Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger
  • September 202654
  • Agustus 2026205
  • Juli 202673
  • Juni 202673
  • Mei 2026413
  • April 2026191
  • Maret 202669
  • Februari 202677
  • Januari 202677
  • Desember 202576
  • November 202573
  • Oktober 202584
  • September 202564
  • Agustus 2025115
  • Juli 2025122
  • Juni 2025111
  • Mei 2025112
  • April 202587
  • Maret 2025132
  • Februari 2025117
  • Januari 2025107
  • Desember 2024149
  • November 2024176
  • Oktober 202499
  • September 2024102
  • Agustus 2024130
  • Juli 2024177
  • Juni 2024103
  • Mei 2024297
  • April 2024139
  • Maret 202464
  • Februari 202469
  • Januari 202485
  • Desember 202383
  • November 202388
  • Oktober 2023211
  • September 2023206
  • Agustus 2023144
  • Juli 2023197

Laporkan Penyalahgunaan

  • 4 Jenis Norma di Masyarakat yang Wajib Kamu Tahu Biar Hidup Makin Harmonis!

    4 Jenis Norma di Masyarakat yang Wajib Kamu Tahu Biar Hidup Makin Harmonis!

  •  Banner Gratis, Warung Makan Makin Laris! Inisiatif CSR dari Mekar Jaya Digiprint dan Mahasiswa Universitas Siber Asia

    Banner Gratis, Warung Makan Makin Laris! Inisiatif CSR dari Mekar Jaya Digiprint dan Mahasiswa Universitas Siber Asia

  • KODE REFERRAL UNSIA : EFTHARIENA, POTONGAN 650K  SUKSES TARIK  RATUSAN MAHASISWA BARU

    KODE REFERRAL UNSIA : EFTHARIENA, POTONGAN 650K SUKSES TARIK RATUSAN MAHASISWA BARU

BREAKING NEWS
ZTV

ZTV

  • Media Network
  • _Perintah Rakyat
  • _METRO - NETWORK id
  • _ZTV ACEH
  • _SATU PIKIRAN
  • News Network
  • _DAERAH
  • _GLOBAL
  • _HUKUM - KRIMINAL
  • _Dokumentasi
  • _Film
  • _KPOP
  • _Advetorial
  • _Wisata dan Kuliner
  • 🏙️ Nasional
  • 🏦 Ekonomi
  • 📰 News
  • 🗣️ Pilihan Rakyat
  • NEWS
  • NASIONAL
  • PENDIDIKAN
  • FILM
  • INTERNASIONAL
  • MEGAPOLITAN
  • POLITIK
  • PILIHAN EDITOR
  • JABODETABEK
  • KPOP
  • ADVETORIAL
  • REGIONAL
  • INDONESIA
  • FOTO
  • OPINI
  • EKONOMI
ZTV
  • ZTV
  • ZTV ACEH
  • METRO NETWORK
  • SATU PIKIRAN
  • PERINTAH RAKYAT
  • News
  • Pendidikan
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Film
  • Internasional
  • Megapolitan
  • Kriminal
  • Regional
  • Politik
  • Pilihan Editor
  • Pilihan Rakyat
  • Jabodetabek
  • KPOP
  • Advetorial
  • Opini
  • Beranda
  • Opini

DARI EMOSI MARAH MENUJU DIALOG: MEMBANGUN BUDAYA HUMANISTIK

Bro
Agustus 10, 2026
(Ilustrasi AI/foto: ist)




Oleh: Christopher Setiadi – Mahasiswa Komunikasi Universitas Siber Asia



ZTV - Di era digital seperti sekarang ini, masyarakat dan setiap individu memiliki kebebasan untuk berkomunikasi, menyampaikan pendapat, ataupun bahkan melontarkan kritikan hingga saran secara luas dan cepat di berbagai platform media sosial. Ruang media digital yang sejatinya dihadirkan sebagai sarana pertukaran informasi maupun interaksi, namun sekarang mengalami perubahan dimana adanya arena perdebatan, saling sindir, hingga lemparan ujaran kebencian untuk menyerang satu lainnya yang terus muncul di dunia digital tersebut.


