Empati sebagai Seni Kepemimpinan: Perspektif Humanistic Leadership dalam Menghadapi Dilema Kemanusiaan di Dunia Kerja
(Ilustrasi AI)
Oleh : Putu Gede Agus Eka Sanjaya
(Universitas Siber Asia)
ZTV - Dunia kerja di era modern sekarang memberikan banyak tuntutan yang semakin kompleks untuk organisasi. Persaingan bisnis yang ketat, teknologi yang terus berkembang pesat, target pencapaian yang semakin tinggi serta meningkatnya tuntutan produktivitas kerja membuat organisasi dituntut untuk bekerja lebih efektif dan efisien.
Dalam kondisi tersebut, pemimpin berperan penting untuk memastikan organisasi mampu mencapai targetnya. Selain itu, pemimpin juga dituntut agar mampu menjaga kedisiplinan dan memastikan pekerjaan berjalan sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan.
Namun, pada kenyataannya, memimpin tidaklah sesederhana menjalankan sebuah aturan teknis dan manajerial. Pemimpin juga perlu untuk memahami bagaimana cara memperlakukan dan mengelola karyawan.
Sebab karyawan yang bekerja di dalam organisasi tersebut adalah manusia yang memiliki kondisi emosional, kebutuhan untuk dihargai dan berkembang serta berbagai masalah pribadi yang terkadang turut memengaruhi kinerjanya.
Dan salah satu persoalan yang sering terjadi yakni benturan antara kepentingan organisasi dengan kebutuhan personal karyawan.
Adapun salah satu contoh kasus di Indonesia yang baru ini menjadi perhatian publik terkait benturan kepentingan organisasi dengan kebutuhan manusia yakni kasus viral mengenai seorang karyawan restoran di Medan yang meminta izin karena orang tuanya sakit, namun permintaan tersebut menimbulkan polemik dengan atasannya hingga muncul permintaan untuk mengundurkan diri.
Kasus ini pun menjadi perbincangan di media sosial karena berkaitan sangat dekat dengan kehidupan manusia, yaitu hubungan antara tanggung jawab pekerjaan dan tanggung jawab terhadap keluarga.
Dalam situasi seperti ini, pemimpin berada pada posisi yang lumayan sulit dan dilema. Selain itu, situasi tersebut juga menunjukkan bahwa kepemimpinan memiliki sisi yang kompleks bukan hanya sekedar memberikan arahan. Cara pemimpin dalam merespon situasi juga akan menunjukkan apakah kepemimpinan hanya berorientasi pada aturan organisasi atau sudah mempertimbangkan manusia sebagai bagian penting di organisasi.
Berdasarkan pemaparan permasalahan tersebut nampak bahwa kepemimpinan membutuhkan kemampuan untuk menyeimbangkan antara kepentingan organisasi dengan kebutuhan manusia.
Pada titik inilah empati menjadi salah satu nilai penting dalam memimpin. Empati berfokus pada kemampuan memahami kondisi seseorang sebelum memberikan penilaian atau mengambil keputusan.
Dalam gagasan humanistik Carl Rogers (1961) juga menyampaikan bahwa empati merupakan salah satu unsur penting dalam hubungan interpersonal karena seseorang membutuhkan perasaan bahwa dirinya dipahami oleh orang lain.
Akan tetapi empati ini bukan berarti harus selalu menyetujui semua keinginan karyawan atau memberikan kelonggaran pada setiap keadaan. Setelah memahami situasi karyawan terlebih dahulu, barulah pemimpin dapat mencari solusi yang tepat dan juga tetap mempertimbangkan kebutuhan organisasi sekaligus kondisi individu.
Dengan demikian, empati menjadi kemampuan yang dapat membantu pemimpin menerapkan disiplin secara lebih manusiawi.
Oleh karena itu, empati menjadi salah satu kemampuan seni kepemimpinan yang penting dimiliki oleh seorang pemimpin. Dimulai dengan memberikan kesempatan pada karyawan untuk menyampaikan, kemudian pemimpin mendengarkan dan memahami, selanjutnya mempertimbangkan solusi untuk didiskusikan seperti misalnya pada kasus tersebut solusinya bisa dengan memberikan penggantian jadwal, menawarkan pertukaran shift, pembagian tugas sementara, atau bentuk fleksibilitas lainnya yang memungkinkan dan sesuai dengan kebijakan organisasi.
