Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger
  • Agustus 2026152
  • Juli 202673
  • Juni 202673
  • Mei 2026413
  • April 2026191
  • Maret 202669
  • Februari 202677
  • Januari 202677
  • Desember 202576
  • November 202573
  • Oktober 202584
  • September 202564
  • Agustus 2025115
  • Juli 2025122
  • Juni 2025111
  • Mei 2025112
  • April 202587
  • Maret 2025132
  • Februari 2025117
  • Januari 2025107
  • Desember 2024149
  • November 2024176
  • Oktober 202499
  • September 2024102
  • Agustus 2024130
  • Juli 2024177
  • Juni 2024103
  • Mei 2024297
  • April 2024139
  • Maret 202464
  • Februari 202469
  • Januari 202485
  • Desember 202383
  • November 202388
  • Oktober 2023211
  • September 2023206
  • Agustus 2023144
  • Juli 2023197

Laporkan Penyalahgunaan

  •  Banner Gratis, Warung Makan Makin Laris! Inisiatif CSR dari Mekar Jaya Digiprint dan Mahasiswa Universitas Siber Asia

    Banner Gratis, Warung Makan Makin Laris! Inisiatif CSR dari Mekar Jaya Digiprint dan Mahasiswa Universitas Siber Asia

  • 4 Jenis Norma di Masyarakat yang Wajib Kamu Tahu Biar Hidup Makin Harmonis!

    4 Jenis Norma di Masyarakat yang Wajib Kamu Tahu Biar Hidup Makin Harmonis!

  • Tragis! Pekerja PT Jui Shin Tewas Diduga Terjebak Conveyor Batu Bara di KIM 2

    Tragis! Pekerja PT Jui Shin Tewas Diduga Terjebak Conveyor Batu Bara di KIM 2

BREAKING NEWS
ZTV

ZTV

  • Media Network
  • _Perintah Rakyat
  • _METRO - NETWORK id
  • _ZTV ACEH
  • _SATU PIKIRAN
  • News Network
  • _DAERAH
  • _GLOBAL
  • _HUKUM - KRIMINAL
  • _Dokumentasi
  • _Film
  • _KPOP
  • _Advetorial
  • _Wisata dan Kuliner
  • 🏙️ Nasional
  • 🏦 Ekonomi
  • 📰 News
  • 🗣️ Pilihan Rakyat
  • NEWS
  • NASIONAL
  • PENDIDIKAN
  • FILM
  • INTERNASIONAL
  • MEGAPOLITAN
  • POLITIK
  • PILIHAN EDITOR
  • JABODETABEK
  • KPOP
  • ADVETORIAL
  • REGIONAL
  • INDONESIA
  • FOTO
  • OPINI
  • EKONOMI
ZTV
  • ZTV
  • ZTV ACEH
  • METRO NETWORK
  • SATU PIKIRAN
  • PERINTAH RAKYAT
  • News
  • Pendidikan
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Film
  • Internasional
  • Megapolitan
  • Kriminal
  • Regional
  • Politik
  • Pilihan Editor
  • Pilihan Rakyat
  • Jabodetabek
  • KPOP
  • Advetorial
  • Opini
  • Beranda
  • Opini