Ironisnya, orang-orang yang terlibat ataupun melihat fenomena yang terjadi dari segi konteks komunikasinya di dalam ranah digital ini seakan terasa semuanya hanya ingin berbicara atau melontarkan kalimat-kalimat yang sejatinya penuh emosi sebagai respon terhadap sesuatu yang dilihatnya. Dalam hal ini, hanya segelintir orang atau hanya sedikit yang mau mendengar terlebih dahulu terhadap apa fenomena yang terjadi ataupun untuk sekedar memahami suara yang ada terhadap hal-hal yang terjadi.

Dari sini, kita bisa melihat bahwa perasaan emosi seakan menjadi hal yang diutamakan dibandingkan untuk mendengar dan kemudian berpikir terlebih dahulu untuk melakukan responsnya. Perlu kita sadari bahwa emosi adalah salah satu pemicu konflik yang dapat terjadi di dalam lingkup sosial antar individunya. Emosi yang memicu konflik tersebut sejatinya diperlukan pendekatan humanistik agar bisa memahami manusia secara utuh dari berbagai sudut pandang yang bisa diketahui agar bisa memanusiakan manusia dalam aktivitas kehidupannya.

APA ITU EMOSI?
Manusia merupakan salah satu makhluk yang terbilang kompleks di dalam kehidupannya. Di dalam diri manusia, terdapat perasaan emosional dan juga daya pikir yang kompleks dimana kedua hal ini terus bekerja di dalam aktivitas keseharian yang dilakukan oleh manusia. Dalam diri manusia, terdapat beberapa perasaan emosional yang turut memberikan peranan untuk memainkan peran dalam lingkup sosialnya. Emosi sendiri juga menjadi bagian yang perlu diketahui secara mendalam agar reaksi yang dihadirkannya bisa sesuai dengan apa yang orang lain harapkan.

Lebih lanjut, ada baiknya kita perlu mengetahui secara jelas apakah itu emosi? Apa arti dari emosi sendiri yang berada dalam kehidupan pribadi manusia? Santoso dan Sari (2021) di dalam artikelnya menyatakan bahwa emosi adalah gambaran dari pikiran, perasaan atau gerakan fisik yang bermakna dan disimbolkan sebagai suatu gerakan mental individu secara otomatis, dinamis dan juga secara sadar. Di dalam emosi, umumnya kita bisa mengenal beberapa perasaan emosi yang dapat kita temui di kesehariannya seperti rasa benci, marah, takut, cinta, sedih, ataupun senang (Rosanah, 2026).

Tanpa adanya emosi, hal itu mungkin bisa saja menjadi sebuah pertanda yang kurang baik bagi manusia, khususnya seorang individu, untuk pola lingkup sosial berserta aktivitas komunikasinya. Bayangkan jika seseorang tidak memiliki emosi atau bahkan tidak bisa mengekspresikan emosinya? 
Hal itu bisa berdampak kepada individu tersebut dimana mungkin ia bisa menjadi orang yang tidak peduli kepada orang lain, terhadap lingkungannya, atau bahkan kepada dirinya sendiri. Rasa acuh tak acuh tersebut dapat menjadi permasalahan lainnya yang bisa dia temui di kehidupan kesehariannya.

MARAH, DIANTARA PERASAAN EMOSI DAN SENJATA
Dari berbagai perasaan emosi tersebut, salah satu emosi yang bisa berdampak baik kepada lingkungan sosial maupun aktivitas komunikasi yang dilakukan oleh individu di dalam kehidupan kesehariannya adalah marah. 

Marah sendiri adalah jenis emosi yang bisa muncul akibat adanya pertentangan ataupun gangguan sehingga bisa menimbulkan perasaan kecewa, frustasi, atau bahkan sakit hati di dalam perasaannya.

Emosi marah yang dimiliki oleh manusia merupakan sebuah mekanisme alami yang hadir sebagai bentuk pertahanan diri. Bahkan, sisi emosi yang satu ini juga dapat menjadi sebuah senjata yang bisa digunakan oleh individu untuk menyerang individu lainnya apabila dirasa individu tersebut merupakan seorang pengganggu ataupun mengancam keberadaannya. Tentu dengan adanya perasaan marah ini juga bisa menjadikan hubungan antar individu tersebut dapat berubah dari yang baik-baik saja menjadi permusuhan yang dapat merugikan.