Sehingga antara empati dan disiplin sebenarnya mampu untuk berjalan bersama dengan syarat pemimpin bisa berkomunikasi secara terbuka dan mencarikan solusi yang mempertimbangkan kepentingan kedua belah pihak.
Hal tersebut sejalan dengan konsep Humanistic Leadership yakni pendekatan kepemimpinan yang menempatkan nilai-nilai kemanusiaan dan kepedulian sebagai bagian penting dalam proses pencapaian tujuan organisasi (Gotsis&Grimani; 2024). Pemimpin tidak hanya berusaha membuat karyawan bekerja secara efektif, tetapi juga berusaha menciptakan hubungan kerja yang didasarkan pada menghargai, kepercayaan, dan perhatian terhadap kebutuhan manusia.
Sehingga berdasarkan perspektif humanistic leadership terhadap dilema kemanusiaan pada kasus tersebut bukan sekadar apakah cuti harus diberikan atau tidak. Melainkan persoalan yang mendasar adalah bagaimana proses komunikasi dan pengambilan keputusan dilakukan.
Seorang pemimpin dapat menolak suatu permintaan apabila terdapat alasan organisasi yang lebih kuat, tetapi penolakan tersebut juga dilakukan secara empatik dan menghargai karyawan.
Selain itu, dengan nilai empati pada perspektif humanistic leadership juga bisa menjadi sebuah investasi jangka panjang organisasi sebab pada akhirnya bukan hanya memberikan keuntungan bagi karyawan.
Lingkungan kerja yang mendukung dapat membantu organisasi mempertahankan tenaga kerja, meningkatkan keterlibatan, dan menciptakan hubungan yang lebih sehat antara karyawan dan pemimpin. Gagasan tersebut juga didukung oleh hasil penelitian yang dilakukan oleh Martin Zebua dan Chairul Anam (2025) yang memaparkan bahwa kepemimpinan yang berlandaskan nilai-nilai humanistik juga memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kinerja dan loyalitas karyawan.
Bahkan beberapa karyawan mengaku lebih termotivasi untuk bekerja secara maksimal karena merasa dihargai dan dipercaya oleh pimpinan.
Berdasarkan pembahasan yang sudah dipaparkan maka dapat ditarik kesimpulan bahwa empati sebagai seni kepemimpinan bukan hanya sekadar bagaimana seorang pemimpin mampu membuat karyawan mencapai target dan disiplin sesuai aturan organisasi, tetapi bagaimana target tersebut dapat dicapai tanpa mengabaikan dimensi kemanusiaan.
Humanistic Leadership memberikan perspektif bahwa kepemimpinan pada sebuah organisasi agar efektif perlu menggabungkan antara ketegasan dengan empati, tuntutan kinerja dengan dukungan, serta kepentingan organisasi dengan penghargaan terhadap martabat individu.
Daftar Pustaka
1.Jacobalis, Rida Justin. (2025). Model Konseptual Human-Centered Leadershio Berbasis Empati Untuk Meningkatkan Loyalitas Dan Produktivitas Jangka Panjang. Momil. https://share.google/pCYKFZIL9eHGgEE1d
2.Kurniawan, Endra. (April, 2026). Viral Karyawan Mie Gacoan, Izin Orang Tua Malah Disuruh Resign, SPV Kena Sanksi Tegas. Dalam https://m.tribunnews.com/regional/7814514/viral-karyawan-mie-gacoan-izin-rawat-orang-tua-sakit-malah-disuruh-resign-spv-kena-sanksi-tegas. Diakses 8 Agustus 2026.
3.Gotsis & Grimani. (2024). Humanistic Leadership. https://link.springer.com/rwe/10.1007/978-3-031-32257-0_14-1
4.Roger, C.R. (1961). On Becoming a Person : A Theraphist’s view of psychotherapy. Houghton Mifflin.
5.Zebua, Martin & Chairul Anam. (2025). Kepemimpinan Dalam Meningkatkan Kesejahteraan Psikologis dan Kinerja Karyawan (Vol. 09, No. 04) 1-13. Edunomika.