KETIKA LAYAR MERAMPAS FOKUS: MINDFULNESS SEBAGAI JALANPULANG DI TENGAH BADAI DOOMSCROLLING

Efthariena Ishak
Agustus 16, 2026
Ganbar : ilustrasi ai 



Oleh : 
Devi Ayu Santiati

Pendahuluan
Coba perhatikan orang-orang di kereta, di ruang tunggu dokter, bahkan di meja makan
bersama keluarga sendiri. Hampir semua kepala menunduk, mata terpaku ke layar kecil yang
menyala terus tanpa henti. Fenomena ini bukan hal baru sebetulnya, tetapi intensitasnya
belakangan meningkat tajam, dan istilah doomscrolling pun makin akrab di telinga generasi
muda, terutama sejak berbagai isu global silih berganti muncul di linimasa, mulai dari krisis
ekonomi, bencana alam, sampai konflik politik yang tak kunjung reda. Ironisnya, semakin
sering seseorang menggulir layar demi mencari informasi terbaru, semakin ia terjebak dalam
siklus kecemasan yang justru menggerus energi mentalnya sendiri, membuatnya lelah tanpa
sebab yang jelas, gelisah tanpa objek yang pasti.
Fenomena inilah yang menjadi pijakan esai ini, sebab ia menyentuh langsung persoalan
yang selama ini dibahas dalam kajian Estetika Humanisme, khususnya pada topik mindfulness
and focus. Manusia modern, dengan segala kecanggihan teknologi yang dimilikinya, justru
semakin jauh dari kemampuan hadir penuh pada momen kini. Padahal, menurut Kabat-Zinn
(2015), mindfulness pada dasarnya adalah kesadaran yang muncul lewat perhatian yang
disengaja terhadap momen saat ini, tanpa menghakimi apa yang dirasakan atau dipikirkan.
Definisi sederhana ini, anehnya, terasa begitu sulit dipraktikkan di zaman yang serba cepat dan
penuh notifikasi, seolah kesunyian sudah menjadi barang langka yang mesti diperjuangkan
mati-matian.
Menariknya, persoalan ini tidak berdiri sendiri. Ia berkelindan dengan berbagai isu lain
yang juga menjadi perhatian kajian humanistik, seperti kecerdasan emosional, konsep diri,
hingga kemampuan berpikir kritis dan sistematis yang kian dituntut di era Society 5.0. Ketika
perhatian manusia terus-menerus terfragmentasi oleh notifikasi, pesan instan, dan arus berita
yang tak pernah berhenti mengalir, kapasitas untuk berpikir mendalam, merenung, dan
membuat keputusan yang matang pun ikut tergerus pelan-pelan, nyaris tak disadari.
Esai ini disusun bukan sekadar untuk menjelaskan apa itu mindfulness secara teoretis,
melainkan mencoba membaca ulang fenomena doomscrolling dan krisis fokus generasi digital
melalui kacamata humanistik. Penulis meyakini, persoalan ini bukan semata soal disiplin diri
yang lemah, melainkan soal bagaimana manusia kehilangan ruang batin untuk sekadar diam
sejenak, merenung, dan menyadari dirinya sendiri di tengah derasnya arus informasi. Melalui
telaah pustaka atas sejumlah kajian empiris terkini, esai ini berupaya merumuskan sebuah
argumen bahwa mindfulness bukan sekadar tren kesehatan mental, melainkan kebutuhan
eksistensial manusia kontemporer.
Fenomena Aktual: Doomscrolling dan Krisis Perhatian Digital
Doomscrolling merujuk pada kebiasaan menggulir media sosial atau portal berita
secara berlebihan, kerap tanpa tujuan jelas, meski konten yang dikonsumsi justru memicu
kecemasan atau kesedihan. Perilaku ini banyak diperbincangkan di berbagai platform
belakangan ini, dan tidak sedikit generasi muda mengaku sulit lepas dari kebiasaan tersebut
walau sudah menyadari dampak buruknya bagi kesehatan mental mereka. Yang menarik,
kesadaran akan bahaya ini justru tidak serta-merta menghentikan perilakunya, sebab ada
semacam candu psikologis yang membuat jari terus menggulir layar, seakan berhenti sejenak
saja terasa seperti kehilangan sesuatu yang penting.
Dari sudut pandang Estetika Humanisme, gejala ini bisa dibaca sebagai bentuk
keterasingan manusia dari dirinya sendiri. Manusia, yang semestinya menjadi subjek aktif
dalam menentukan arah perhatiannya, justru berubah menjadi objek pasif yang digiring
algoritma. Ruang kontemplatif yang dulu tersedia lewat momen sunyi, seperti menunggu bus
tanpa gawai atau sekadar duduk memandangi langit, kini nyaris hilang tergerus kebiasaan
menggenggam ponsel setiap saat. Padahal, ruang-ruang kosong semacam itulah yang dulu
memberi kesempatan bagi pikiran untuk mengendap, bagi emosi untuk diproses, dan bagi diri
untuk sekadar bertemu dengan dirinya sendiri tanpa gangguan.