Meskipun menjadi perasaan emosional yang wajar dan lazim dimiliki oleh, kita selayaknya perlu mengetahui apa saja aspek-aspek yang bisa memicu perasaan emosional marah yang muncul di dalam diri seseorang. 

Secara psikologis, emosional marah bisa muncul pemicunya dari dua aspek seperti aspek personal maupun aspek lingkungan. Dari segi aspek personal, aspek ini bisa dikatakan cukup lekat dengan sisi psikologis seperti pola berpikir dan juga ketahanan fisik yang dimiliki oleh seseorang. Sementara dalam aspek lingkungan, aspek ini bisa dilihat dari segi bagaimana individu berada di dalam lingkup sosialnya.

Marah sendiri juga memiliki beberapa ciri-ciri yang bisa dikenali secara langsung dari pola interaksi yang terjadi oleh antar individu di lingkup sosialnya. Goleman dalam Wigati dan Mufidah (2022) menyatakan beberapa ciri dari emosi marah yaitu seperti hati yang kesal, beringas, terganggu, mengamuk, benci, jengkel, tersinggung, tindakan kekerasan dan kebencian secara psikologis, hingga tindakan permusuhan yang terjadi antar individunya. 

Ciri-ciri emosi marah tersebut pastinya akan bermula dengan tingkatan dari yang paling kecil perasaannya hingga ke tngkatan yang paling besar dimana berdampak secara ekstrim dalam hubungan interaksi seseorang dengan orang lainnya.

Tentu emosional marah jika diolah dengan benar, masih sah-sah saja untuk diluapkan. Terlebih apabila emosi marah tersebut hadir untuk meluruskan suatu hal, memberikan sebuah pembelajaran yang positif sebagai bentuk cara komunikasi, ataupun juga untuk mengutarakan apa yang selama ini sudah ia pendam di dalam dirinya dalam beberapa waktu.

KENAPA SEMUA ORANG INGIN BICARA?
Jika perasaan emosi marah muncul dan konflik terjadi di antara setiap individu, satu hal yang dapat kita lihat dalam interaksinya adalah dari segi komunikasi maupun perilaku yang tersampaikan. 

Terlebih di dalam ranah sosial media yang diakses oleh hampir seluruh lapisan masyarakat, semua orang seakan memiliki suara untuk menyampaikan apapun tanpa adanya saringan terhadap apa yang dilihatnya secara langsung.

Memang, di dunia yang semu dan bebas tersebut, ranah platform sosial media memberikan ruang bagi siapapun untuk ikut terlibat di dalam aktivitas dunia maya ini. Bahkan ruang tersebut juga, banyak masyarakat yang menggunakan emosi marahnya sebagai bentuk pengekspresian diri dan juga sebagai bentuk respon terhadap apa yang dilihatnya. Dalam hal tersebut, ada beberapa hal yang membuat kenapa banyak orang ingin bicara di dalam ranah digital tersebut yang pada saat ini terjadi.

Aspek yang pertama adalah tanggapan bahwa media sosial memberi semua orang panggung untuk berepskresi. Karena dapat dengan bebas diakses mudah oleh masyarakat, maka hal ini memberikan makna bahwa platform digital ada tempat bagi semua orang untuk menyampaikan berbagai hal. 

Selain itu, disini juga orang-orang kadang memilki anggapan bahwa pendapat atau ucapan yang mereka sampaikan sama pentingnya. Inilah yang membuat terkadang emosi marah dapat muncul akibat adanya perdebatan yang tak kunjung usai terhadap pandangan yang dimilikinya.

Yang kedua, adanya perasaan Fear of Missing Out (FOMO) terhadap suatu hal yang tengah viral di media sosial. Pada bagian ini, seakan orang-orang ingin ikut terlibat atau merasakan kepopuleran apa yang telah terjadi sampai pada akhirnya banyak orang yang memiliki pandangan dengan budaya “harus berkomentar” agar tetap mendapatkan panggung di media sosial beserta mengikuti tren yang ada. 

