Mengendalikan Emosi di Dunia Maya: Mengapa Kecerdasan Emosional dan Digital Empathy Penting Dalam Mencegah Cyber Bullying Yang Marak Terjadi Saat Ini ?
Oleh: Afidah Nur Laila Arini – Mahasiswi Universitas Siber Asia
Era kemajuan digital membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia. Hadirnya internet dan media sosial memberikan kebebasan dalam berkomunikasi tanpa dibatasi oleh jarak dan waktu. Namun, di balik kemudahan ini muncul permasalahan baru yang saat ini marak terjadi yaitu cyberbullying atau perundungan siber. Fenomena ini tidak lagi sebatas perdebatan atau kritik pedas, melainkan telah merambah ke tindakan yang mereduksi martabat kemanusiaan.
Mengapa hal ini terjadi ?
Jawabannya adalah kurangnya kecerdasan emosional dan digital empathy.
Kecerdasan emosional dan digital empathy memiliki hubungan yang erat dalam mencegah cyberbullying. Kecerdasan emosional berfokus pada kemampuan individu untuk mengelola dirinya sendiri, sedangkan digital empathy membantu individu mempertimbangkan kondisi emosional orang lain.
Menurut John Suler (2004) dalam ranah psikologi media, aksi cyberbullying sangat erat kaitannya dengan fenomena online disinhibition effect (seseorang cenderung bertindak lebih bebas, impulsif, atau agresif saat berada di ruang digital dibandingkan saat berinteraksi langsung). Hal ini terjadi karena individu merasa terlindungi oleh jarak fisik serta kemudahan menggunakan identitas anonim, sehingga mereka tanpa ragu melakukan aksi perundungan digital.
Menurut Daniel Goleman (1995) dalam teori Kecerdasan Emosional (EQ), dua fondasi paling krusial dalam berinteraksi adalah kesadaran diri (self-awareness) dan kemampuan mengendalikan diri (self-regulation). Dalam konteks media sosial, kemampuan tersebut membantu seseorang mengendalikan reaksi emosional sebelum memberikan komentar atau merespon suatu permasalahan.
Menurut Kowalski et al. (2014) cyberbullying dapat memberikan dampak negatif bagi individu yang terlibat, aksi tersebut berkaitan dengan lingkungan sosial dan karakteristik komunikasi digital yang memungkinkan suatu informasi tersebar secara cepat.
Realitas Krisis Empati: Pembelajaran dari Kasus Nyata
1. Kasus Alm. Timothy Anugerah: Tragedi perundungan siber yang dialami almarhum Timothy Anugerah menunjukkan betapa kejamnya ruang digital ketika empati telah sirna. Mirisnya, setelah almarhum wafat pada 15 Oktober 2025, foto jasadnya justru disebarkan tanpa izin di grup WhatsApp, disertai komentar dan ejekan dari sesama mahasiswa. Tindakan ini memperlihatkan hilangnya rasa hormat terhadap jenazah dan perasaan keluarga yang berduka.
2. Kasus Alm. Yurizal dan Oknum Tenaga Kesehatan: Kasus perundungan yang dialami oleh Yurizal, seorang pasien yang menjadi sasaran cyberbullying oleh oknum tenaga kesehatan di media sosial. Seseorang yang seharusnya mendapatkan perlindungan, privasi, dan pengayoman medis justru dijadikan objek olok-olokan di ruang publik digital.
Kedua kasus di atas bukan sekadar pelanggaran etika profesional atau tata krama, melainkan bukti nyata hilangnya Human Literacy (Literasi Kemanusiaan) di era modern. Tanpa adanya digital empathy, komentar jahat dan perundungan sering kali dianggap sebagai "hiburan" atau "kritik pedas" semata. Padahal, dengan mengasah kecerdasan emosional, seorang pengguna media sosial akan mampu mengevaluasi dampak emosional dari setiap kata yang ia ketik.
Bagaimana upaya menekan cyberbullying ?
- Pertama, menerapkan 'Jeda Kritis' sebelum berinteraksi. Mempertimbangkan kembali apakah tindakan atau komentar yang akan dikirim berpotensi melukai perasaan serta merendahkan martabat orang lain.
- Kedua, mengambil peran aktif sebagai upstander. Saat menemui praktik cyberbullying hindari sikap apatis. Ambil tindakan tegas dengan menghentikan rantai penyebaran dan melaporkan hal tersebut ke Hindari sikap apatis saat menemui praktik cyberbullying. Ambil tindakan tegas dengan menghentikan rantai penyebarannya serta melaporkan muatan tersebut kepada pihak berwenang atau pengelola platform..
Kasus yang dialami oleh Timothy Anugerah maupun Yurizal menjadi teguran keras bagi kita semua bahwa cyberbullying bukanlah masalah sepele. Mengendalikan emosi di dunia maya bukanlah tanda kelemahan, melainkan wujud tertinggi dari kedewasaan dan kecerdasan emosional. Mengendalikan emosi, menjunjung tinggi etika bermedia sosial, serta mempraktikkan digital empathy merupakan kewajiban moral agar kita tetap menjadi pribadi yang beradab, beretika, dan humanis di era digital saat ini.