EVOLUSI PROFESI WARTAWAN DALAM RUANG REDAKSI BERSAMA AI
Gambar : Narasumber saat Mengajar Jurnalis (Dokumentasi pribadi).
Oleh : Sri Nugrahani Ramadhani Kallyana - Mahasiswa Universitas Siber Asia
"Posisimu pasti akan tergantikan oleh AI!"
Tak jarang kita mendengar kalimat tersebut keluar dari rekan kerja, dosen, hingga atasan kita. Lantas, bagaimana cara kita menghadapinya?
Pada dasarnya, Akal Imitasi atau yang lebih kita kenal sebagai Artificial Intelligence, adalah sebuah program mesin pembelajaran yang kerap membantu masyarakat dalam melakukan pekerjaannya. Di zaman serba modern ini, tidak hanya kerja keras dan kerja cerdas yang dibutuhkan, melainkan juga kerja cepat. Hal ini terbukti dari berbagai perusahaan, dari yang kecil hingga raksasa, yang mulai menggantikan posisi para pekerjanya dengan AI.
Fenomena ini memicu gelombang PHK di berbagai sektor, bahkan berpotensi mendorong angka pengangguran semakin tinggi apabila masyarakat tidak mampu mengikuti laju perkembangan teknologi. Perubahan ini merambah ke berbagai ranah: dunia teknologi, pendidikan, industri kreatif, hingga jurnalistik.
Jurnalisme di Persimpangan
Dunia jurnalisme mengalami perubahan yang signifikan dari tahun ke tahun. Kehadiran AI membantu mengotomatiskan proses yang sebelumnya dilakukan secara manual, mulai dari pengumpulan fakta, peringkasan data, hingga penyusunan laporan awal. Namun di balik efisiensi itu, para jurnalis dituntut untuk terus berevolusi di dalam ruang redaksi.
Crypto Hermawan, seorang akademisi di Politektnik LP3I Jakarta Kampus Depok dan praktisi jurnalistik di TVRI, melihat langsung bagaimana perubahan ini berdampak nyata di lingkungan kampus tempatnya mengajar.
"AI (itu ada) untuk mempercepat proses bekerja, bukan proses berpikir," tegasnya, merespons fakta bahwa sekitar 90 persen mahasiswanya menggunakan AI dalam pembuatan naskah jurnalistik.
Menurut Crypto, bagian pekerjaan jurnalistik yang paling terdampak secara positif adalah percepatan pengumpulan dan peringkasan data. Ia menggambarkan AI bukan sekadar mesin pencari seperti Google, melainkan sebagai asisten data yang mampu membantu dari proses mengumpulkan data mentah hingga menghasilkan ringkasan poin-poin penting secara otomatis.
Pedang Bermata Dua
Namun Crypto tidak berhenti di sisi positifnya. Ia mengingatkan bahwa AI adalah pedang bermata dua yaitu bisa sebagai peluang besar untuk efisiensi, sekaligus ancaman serius jika digunakan tanpa pertimbangan.
Data lapangan yang ia temukan menunjukkan fenomena yang memprihatinkan: sebagian besar mahasiswa menggunakan AI secara sembarangan tanpa etika dan pertimbangan kritis. Mereka membiarkan AI mengambil alih proses berpikir, sehingga melewatkan proses pembelajaran yang fundamental bagi seorang jurnalis.
"Para jurnalis harus mengerti bahwa semua hal yang AI berikan adalah hasil dari pengumpulan segala informasi yang ada di internet, terlepas informasinya salah atau benar," ujarnya.
Crypto juga menyoroti dilema etika yang konkret. Dalam kasus penggunaan rilis resmi dari Istana, misalnya, seorang jurnalis tidak boleh membiarkan AI memperbaiki tata bahasa atau melakukan fine-tuning tanpa pengawasan manusia yang ketat. Meskipun belum ada ketentuan baku mengenai etika penggunaan AI dalam jurnalisme, ia menekankan bahwa prinsip tanggung jawab dan akurasi harus tetap menjadi pegangan utama.
Pergeseran Konsumsi Berita
Bersamaan dengan meluasnya penggunaan AI, media sosial juga turut mengubah lanskap penyebaran informasi secara drastis. Perilaku masyarakat dalam mengonsumsi berita kini berbeda jauh dibandingkan beberapa tahun lalu.
Salah satu pergeseran paling mencolok adalah munculnya fenomena "homeless media", media yang beroperasi di luar kendali regulasi Dewan Pers, yang kini berhadapan langsung dengan media mainstream. Sementara media mainstream terikat pada kode etik dan regulasi yang ketat, media-media lain bergerak tanpa ikatan tersebut. Akibatnya, pola konsumsi berita masyarakat kini cenderung semakin instan dan terfragmentasi.
Jurnalisme Manusia Tidak Akan Mati
Di tengah kekhawatiran soal masa depan profesi wartawan, Crypto justru memberikan pandangan yang optimistis namun realistis. Menurutnya, posisi jurnalis sebagai penutur fakta, data, dan laporan pandangan mata tidak akan hilang. Yang akan berubah adalah bentuknya.
"Jurnalisme manusia akan tetap ada, tetapi akan berevolusi menjadi multiskill journalism," katanya. Ke depan, seorang wartawan tidak lagi hanya menulis, melainkan juga dituntut menjadi Video Journalist (VJ), editor, sekaligus ahli dalam menembus narasumber, semua dalam satu peran.
Pesan Crypto untuk mahasiswa komunikasi yang akan menjadi jurnalis masa depan pun tegas: jangan takut pada teknologi, tetapi jangan pula diperbudak olehnya.
"AI ada untuk mempercepat kerja Anda, bukan untuk menggantikan kemampuan berpikir kritis dan naluri etis Anda. Jaga etika di atas segalanya. Masa depan jurnalistik ada di tangan Anda yang mampu memadukan kecepatan teknologi dengan akurasi dan tanggung jawab manusiawi."