah pendekatan yang memandang keindahan tidak hanya dari aspek artistik, tetapi juga dari nilai kemanusiaan, empati, dan perilaku yang bermakna. Esai ini akan membahas bagaimana fenomena viral seperti aura farming merepresentasikan dinamika social capital dan soft power di era digital, serta apa implikasinya terhadap pemahaman kita tentang humanisme dalam komunikasi kontemporer.
Fenomena aura farming menunjukkan dengan jelas bagaimana media sosial telah bertransformasi menjadi medium utama untuk memperoleh social capital. TikTok, dengan algoritma yang mendukung viralitas, menjadi panggung bagi individu untuk membangun identitas dan jaringan sosial. Social capital yang terbentuk dari konten viral tidak hanya bersifat kuantitatif jumlah pengikut atau tayangan tetapi juga kualitatif, berupa pengakuan dan legitimasi sosial. Penelitian tentang konten viral TikTok yang membersihkan rumah ibunya menunjukkan bahwa media sosial dapat mendorong aksi kolektif, di mana individu dan kelompok tergerak untuk bekerja sama dalam kegiatan sosial tertentu. Dalam kasus aura farming, social capital Rayyan terlihat dari pengangkatannya sebagai duta wisata dan lonjakan popularitas yang mengubahnya dari anak biasa menjadi ikon budaya. Hal ini sejalan dengan pandangan bahwa socia capital memiliki nilai strategis dalam membangun reputasi dan kredibilitas, baik bagi individu maupun organisasi.
Dari perspektif soft power, fenomena aura farming menunjukkan bagaimana budaya lokal dapat menembus batas-batas geografis tanpa melalui saluran diplomasi formal. Soft power, dalam konteks ini, bukanlah strategi yang direncanakan oleh negara, melainkan muncul secara organik dari ekspresi budaya yang autentik. Dalam kajian diplomasi digital, sosial media telah menjadi arena kompetisi simbolik, di mana negara-negara berupaya membangun legitimasi dan pengakuan melalui penguasaan narasi. Namun, yang menarik dari aura farming adalah bagaimana ia hadir bukan dari institusi negara, melainkan dari akar budaya lokal yang kemudian diadaptasi oleh masyarakat global. Sebagaimana dikemukakan oleh para pengamat, keberhasilan aura farming terletak pada keseimbangan antara cita rasa lokal yang unik dan daya tarik universal yang mudah dipahami lintas budaya. Ini menunjukkan bahwa soft power dapat dibangun dari bawah (bottom-up), melalui ekspresi kultural yang resonan dengan nilai-nilai kemanusiaan
universal.
Estetika Humanisme mengajarkan kita untuk melihat keindahan sebagai manifestasi dari nilai-nilai kemanusiaan. Dalam fenomena aura farming, keindahan tidak terletak pada kompleksitas gerakan atau kemewahan visual, melainkan pada ketenangan dan ketidakpedulian yang justru memancarkan pesona sebuah “ketenangan yang tak terduga” yang memicu rasa penasaran dan kekaguman. Hal ini mengingatkan kita pada gagasan Schiller tentang permainan (play) sebagai sarana untuk mengembangkan rasa estetis, di mana kebebasan berekspresi melahirkan keindahan yang autentik. Namun, tantangannya adalah bagaimana memastikan bahwa viralitas tidak berhenti pada permukaan semata. Para praktisi komunikasi mengingatkan bahwa tren seperti aura farming seharusnya menjadi pintu masuk menuju cerita yang lebih besar, yang terikat pada nilai-nilai inti budaya, bukan sekadar kejaran popularitas sesaa. Dalam kerangka Estetika Humanisme, konten viral yang bermakna adalah yang mampu menggugah empati, mendorong refleksi, dan menghubungkan manusia lintas perbedaan.
Fenomena aura farming memberikan ilustrasi konkret tentang bagaimana social capital dan soft power bekerja dalam lanskap digital kontemporer. Viralitas bukanlah sekadar keberuntungan, melainkan hasil dari dinamika kompleks antara autentisitas budaya, psikologi audiens, dan algoritma platform. Dari perspektif Estetika Humanisme, fenomena ini mengajarkan kita bahwa keindahan komunikasi publik terletak pada kemampuannya untuk menyentuh nilai-nilai kemanusiaan yang universal, bahkan ketika ia lahir dari tradisi lokal yang sederhana. Tantangan ke depan adalah bagaimana memanfaatkan momen viral semacam ini sebagai landasan untuk membangun soft power yang berkelanjutan bukan sekadar mengejar tren, tetapi menciptakan narasi yang memperkaya pemahaman kita tentang kemanusiaan. Seperti yang diingatkan oleh para pengamat, “kita bukan dalam bisnis untuk menyesuaikan diri dengan audiens; kita dalam bisnis untuk membuat audiens menyesuaikan diri dengan kita”. Dalam hal ini, estetika bukanlah sekadar keindahan visual, melainkan kemampuan untuk menghadirkan makna yang menggerakkan kesadaran kolektif.