Lebih jauh lagi, fenomena ini juga berkelindan erat dengan persoalan pengelolaan
emosi. Ketika seseorang terus-menerus terpapar berita buruk tanpa jeda, kemampuannya
mengelola amarah dan kecemasan pun ikut terganggu. Kajian mutakhir oleh Kjærvik dan
Bushman (2024) menunjukkan bahwa aktivitas yang justru meningkatkan gairah emosional,
alih-alih menurunkannya, cenderung memperparah kemarahan seseorang, sebuah temuan yang
relevan untuk memahami mengapa konsumsi berita negatif tanpa henti dapat memicu spiral
emosi yang sulit dihentikan. Senada dengan itu, tinjauan meta-analitik terbaru mengenai
strategi regulasi emosi turut menegaskan bahwa kemampuan menenangkan diri secara sadar
menjadi faktor krusial dalam meredam eskalasi emosi negatif (Scientific Reports, 2025).
Kajian Konseptual: Mindfulness sebagai Latihan Perhatian
Konsep mindfulness sejatinya bukan barang baru dalam tradisi kontemplatif, namun
penerapannya dalam konteks psikologi modern baru berkembang pesat lewat kerja Kabat-Zinn
dan koleganya. Dalam studi klasiknya, program reduksi stres berbasis meditasi terbukti efektif
menurunkan gejala pada pasien dengan gangguan kecemasan, dengan hasil yang bertahan
cukup lama pasca-intervensi (Kabat-Zinn dkk., 1992). Temuan ini menjadi salah satu fondasi
penting yang kemudian melahirkan berbagai riset lanjutan tentang manfaat mindfulness bagi
kesehatan mental dan kognitif, sekaligus meletakkan dasar ilmiah bagi praktik yang
sebelumnya dianggap sekadar ritual spiritual belaka.
Verhaeghen (2021) melalui meta-analisis yang cukup komprehensif menegaskan
bahwa mindfulness pada intinya merupakan bentuk latihan atensi, di mana performa perhatian
seseorang berkorelasi dengan seberapa konsisten ia melatih kesadaran penuh. Meski begitu, ia
juga mencatat bahwa besaran efek antar studi cukup bervariasi, sehingga generalisasi perlu
dilakukan dengan hati-hati, tidak asal disimpulkan begitu saja. Variasi ini, menurutnya,
kemungkinan dipengaruhi oleh perbedaan durasi latihan, metode pengukuran, serta
karakteristik populasi yang diteliti, sehingga masih diperlukan riset lanjutan dengan desain
yang lebih terkontrol.
Sementara itu, riset yang lebih baru oleh Mora Álvarez dkk. (2023) memperlihatkan
bahwa pelatihan mindfulness berbasis web pun mampu memberi dampak positif terhadap
atensi dan menunjukkan indikasi neuroplastisitas, sebuah temuan yang membuka peluang
besar bagi intervensi psikologis yang lebih murah dan mudah diakses generasi muda. Hal ini
penting sekali digarisbawahi, sebab selama ini banyak orang beranggapan mindfulness hanya
bisa dilatih lewat retret meditasi yang mahal atau kelas khusus yang memakan waktu, padahal
riset ini justru menunjukkan sebaliknya, bahwa teknologi digital yang selama ini dituduh
sebagai biang keladi krisis fokus, ternyata bisa pula dimanfaatkan sebagai medium
penyembuhan, asal digunakan dengan niat dan cara yang tepat.
Konsep ini juga berkelindan dengan gagasan psikologi humanistik klasik, terutama
pemikiran Rogers (1951) tentang pentingnya kesadaran otentik dan penerimaan diri tanpa
syarat sebagai fondasi pertumbuhan psikologis yang sehat. Mindfulness, dalam pengertian ini,
bukan sekadar teknik relaksasi, melainkan jalan menuju keselarasan antara diri yang dialami
dengan diri yang diidealkan, sesuatu yang menjadi inti perhatian pendekatan humanistik sejak
awal kemunculannya. Berikut disajikan ringkasan beberapa temuan riset empiris terkait
mindfulness yang relevan dengan pembahasan esai ini, guna memperjelas benang merah
argumentasi yang dibangun:
Peneliti /
Tahun Fokus Kajian Temuan Utama
Kabat-Zinn
dkk. (1992)
Program reduksi stres berbasis
meditasi pada gangguan
kecemasan
Program meditasi terstruktur terbukti
menurunkan gejala kecemasan pada pasien
klinis secara konsisten selama masa tindak
lanjut
Verhaeghen
(2021)
Meta-analisis mindfulness
sebagai latihan atensi
Praktik mindfulness jangka panjang
berkorelasi dengan peningkatan performa
atensi, meski besaran efek bervariasi antar
studi
Mora Álvarez
dkk. (2023)
Pelatihan mindfulness berbasis
daring terhadap fungsi kognitif
Pelatihan daring memberi perbaikan atensi
dan indikasi neuroplastisitas, membuka
peluang intervensi yang lebih terjangkau
Pembahasan: Mindfulness sebagai Jalan Pulang
