Menjaga Kemanusiaan di Era Digital: Peran EmotionalIntelligence di Tengah Fenomena Cyberbullying danFOMO
Gambar : ilustrasi ai
Oleh:
CITRA NARIS MANDA – Mahasiswa Universitas Siber Asia
Di era serba cepat saat ini, kehadiran media sosial telah mengubah pola interaksi manusia secara drastis.
Fenomena teraktual seperti maraknya aksi cyberbullying (perundungan siber), rage-baiting (konten
provokatif yang sengaja memancing kemarahan), hingga budaya Fear of Missing Out (FOMO) semakin
sering kita temui sehari-hari. Berbagai peristiwa ini menunjukkan satu persoalan mendasar: ketidakmampuan
individu dalam mengelola emosi diri dan berempati terhadap orang lain di ruang digital.
Dalam kacamata MKU Estetika Humanisme (Human Literacy), kondisi ini mempertegas betapa krusialnya
peran Emotional Intelligence (Kecerdasan Emosional) sebagai penyeimbang pesatnya kemajuan teknologi.
Kemajuan alat digital tanpa diimbangi maturitas emosional berisiko menurunkan derajat interaksi sosial menjadi
sekadar akumulasi konflik tanpa empati.
Memahami Pilar Kecerdasan Emosional di Ruang Digital
Kecerdasan emosional bukan sekadar kemampuan untuk menahan diri dari amarah, melainkan kapasitas individu
untuk mengenali, memahami, mengelola, serta memanfaatkan emosi secara positif. Menurut Daniel Goleman,
terdapat lima komponen utama kecerdasan emosional yang sangat relevan dengan realitas digital kita:
• Self-Awareness (Kesadaran Diri): Kemampuan menyadari perasaan dan dampak emosi pribadi sebelum
menuangkannya ke dalam unggahan atau komentar.
• Self-Regulation (Pengaturan Diri): Kemampuan mengendalikan impuls negatif agar tidak terjebak dalam
respon reaktif di dunia maya.
• Motivation (Motivasi Internal): Dorongan untuk menggunakan teknologi secara bijak dan produktif demi
kebaikan bersama.
• Empathy (Empati): Kepekaan untuk merasakan dampak psikologis dari kalimat atau tindakan kita terhadap
pengguna lain di balik layar.
• Social Skills (Keterampilan Sosial): Kemampuan membangun komunikasi digital yang konstruktif dan
menyejukkan.
Dalam fenomena cyberbullying dan hujatan massal di kolom komentar, kita menyaksikan minimnya selfregulation dan empati. Layar komputasi sering kali menciptakan jarak psikologis (deindividuation), membuat
seseorang merasa anonim dan lepas dari rasa tanggung jawab moral. Akibatnya, komentar kebencian terlontar
dengan sangat mudah tanpa memikirkan luka psikologis sang penerima.
Relevansi Human Literacy (Literasi Kemanusiaan)
Di sinilah peran penting Human Literacy. Estetika Humanisme mengajarkan bahwa manusia bukan sekadar
makhluk logis atau teknis, melainkan makhluk yang beretika, memiliki rasa, dan senantiasa berupaya
memanusiakan manusia lainnya (humanizing human beings). Ketika kecerdasan emosional diintegrasikan ke
dalam aktivitas digital, terjadi perubahan perilaku yang mendasar:
Pertama, timbul kesadaran dan pengaturan diri yang matang. Seseorang tidak lagi langsung terpancing merespons
konten provokatif (reactionary behavior), melainkan mampu mengambil jeda untuk berpikir secara kritis dan
objektif. Kedua, hadirnya empati digital membuat setiap individu mempertimbangkan posisi orang lain sebelum
mengetik komentar, sehingga ekosistem ruang digital menjadi lebih sehat dan harmonis.
Kesimpulan
Teknologi dan kecanggihan perangkat tidak akan bernilai optimal jika manusia kehilangan kepekaan
emosionalnya. Mengembangkan kecerdasan emosional adalah langkah konkret mewujudkan nilai-nilai Estetika
Humanisme di abad modern. Dengan kecerdasan emosional yang terasah, kita tidak hanya menjadi pengguna
teknologi yang cerdas secara intelektual, tetapi juga bijak, berempati, serta konsisten memanusiakan sesama di
mana pun kita berada.