Hal tersebut bisa dikatakan sah-sah saja, namun apabila suatu hal ayng sedang tren tersebut merupakan konten yang mengindikasikan tertentu, terkadang ketikan suara yang ditulisnya bisa memantik emosi orang-orang yang membacanya. Bahkam, tidak sedikit sampai saat ini banyak yang terpancing emosinya dikarenakkan menanggapi secara berlebihan hingga menggiring naras tertentu yang membuat perasaan emosional marah muncul.

Kedua aspek tersebut memang sejatinya tidak memberikan batasan ataupun aturan tentang bagaimana seseorang harus bicara di ranah digital. Kita juga dapat mengetahui bahwa kebebasan berpendapat juga telah diatur di Indonesia. Aturan tersebut dapat diketahui lewat UUD Negara RI Tahun 1945 Pasal 28 F dimana setiap orang berhak untuk berkomunikasi, memperoleh informasi dan juga untuk menyampaikan informasinya menggunakan berbagai jenis saluran yang ada (Pratama dan dkk, 2022).

Dalam hal ini, hal yang menjadi salah satu permasalahan dalam konteks ruang berbicara dan komunikasi adalah sulitnya atau sedikitnya ruang untuk mendengar. Orang-orang seakan berusaha bagaimana untuk menyampaikan apa yang berada dalam pikiran pendapatnya tanpa mendengar ataupun mengetahui terlebih dahulu. Hal tersebut yang membuat perasaan marah dapat dirasakan secara langsung akibat kurangnya aktivitas pendengaran yang bisa berakibat konflik yang ada.

PERLUNYA AKTIF MENDENGAR DAN PENERAPAN ANGER MANAGEMENT
Manusia merupakan makhluk sosial dan sebagai makhluk sosial, maka manusia sejatinya memiliki pengharapan untuk mencari kepuasaan dalam lingkup sosialnya. Apabila ada hal-hal yang sekiranya individu tersebut tidak merasakan kepuasaan yang diinginkannya, maka hal ini bisa menimbulkan reaksi marah dan tentunya memicu konflik yang ada. Terlebih di dalam ranah era digital sekarang ini, banyak masyarakat yang mudah tersulut emosi akibat kurangnya aktivitas mendengar serta lemahnya penerapan anger management dalam kesehariannya.

Lantas, apa itu anger management? Anger management sendiri adalah belajar untuk mengenali tanda-tanda pada diri sendiri saat marah dan juga tindakan yang sehat dalam meluapkan kemarahan yang dirasakannya (Rosanah, 2026). Dalam posisinya, anger management bukanlah cara untuk menahan ataupun menolah rasa marah, melainkan tentang bagaimana cara mengelola perasaan marah yang terjadi pada diri individu.

Di era digital seperti saat ini, kita bisa mengetahui mengapa orang bisa mudah marah dan dengan mudahnya juga berkonflik dengan individu lainnya? Dalam pengamatan saya, terdapat beberapa hal yang membuat orang menjadi mudah teerpancing emosinya akibat masifnya era digital seperti sekarang ini. Yang pertama adalah akibat adanya overstimulasi informasi yang ada. Dalam sehari saja, kita bisa mendapatkan banyak sekali informasi-informasi yang beredar baik informasi tersebut adalah berita benar ataupun berita bohong (hoax) yang bisa secara spontan memicu reaksi emosional bagi para pengguna media sosialnya. Tak hanya sampai disitu, anonimitas internet juga membuat orang-orang di platform media sosial dapat dengan mudah merespon apapun tanpa diketahui. 

Anonimitas ini seakan membuat orang lebih berani untuk menyampaikan hal-hal yang kurang pantas dan bisa memicu perasaan marah, perdebatan, sampai penyerangan individu.

Hal lainnya yang membuat orang menjadi mudah marah adalah validasi sosial. Ada banyak orang-orang di platform sosial media yang melakukan berbagai hal untuk mendapatkan validasi dari masyarakat. Disini, validasi tersebut bisa dari segi mengangkat isu-isu tertentu ataupun juga menampilkan suatu hal yang mencerminkan dirinya memiliki kelebihan ataupun hal-hal tertentu yang menjadi perhatian masyarakat.

