PENTINGNYA EMOTIONAL INTELLIGENCE DI ERA MEDIA SOSIAL
Oleh: Ratna Ningsih - Mahasiswa Universitas Siber Asia
Abstrak
Perkembangan media sosial membuat informasi dapat menyebar dengan sangat cepat dan menjadikan masyarakat tidak hanya sebagai penerima informasi, tetapi juga sebagai pembuat dan penyebar konten. Kondisi tersebut memunculkan berbagai fenomena aktual, seperti hoaks, ujaran kebencian, cyberbullying, dan penyebaran konten yang belum terverifikasi. Pada saat yang sama, algoritma media sosial cenderung membuat konten yang sensasional dan memancing emosi lebih mudah memperoleh perhatian publik. Fenomena tersebut menunjukkan pentingnya kecerdasan emosional (emotional intelligence) dalam kehidupan digital. Artikel ini membahas bagaimana kemampuan mengenali, mengendalikan, dan memahami emosi dapat membantu seseorang menghadapi budaya viral secara lebih bijaksana. Berdasarkan perspektif Estetika Humanisme, kecerdasan emosional tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengendalikan diri, tetapi juga dengan empati, penghargaan terhadap martabat manusia, dan tanggung jawab dalam menggunakan teknologi.
Kata kunci: emotional intelligence, media sosial, budaya viral, humanisme, literasi digital, hoaks.
Pendahuluan
Media sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat modern. Melalui TikTok, Instagram, YouTube, Facebook, dan berbagai platform lainnya, seseorang dapat memperoleh dan menyebarkan informasi hanya dalam hitungan detik. Perkembangan ini memberikan banyak manfaat karena masyarakat dapat memperoleh pengetahuan, berkomunikasi, membangun jaringan, dan menyampaikan pendapat secara lebih mudah. Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan persoalan. Tidak semua informasi yang viral merupakan informasi yang benar. Bahkan, informasi yang salah dapat menjadi viral karena dikemas secara menarik atau mampu membangkitkan emosi seperti marah, takut, khawatir, dan penasaran.
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) pada Juli 2026 menegaskan bahwa algoritma media sosial dapat membentuk persepsi masyarakat dan membuat isu yang sensasional lebih cepat menjadi viral dibandingkan substansi suatu persoalan. Pemerintah juga mengingatkan bahwa perkembangan kecerdasan artifisial membuat konten sintetis dan deepfake semakin sulit dibedakan dari konten asli. Karena itu, masyarakat perlu membangun budaya digital yang kritis dan melakukan verifikasi sebelum mempercayai maupun menyebarkan informasi [1]. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa kemampuan menggunakan teknologi saja tidak cukup. Manusia juga membutuhkan kemampuan untuk mengelola emosinya ketika berhadapan dengan informasi digital. Inilah yang menjadikan emotional intelligence penting untuk dikaji dalam perspektif Estetika Humanisme.
Fenomena Viral dan Ledakan Emosi di Media Sosial
Salah satu karakteristik media sosial saat ini adalah munculnya budaya viral. Sebuah video, komentar, atau berita dapat memperoleh perhatian yang sangat besar dalam waktu singkat. Sayangnya, kecepatan tersebut sering kali tidak diikuti proses berpikir yang sama cepatnya. Contohnya dapat dilihat dari berbagai informasi palsu yang beredar di Indonesia sepanjang 2026. Pada Maret 2026, Komdigi membantah informasi yang menyatakan bahwa pemerintah akan menonaktifkan TikTok, Instagram, Facebook, dan YouTube pada 28 Maret 2026. Faktanya, yang mulai diterapkan adalah kebijakan perlindungan anak dengan penonaktifan akun pengguna di bawah usia 16 tahun pada platform digital berisiko tinggi, bukan penutupan media sosial secara umum [2].
Fenomena lain terjadi menjelang Ramadan dan Idulfitri 2026. Komdigi menemukan berbagai hoaks, termasuk informasi palsu mengenai bantuan, mudik gratis, serta tautan tertentu yang mengatasnamakan program resmi. Pemerintah bahkan meningkatkan patroli siber karena informasi tersebut berpotensi menyebabkan masyarakat tertipu atau mengalami kerugian [3]. Mengapa informasi seperti itu dapat menarik perhatian masyarakat? Salah satu alasannya adalah emosi. Informasi yang membuat seseorang takut kehilangan sesuatu, marah, khawatir, atau merasa mendapatkan keuntungan biasanya lebih mudah mendapatkan perhatian dibandingkan informasi yang disampaikan secara biasa. Dalam kondisi seperti ini, seseorang dapat melakukan tindakan impulsif: membaca judul, merasa terkejut, lalu langsung membagikan informasi kepada orang lain tanpa memeriksa kebenarannya.