Menariknya, jika kita renungkan lebih jauh, doomscrolling dan mindfulness
sesungguhnya berdiri di dua kutub yang berlawanan. Yang satu menyeret perhatian ke luar diri
secara kompulsif, sedang yang lain mengajak kesadaran untuk kembali ke dalam, ke tubuh, ke
napas, ke momen yang sedang berlangsung. Barangkali di sinilah letak relevansi Estetika
Humanisme, sebab pada akhirnya persoalan ini bukan sekadar soal teknologi, melainkan soal
bagaimana manusia memaknai eksistensinya sendiri di tengah dunia yang kian bising, kian
menuntut, dan kian sulit memberi ruang untuk hening barang sejenak.
Penulis melihat, praktik mindfulness bukan solusi ajaib yang serta-merta menghapus
kecanduan digital. Namun setidaknya, ia menawarkan ruang jeda, semacam oase kecil di
tengah gurun notifikasi yang tak pernah berhenti. Ketika seseorang belajar duduk diam lima
menit saja tanpa menyentuh ponsel, sesungguhnya ia sedang melatih kembali ototnya untuk
hadir, sesuatu yang perlahan memudar akibat kebiasaan multitasking digital yang berlebihan.
Latihan sekecil apa pun, jika dilakukan konsisten, lambat laun akan membentuk kapasitas
atensi yang lebih tangguh, sebagaimana ditunjukkan pula oleh temuan Verhaeghen (2021)
bahwa performa atensi berkorelasi dengan konsistensi latihan kesadaran.
Selain itu, ada dimensi humanistik yang tak boleh dilupakan di sini: manusia bukan
sekadar mesin pemroses informasi, melainkan makhluk yang butuh makna, ketenangan, dan
koneksi mendalam dengan dirinya sendiri maupun sesama. Krisis fokus yang dialami generasi
digital, jika dibiarkan tanpa refleksi, berpotensi mengikis kapasitas manusia untuk berpikir
kritis, ilmiah, dan sistematis, sebuah kemampuan yang justru sangat dibutuhkan di era Society
5.0 yang menuntut kolaborasi erat antara manusia dan teknologi (Fukuda, 2020). Kolaborasi
yang dimaksud tentu bukan sekadar kolaborasi teknis, melainkan juga kolaborasi batin, di
mana manusia tetap menjadi pusat kendali atas teknologi yang digunakannya, bukan
sebaliknya.
Lebih jauh, keterampilan mengelola atensi ini pun tak bisa dilepaskan dari kecerdasan
emosional secara lebih luas. Sebagaimana ditegaskan Goleman dan Cherniss (2024),
kepemimpinan yang optimal justru lahir dari kemampuan seseorang mengenali dan mengelola
emosinya sendiri terlebih dahulu, sebelum kemudian mampu memahami dan memengaruhi
emosi orang lain. Dalam konteks krisis fokus digital, argumen ini bisa diperluas: seseorang
yang gagal mengelola perhatiannya sendiri, besar kemungkinan juga akan kesulitan mengelola
relasi, pekerjaan, bahkan arah hidupnya secara keseluruhan. Fokus, dengan demikian, bukan
sekadar kemampuan kognitif semata, melainkan juga fondasi bagi kematangan emosional dan
sosial seseorang.
Oleh sebab itu, gerakan kecil semacam digital detox, jeda layar, atau sesi meditasi
singkat sebelum tidur, sesungguhnya bukan tren gaya hidup semata. Ia adalah bentuk
perlawanan halus terhadap arus yang terus-menerus berusaha merampas perhatian manusia.
Dan perlawanan itu, sekecil apa pun bentuknya, tetap layak dirayakan, sebab dari sanalah
manusia perlahan belajar merebut kembali kendali atas dirinya sendiri, satu napas sadar demi
satu napas sadar.
Implikasi bagi Kehidupan Akademik dan Profesional
Persoalan krisis fokus ini tentu tidak berhenti pada ranah personal semata, melainkan
merembes pula ke ranah akademik dan profesional. Mahasiswa yang terbiasa doomscrolling di
sela-sela jam belajar, misalnya, kerap mengalami kesulitan mempertahankan konsentrasi saat
membaca literatur panjang atau menyusun karya tulis ilmiah. Pola pikir yang terbiasa dengan
potongan informasi singkat dan cepat berganti, lambat laun membentuk kebiasaan berpikir
yang dangkal dan cenderung enggan menelaah sesuatu secara mendalam.
Dalam konteks dunia kerja pun demikian. Kepemimpinan yang efektif, sebagaimana
disinggung dalam berbagai kajian kontemporer, menuntut kemampuan hadir penuh saat
berinteraksi dengan tim, mendengarkan dengan saksama, serta mengambil keputusan
berdasarkan pertimbangan matang, bukan reaksi impulsif semata (Fischer & Sitkin, 2023).
Pemimpin yang perhatiannya terus terpecah oleh gawai dan notifikasi, akan sulit membangun
kepercayaan mendalam dengan timnya, sebab kehadiran yang setengah-setengah jarang sekali