Perlu diketahui munculnya perasaan marah hingga memicu konflik akibat berbagai informasi di media sosial tersebut bukanlah selalu karena persoalannya. Tetapi orang-orang marah akibat merasa tidak didengarkan ataupun juga tidak sesuai dengan apa yang menjadi pemikirannya. 

Sebagai contoh ketika orang mengunggah atau mengatakan suatu opini, secara lazimnya adalah masyarakat bisa berdiskusi secara sehat. Namun pada kenyataannya, terkadang terdapat beberapa komentar atau bahkan dialog yang saling membalas mengenai argumentasinya masing-masing tanpa mendengarkan ataupun mengetahui konteksnya secara lengkap. 

Disini, setiap hal yang disampaikannya bisa menimbulkan perasaan kemarahan akibat opini yang dirasakan individu lainnya tidak sesuai ekspektasinya.
Lalu apabila kita mendapati hal-hal yang bisa membuat kita emosi, marah, ataupun jengkep akibat apa yang kita dapatkan informasinya dari platform sosial media, lantas bagaimana penerapan anger management yang tepat untuk kita lakukan selain dengan mengasah kemampuan mendengar maupun memahami konteksnya secara utuh? Goleman (dalam Saputra dan dkk, 2022) menyatakan setidaknya terdapat empath hal dalam mengelola anger management yang bisa dilakukan yakni:

1. Mengenali emosi marah terlebih dahulu: Ketahui sejak awal tanda-tanda dimana individu mulai merasakan adanya perasaan emosi ataupun pemikiran negatif terhadap suatu hal.

2. Mengendalikan emosi marah: Salah satu bagian yang cukup penting adalah soal pengendalian. Di bagian ini, seseorang tidak akan dengan mudah untuk membiarkan emosi marahnya dapat dengan mudah hadir sebagai respon terhadap sesuatu.

3. Ungkapkan emosi secara asertif: Di bagian ini, individu bisa mengutarakan apa yang ia rasakan dengan jujur dan memperhatikan perasaan orang lain agar memahami perasaan individu lainnya.

4. Meredakan emosi marah: Meredakan disini berarti individu bisa menenangkan dirinya lewat berbagai aktivitas seperti berjalan kaki, bersepeda, ataupun hal-hal lainnya yang ia sukai.

Tentunya dengan penerapan anger management yang tepat, individu dapat secara langsung tidak mudah marah meskipun berbagai hal dapat terjadi di dalam kesehariannya. Dalam hal ini, individu juga bisa melakukan kroscek, mendengarkan, hingga melakukan dialog terlebih dahulu guna mendapati konteks yang ia dapat sebelumnya dengan lengkap agar bisa menghindari konflik yang tidak diperlukan.

CONFLICT MANAGEMENT, MENGATASI KONFLIK DENGAN BIJAK
Bayangkan jika dalam emosi dan kita merasakan kemarahan akibat melihat sesuatu di sosial media atau bahkan karena merespon suatu hal secara terus-menerus di platform sosial media tersebut, pastinya rasa marah tersebut bisa memicu ke tingkat lainnya yakni konflik dengan individu lainnya. 

Jika konflik ini tidak diatasi dengan baik, maka konflik tersebut dapat menjalar ke hal-hal lainnya yang lebih luas di tingkat masyarakat. Untuk mengatasinya, maka diperlukan pendekatan yang bernama conflict management.

Conflict management atau manajemen konflik bisa diketahui sebagai upaya-upaya yang dilakukan untuk mengendalikan keadaan ketika terjadinya suatu konflik agar permasalahannya tersebut tidak melebar kepada hal-hal lainnya (Hidayah dan dkk, 2023). Secara langsung, manajemen konflik dapat memberikan ruang penyelesaian dalam mengatasi konflik yang ada agar permasalahan konflik tersebut dapat diketahui akar permasalahannya beserta solusi agar konflik yang terjadi dapat terselesaikan dengan segera. Perlu diketahui, di dalam konflik sendiri setidaknya terdapat beberapa jenis klasifikasi dari konflik yang dapat terjadi di dalam ranah lingkup sosialnya hingga pada ranah dunia maya yakni konflik pribadi, konflik intrapersonal, konflik antar kelompok, dan juga konflik antar organisasi (Amanda dan dkk, 2024).
Selain itu, kita juga perlu mengetahui apa saja penyebab-penyebab terjadinya konflik yang dapat terjadi baik dari segi ranah digital maupun dalam konteks kehidupan sehar-harinya secara langsung. Penyebab-penyebabnya bisa terjadi akibat beberapa perbedaan yang ada seperti perbedaan kepentingan, pemahaman, cara pandang, tujuan hingga perbedaan terhadap situasi yang baru (Rosanah, 2026).