Emotional Intelligence dalam Menghadapi Fenomena Viral
Emotional intelligence atau kecerdasan emosional merupakan kemampuan seseorang untuk mengenali dan memahami emosinya sendiri, mengendalikan respons emosional, memahami perasaan orang lain, serta membangun hubungan sosial secara sehat. Dalam konteks media sosial, kecerdasan emosional dapat diterapkan melalui beberapa kemampuan.
1. Kesadaran diri (self-awareness)
Ketika melihat informasi yang viral, seseorang perlu menyadari respons emosionalnya.
Misalnya, ketika membaca berita yang membuat marah, seseorang perlu menyadari:
“Saya sedang marah karena informasi ini.”
Kesadaran tersebut penting agar seseorang tidak langsung mengambil keputusan ketika
berada dalam kondisi emosional.
2. Pengendalian diri (self-regulation)
Setelah menyadari emosinya, seseorang harus mampu mengendalikan responsnya.
Contohnya, ketika melihat komentar yang berbeda dengan pendapat pribadi, seseorang
tidak langsung membalas dengan kata-kata kasar. Tidak semua hal yang membuat kita
marah harus langsung kita respons. Kemampuan untuk berhenti sejenak sebelum bereaksi
merupakan salah satu bentuk kecerdasan emosional.
3. Empati
Media sosial sering membuat seseorang lupa bahwa di balik sebuah akun terdapat manusia
yang memiliki perasaan. Komentar yang menurut pengirimnya hanya bercanda dapat
menjadi sesuatu yang sangat menyakitkan bagi penerimanya. Penelitian mengenai
hubungan kecerdasan emosional dan cyberbullying juga menempatkan kemampuan
mengenali emosi, empati, pengendalian diri, dan keterampilan sosial sebagai aspek penting
dalam memahami perilaku di ruang digital [4]. Dengan demikian, sebelum memberikan
komentar terhadap seseorang yang sedang viral, kita perlu mempertimbangkan dampaknya
terhadap orang tersebut.
4. Kemampuan mengambil keputusan secara bijaksana
Kecerdasan emosional tidak berarti seseorang harus mengabaikan perasaannya.
Sebaliknya, emosi perlu dipahami tetapi keputusan tetap harus dibuat secara rasional.
Misalnya:
Melihat informasi → merasa marah → berhenti → memeriksa sumber → memahami
konteks → baru memberikan respons.
Proses tersebut jauh lebih sehat daripada:
Melihat informasi → marah → langsung komentar → membagikan → kemudian
mengetahui bahwa informasinya ternyata salah.
Ketika Algoritma Memanfaatkan Emosi Manusia
Persoalan menjadi semakin kompleks karena pengguna media sosial tidak sepenuhnya menentukan informasi yang mereka lihat. Algoritma platform ikut menentukan konten yang muncul berdasarkan aktivitas dan perhatian pengguna. Komdigi pada Juli 2026 menyatakan bahwa algoritma media sosial dapat membentuk persepsi publik dan bahwa konten yang sensasional dapat lebih cepat menjadi viral dibandingkan substansi suatu kebijakan. Pemerintah juga menekankan pentingnya verifikasi sumber dan asal-usul konten, terutama karena konten berbasis AI semakin sulit dibedakan dari konten asli [1].
Artinya, seseorang dapat terus-menerus menerima konten yang sesuai dengan emosinya. Jika seseorang sering berinteraksi dengan konten yang membuatnya marah, algoritma dapat terus menghadirkan konten serupa. Akibatnya, seseorang semakin mudah terbawa emosi dan semakin sulit melihat suatu persoalan dari perspektif yang berbeda. Di sinilah Emotional Intelligence menjadi mekanisme pertahanan manusia. Teknologi dapat menentukan apa yang muncul di layar, tetapi manusia tetap memiliki kemampuan untuk menentukan bagaimana dirinya merespons.
Emotional Intelligence sebagai Bentuk Humanisme
Dalam kajian Estetika Humanisme, manusia tidak seharusnya hanya dilihat sebagai pengguna teknologi, tetapi sebagai makhluk yang memiliki akal, perasaan, moral, dan tanggung jawab sosial. Karena itu, penggunaan teknologi harus tetap mempertahankan nilai kemanusiaan. Ketika seseorang melihat orang lain sedang mengalami masalah dan memilih untuk tidak mempermalukannya, hal tersebut merupakan bentuk empati. Ketika seseorang mendapatkan informasi yang belum terbukti dan memilih untuk tidak menyebarkannya, hal tersebut merupakan bentuk tanggung jawab. Ketika seseorang berbeda pendapat tetapi tetap menghargai lawan bicaranya, hal tersebut merupakan bentuk kedewasaan emosional. Dengan demikian, emotional intelligence bukan hanya kemampuan pribadi, tetapi juga bagian dari etika dalam kehidupan sosial. Teknologi dapat membuat manusia terhubung secara digital, tetapi kecerdasan emosional membuat hubungan tersebut tetap manusiawi.