melahirkan koneksi yang bermakna.
Dengan demikian, latihan mindfulness sesungguhnya bukan sekadar urusan kesehatan
mental individu, melainkan juga investasi jangka panjang bagi kualitas relasi sosial,
produktivitas akademik, dan efektivitas kepemimpinan seseorang di masa depan. Sayangnya,
kesadaran akan hal ini masih tergolong minim di kalangan mahasiswa, yang kerap menganggap
fokus sebagai bakat bawaan, bukan keterampilan yang bisa dilatih dan dipupuk secara sadar
dari waktu ke waktu.
Kesimpulan
Fenomena doomscrolling yang marak belakangan ini sesungguhnya menyingkap
persoalan yang jauh lebih dalam ketimbang sekadar kebiasaan buruk bermedia sosial. Ia
mencerminkan krisis perhatian dan keterasingan manusia dari momen kini, sesuatu yang justru
menjadi inti perhatian dalam kajian mindfulness. Berdasarkan berbagai temuan riset yang telah
dibahas, praktik kesadaran penuh terbukti mampu memperbaiki performa atensi serta
menurunkan kecemasan, walau efeknya tentu tidak instan dan perlu dilatih secara konsisten,
sebagaimana ditegaskan berulang kali dalam literatur yang ditelaah.
Dalam bingkai Estetika Humanisme, upaya melatih mindfulness dapat dimaknai
sebagai ikhtiar memanusiakan kembali diri sendiri di tengah dunia yang kian terdigitalisasi.
Bukan menolak teknologi sepenuhnya, melainkan belajar menempatkan diri sebagai subjek
yang sadar dan memilih, bukan objek yang pasif digiring algoritma tanpa henti. Pada akhirnya,
kemampuan untuk hadir penuh pada momen kini bukan sekadar keterampilan psikologis biasa,
melainkan bentuk penghormatan tertinggi manusia terhadap eksistensinya sendiri, sesuatu
yang layak diperjuangkan meski jalannya tidak selalu mudah.
Sebagai penutup, penulis berharap esai ini dapat menjadi bahan renungan bersama,
khususnya bagi generasi muda yang sehari-harinya bergelut erat dengan layar dan notifikasi.
Sebab pada akhirnya, kemampuan untuk sesekali meletakkan ponsel, menarik napas dalam,
dan sekadar hadir di sini dan kini, mungkin justru menjadi bentuk kemewahan yang paling
dibutuhkan manusia kontemporer, jauh melampaui kemewahan materi apa pun yang
ditawarkan zaman ini.
Daftar Pustaka
Fischer, T., & Sitkin, S. B. (2023). Leadership styles: A comprehensive assessment and way
forward. Academy of Management Annals, 17(1), 331–372.
https://doi.org/10.5465/annals.2020.0340
Fukuda, K. (2020). Science, technology and innovation ecosystem transformation toward
Society 5.0. International Journal of Production Economics, 220, 107460.
https://doi.org/10.1016/j.ijpe.2019.07.033
Goleman, D., & Cherniss, C. (2024). Optimal leadership and emotional intelligence. Leader to
Leader, 2024(113), 7–12. https://doi.org/10.1002/ltl.20813
Kabat-Zinn, J. (2015). Mindfulness. Mindfulness, 6(6), 1481–1483.
https://doi.org/10.1007/s12671-015-0456-x
Kabat-Zinn, J., Massion, A. O., Kristeller, J., Peterson, L. G., Fletcher, K. E., Pbert, L.,
Lenderking, W. R., & Santorelli, S. F. (1992). Effectiveness of a meditation-based
stress reduction program in the treatment of anxiety disorders. American Journal of
Psychiatry, 149(7), 936–943. https://doi.org/10.1176/ajp.149.7.936
Kjærvik, S. L., & Bushman, B. J. (2024). A meta-analytic review of anger management
activities that increase or decrease arousal: What fuels or douses rage? Clinical
Psychology Review, 109, 102414. https://doi.org/10.1016/j.cpr.2024.102414
Mora Álvarez, M. G., Hölzel, B. K., Bremer, B., Wilhelm, M., Hell, E., Tavacioglu, E. E.,
Torske, A., & Koch, K. (2023). Effects of web-based mindfulness training on
psychological outcomes, attention, and neuroplasticity. Scientific Reports, 13, 22635.
https://doi.org/10.1038/s41598-023-48706-0
Rogers, C. R. (1951). Client-centered therapy: Its current practice, implications, and theory.
Houghton Mifflin.
Scientific Reports. (2025). Anger and emotion regulation strategies: A meta-analysis.
Scientific Reports, 15, 6931. https://doi.org/10.1038/s41598-025-91646-0
Verhaeghen, P. (2021). Mindfulness as attention training: Meta-analyses on the links between
attention performance and mindfulness interventions, long-term meditation practice,
and trait mindfulness. Mindfulness, 12, 564–581. https://doi.org/10.1007/s12671-020-
01532-1