Secara sadar, kita perlu memahami bahwa konflik bukanlah musuh yang harus kita lawan. Meskipun muncul akibar perasaan emosi, marah, kecewa, dan sebagainya, konflik adalah suatu hal yang cukup umum ditemui dalam kehidupan individu dalam kesehariannya. Dalam hal ini, yang menjadi poin utama ketiga konflik tersebut muncul adalah bagaimana cara menanganinya dengan benar dan juga sesuai agar tuntas saampai dengan akar permasahalannya tersebut.

Sebagai cara untuk menyelesaikan permasalahan konflik yang ada, hal utama yang perlu kita lakukan adalah dengan mengurangi ataupun menghilangkan rasa marah ketika menghadapi persoalan yang adal. Selain itu di dalam manajemen konflik, terdapat setidaknya lima strategi untuk manajemen konflik yang dapat diterapkan (Tul dan dkk, 2023) yakni:

1. Kolaborasi: Dalam strategi ini, kedua belah pihak sepakat untuk peduli dan berkompromi untuk menyelesaikan masalah.

2. Kompromi: Jika permasalahan konflik telah menjadi kompleks, maka pihak-pihak yang berkonflik akan bekerjasama untuk mencari solusinya.

3. Penghindaran diri: Strategi ini dilakukan oleh salah satu individu dengan cara menghindari individu ataupun kelompok terkait jika diperlukan agar terhindar guna menyelesaikan permasalahan secara efektif.

4. Negosiasi: Apabila masing-masing pihak yang berkonflik mempunyai posisi yang sama kuat atau setara, maka dapat melibatkan mediator sebagai pihak luar untuk menyelesaikan konflik yang ada.

5. Pengaturan mandiri: Pada strategi ini, masing-masing pihak yang berkonflik melakukan reflekai diri secara mandiri dan juga memikirkan jalan yang terbaik bagi setiap pihak yang terlibat berkonflik.
Dalam hal conflict management yang ada di dalam penyelesaian masalah yang terjadi akibat adanya perasaan emosional yang terlebih dahulu hadir sebagai pemicunya, maka untuk mengatasinya juga diperlukan dialog yang konstruktif agar bisa mendapatkan jawaban dari permasalahan yang ada.

Antara aktivitas dialog dan konflik yang mengarah secara positif dalam perspektif ilmu komunikasi bisa memberikan hal produktif apabila konflik dan dialog tersebut dikelola dengan baik serta aktif untuk mendengarkan pandangan-pandangan yang ada untuk memahami konteksnya.

PENERAPAN ESTETIKA HUMANISME UNTUK MEMANUSIAKAN MANUSIA
Emosi dari segi perasaan marah dan juga konflik yang terjadi akibat adanya kesalahapahaman dalam kekurangan pendengaran konteksnya secara utuh maupun tidak membuka ruang dialog yang tepat, beberapa hal tersebut dapat dikatakan merupakan hal yang lumrah untuk bisa dilihat secara langsung dalam proses kehidupan bermasyarakat. Manusia sebagai makhluk sosial sejatinya akan selalu mencari hal-hal yang sejalan dengan nilai-nilai yang berada di dalam pikirannya. 

Meskipun konflik dan juga emosi marah dapat kita kendalikan, hal utama yang menjadi perhatian penting di dalam penerapannya tersebut adalah dengan menerapkan budaya humanistik di era moderen seperti sekarang ini. Budaya humanistik bukan berarti segala hal diharuskan untuk setuju ataupun sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan, melainkan dalam hal ini adalah bagaimana memanusiakan manusia dalam segala aspek kehidupannya.

Budaya humanistik lewat pengpaplikasian dari nilai estetika humanisme disini adalah untuk menghormati manusia, menghargai martabat orang lain, mendengar sebelum menghakimi, dan juga memahami sebelum bertindak.