Dampak Kurangnya Kecerdasan Emosional
Kurangnya kecerdasan emosional di ruang digital dapat menimbulkan beberapa dampak.
1. Penyebaran hoaks
Seseorang yang langsung membagikan informasi karena merasa takut atau marah dapat
membantu memperluas penyebaran informasi palsu. Komdigi pada 2026 masih secara
rutin menemukan berbagai hoaks di media sosial, termasuk penipuan dengan tautan palsu
dan informasi yang mengatasnamakan lembaga pemerintah [5].
2. Cyberbullying
Reaksi emosional yang tidak terkendali dapat berubah menjadi penghinaan, ejekan, atau
serangan terhadap individu tertentu.
3. Konflik sosial
Perbedaan pendapat yang seharusnya dapat didiskusikan secara sehat dapat berubah
menjadi pertengkaran ketika masing-masing pihak lebih mengutamakan emosi daripada
pemahaman.
4. Menurunnya kualitas pengambilan keputusan
Ketika seseorang terlalu terbawa emosi, kemampuan berpikir kritis dapat terganggu.
Akibatnya, seseorang lebih mudah percaya pada informasi yang sesuai dengan perasaannya
daripada informasi yang benar-benar berdasarkan fakta.
Upaya Meningkatkan Emotional Intelligence di Era Digital
Menurut saya, terdapat beberapa langkah yang dapat diterapkan, terutama oleh generasi muda. Pertama, menerapkan prinsip “pause before sharing”. Sebelum membagikan informasi, berhenti sejenak dan tanyakan:
• Apakah informasi ini benar?
• Dari mana sumbernya?
• Apakah sumbernya terpercaya?
• Mengapa saya ingin membagikan informasi ini?
• Apakah saya sedang membagikannya karena fakta atau karena emosi?
Kedua, membiasakan verifikasi informasi.
Informasi yang viral tidak otomatis benar. Komdigi sendiri mendorong masyarakat untuk memeriksa sumber dan asal-usul konten sebelum mempercayai atau menyebarkannya [1].
Ketiga, meningkatkan empati digital.
Sebelum memberikan komentar, seseorang perlu membayangkan bagaimana jika komentar tersebut ditujukan kepada dirinya sendiri.
Keempat, tidak menjadikan jumlah like dan share sebagai ukuran kebenaran.
Sesuatu yang banyak dibicarakan belum tentu benar. Sebaliknya, informasi yang benar belum tentu langsung menjadi viral.
Kelima, menggunakan teknologi untuk hal yang produktif.
Media sosial dapat digunakan untuk pendidikan, membangun jaringan, mengembangkan bisnis, berbagi pengetahuan, serta membangun komunitas positif.
Kesimpulan
Fenomena hoaks, cyberbullying, konten AI, dan budaya viral menunjukkan bahwa perkembangan teknologi menghadirkan tantangan baru bagi kemampuan manusia dalam mengelola emosi. Di tengah arus informasi yang semakin cepat, manusia tidak hanya dituntut memiliki kecakapan digital, tetapi juga kecerdasan emosional. Emotional intelligence membantu seseorang mengenali emosinya, mengendalikan respons, memahami perasaan orang lain, serta mengambil keputusan dengan lebih bijaksana. Kemampuan tersebut menjadi semakin penting karena algoritma media sosial dapat memperkuat konten yang sensasional dan emosional [1].
Dari perspektif MKU Estetika Humanisme, teknologi seharusnya tetap digunakan dengan mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan. Manusia tidak boleh kehilangan empati hanya karena berkomunikasi melalui layar. Pada akhirnya, menjadi manusia yang cerdas di era digital bukan hanya tentang mampu menggunakan teknologi, tetapi juga mampu mengendalikan diri ketika menggunakan teknologi. Sebab, sebelum menjadi pengguna media sosial yang cerdas, kita perlu menjadi manusia yang mampu memahami emosi, menghargai orang lain, dan bertanggung jawab terhadap setiap tindakan yang kita lakukan.
Daftar Pustaka
[1] Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia. (2026). Algoritma Media Sosial Membentuk Persepsi, Literasi Digital Jadi Benteng Hadapi Disinformasi.
[2] Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia. (2026). Medsos Tak Bisa Diakses pada 28 Maret 2026? Itu Hoaks!.
[3] Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia. (2026). Hoaks Mudik Gratis Marak Beredar, Kemkomdigi Perketat Patroli Siber Jelang Lebaran.
[4] Universitas Diponegoro. Hubungan antara Kecerdasan Emosional dengan Cyberbullying.
[5] Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia. (2026). Awas Ini Hoaks! Tautan untuk Klaim Internet Gratis Selama Ramadan 2026.