Baca Juga
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Berita Terkait
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Rekomendasi
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Tampilkan lebih banyak
Posting Komentar
Batal
Gambar
Terpopuler
  • Anger Management di Era Media Sosial: Belajar Mengendalikan Emosi Sebelum Menyesal

  • Membangun Kesadaran Bermedia Sosial Melalui Emotional Intelligence untuk Mencegah Cyberbullying

  • Tokutei Ginou di Tengah Krisis Tenaga Kerja Jepang: Peluang atau Hanya Solusi Sementara?

  • Menemukan Jati Diri di Era AI : Seni Mengubah Overthinking Menjadi Outstanding

  • Mewujudkan Keindahan Hidup melalui Perspektif Psikologi Humanistik dalam Estetika Humanisme

  • Ketika Teknologi Meniru Manusia: Tantangan Etika dan Nilai Kemanusiaan di Era Kecerdasan Buatan

  • Di Balik Pertumbuhan Sebuah Brand: Fondasi Sistem, SDM, dan Kepemimpinan

  • Komentar Toxic di Media Sosial: Cerminan Krisis Kecerdasan Emosional di Era Digital

  • INDUSTRY 4.0 & SOCIENTY 5.0 KETIKA AI MAKIN PINTAR, MENGAPA KECERDASAN EMOSIONAL MANUSIA MAKIN PENTING?

  • Ketika AI Semakin Pintar, Apakah Manusia Semakin Kritis?, Menjaga Human Literacy di Era Kecerdasan Buatan

Ngaji Bareng
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Fokus
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Foto
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Shorts
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Tv
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
ZTV NETWORK
  • Brand Logo
  • Brand Logo
  • Brand Logo
ZTV
Ikuti Kami
  • Redaksi
  • About
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
© ZTV - SINCE 2021