Mungkin, persoalan terbesar kita pada hari ini di era moderen adalah terlalu banyak orang yang berbicara maupun bertindak tanpa memahami konteksnya terlebih dahulu. Semakin moderennya kehidupan manusia, semaki kecil rasanya orang yang bersedia untuk mendengar, memahami, serta membangun dialog yang konstrukti dalam aktivitas komunikasinya. Sebab dialog tidak pernah lahir dari keinginan untuk menang sendiri, melainkan dari keberanian untuk memahami orang lain sebagai sesama manusia yang utuh.

REFERENSI
Amanda, Seny Alfina Amalia dan dkk. (2024). Strategi dan Pendekatan dalam Mengelola Konflik. Jurnal Manajemen dan Pendidikan Agama Islam, 2 (6), 460-473.
Hidayah, Anisatul dan dkk. (2023). Urgensi Penerapan Manajemen Konflik Dalam Organisasi Perkuliahan. Jurnal Soshum Insentif, 6 (2), 103–111.

Pratama, Muhammad Irfan dan dkk. (2022). Kebebasan Berpendapat dan Berekspresi di Media Sosial dalam Perspektif Hak Asasi Manusia. Qawanin Jurnal Ilmu Hukum, 3 (1), 1-16.
Rosanah. (2026). Materi Mata Kuliah Estetika Humanisme. Universitas Siber Asia. Jakarta.

Santoso, Agus dan Dita Kurnia Sari. (2021). Penularan Emosional (Emotional Contangion) Kajian Literatur dan Rekomendasi. Jurnal Bimbingan dan Konseling Islam, 11 (2), 278-298.
Saputra, Wiwin dan dkk. (2022). Efektivitas Anger Management Training untuk Menurunkan Perilaku Agresi Verbal Remaja Pengguna Mobile Legends. Indonesian Journal of Islamic Counseling, 4 (2), 115 – 125.

Tul, Dela Mudmahillah dan dkk. (2023). Strategi Pendekatan Dalam Mengelola Konflik. Jurnal Ilmiah Manajemen Ekonomi dan Akuntansi, 1 (1), 91-100.
Wigati, Denok dan Wardatul Mufidah. (2022). Pengembangan Alat Ukur Metode Observasi Rating Scale: Perilaku Emosi dan Temper Tantrum Pada Anak Usia Dini. IDEA: Jurnal Psikologi, 6 (2), 99-106.

Baca Juga
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Bro
Bro
Hanya Kuli
Berita Terkait
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Rekomendasi
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Tampilkan lebih banyak
Posting Komentar
Batal
Gambar
Terpopuler
  • Anger Management di Era Media Sosial: Belajar Mengendalikan Emosi Sebelum Menyesal

  • WRC SUMUT SOROTI KINERJA WALIKOTA MEDAN: BANJIR DAN MACET MASIH JADI PR BESAR

  • Pelindo Regional 1 Gelar Pelatihan Penghijauan dan Penanaman Pohon Berbasis Masyarakat di Belawan

  • Wujudkan “Indonesia Menuju Prestasi Internasional”, IMI Pusat & Pertamax Dukung Penuh Pembalap Muda di FIM MotoMini Indonesia Series 2026

  • PMT Perkuat Kinerja Operasional Terminal Petikemas Domestik Belawan

  • Pelindo Kenalkan Potensi Pelabuhan Belawan kepada Pelaku Usaha dalam Rangkaian IMT-GT 2026

  • TNI AD Tuntaskan Investigasi Jembatan Garuda Pangandaran, Temukan Faktor Teknis dan Overload

  • IMIGRASI BELAWAN HADIRKAN PASPORIA DI CAR FREE DAY BELAWAN

  • Sinergi TNI-Polri Gagalkan Penyelundupan 4 Kg Sabu Jaringan Internasional di Labuhanbatu

  • Kodaeral 1 Bersihkan Pantai Olo

Ngaji Bareng
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Fokus
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Foto
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Shorts
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Tv
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
ZTV NETWORK
  • Brand Logo
  • Brand Logo
  • Brand Logo
ZTV
Ikuti Kami
  • Redaksi
  • About
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
© ZTV - SINCE 2021