SK PBNU Hasil Muktamar Tambakberas dan Ambisi Saifullah Yusuf Pada Pilpres 2029
oleh M Sholeh Basyari
Minggu lalu, pengurus lengkap PBNU hasil muktamar tambakberas, dikukuhkan. Pengukuhan dilaksanakan di Pesantren Alhamid Cipayung Jakarta Timur. Publik menyimak, dari penyelenggaraan muktamar hingga prosesi pengukuhan, menyisakan sejumlah catatan ganjil.
Pertama, hingga pengukuhan, Surat Keputusan (SK) dari Kementrian Hukum, belum terbit. Meski tidak bisa disebut ngadat, molornya SK PBNU ini, memicu sedikit spekulasi liar.
Dua bulan setelah muktamar, yang penuh warna, ternyata sejumlah dimensi perebutan, pertaruhan dan pertarungan alot antar kubu, antar kekuatan, baik internal maupun eksternal, kian seru.
Kubu internal, merepresentasikan dinamika antara Saifullah Yusuf-Miftahul-Akhyar dan M Nuh di satu sisi. Sementara, Gus Kikin dan Gudfan (?), serta Lukman Edy, berposisi sebagai kompetitor bahkan rival.
SK yg belum terbit hingga kini, bisa jadi karena baik kubu Ipul maupun Gus Kikin, belum bulat terkait nama-nama yang akan disetor ke kementerian. Kondisi ini bisa disebut" unfinishing finish, finising yang tidak finis Kabarnya rotasi pengurus belum final bahkan hingga agenda pengukuhan telah selesai.
Keedua, preseden reposisi Gudfan Arif dari bendahara umum ke sekjen, setelah melalui proses antara kubu yang alot, berimbas pada reposisi dan rotasi komposisi struktur lengkap PBNU.
Kondisi ini penuh nuansa agenda antar dan intra individu. Ipul misalnya, terlihat mendominasi. Publik melihatnya memiliki hidden mission yang susah dikompromikan.
Di kalangan internal timnya, Ipul berambisi meraih golden ticket NU pada pilpres 2029.
Ketiga, sementara secara eksternal, ambisi ipul ini, dibaca dan sikapi oleh otoritas penerbit SK, sebagai "ganjalan". Kenapa? Sebab sejumlah kekuatan eksternal, memandang strategis NU, sebagai miqat pasangan capres cawapres.
Ambisi Ipul, yang tidak diiringi secara definitif berpasangan dengan incumbant (presiden Prabowo ), bisa saja menjadi "alat tawar" dan "alat tekan" ngadat-nya SK PBNU.
Padahal, bukankah presiden Prabowo telah mengantongi kartanu? Dengan kartanu, artinya, mandat kontestasi NU pada pilpres 2029, ada pada Prabowo.
Ipul , Khofifah dan Aminudin Maruf
Dengan mempertimbangkan padatnya antrian sebagai pasangan Prabowo pada pilpres 2019 nanti, tampaknya kesempatan Ipul menyandingkan foto nya pada 'kartu suara" dengan Prabowo, berat dan tipis peluangnya.
Di samping itu, catatan relasi Ipul dengan SBY dan Jokowi, lumayan kuat. Relasi yang memungkinkannya untuk berpatron dengan AHY atau Gibran.
Seperti diketahui publik, pada saat SBY sebagai Presiden 2004-2009, Ipul adalah Menteri Daerah Tertinggal, sebelum digantikan Luman Edy. Hal ini paralel dengan era Jokowi. Ipul menggantikan Tri Risma sebagai Menteri Sosial di penghujung pemerintahan figur utama Genk solo ini.
Dengan relasi seperti itu, Ipul pada pilpres nanti, bisa leluasa "membawa" gerbong PBNU ke SBY ataupun Jokowi.
Paparan analisis seperti ini, bisa saga secara kuat seiring dengan bacaan pemerintahan Prabowo. Analisis atas ambisi ipul semacam ini pula, yang secara tidak langsung melemahkan "paket istana" di PBNU. Oleh karena itu, tidak berlebihan jika SK PBNU "terganjal" oleh ambisi Ipul.
Pada bagian lain, sebagai "paket istana" mandat Gus Kikin sebenarnya tidak jauh-jauh dari: mengamankan tiket NU pada pilpres 2029 juga. Untuk ini, andaikan Prabowo mengambil kader asli NU sebagai wapres nya, peluang terbesar ada pada Khofifah (bukan Ipul) gubernur Jatim.
Khofifah gubernur 2 periode Jatim, provinsi dengan pemilih no 2 terbesar setelah Jabar. Khofifah juga memiliki pendukung solid dan militan; muslimat NU. dua keunggulan (provinsi terbesar kedua dan massa fanatik) yang memungkinkan sebagai strategi simpel untuk mengimbangi popularitas Deddy Mulyadi, gubernur Jabar.
Nama lain yang layak dibahas adalah Aminuddin Maruf. The rising star sekaligus wajah NU yang mewakili GenZ. Mantan ketum PB PMII ini, dari awal digadang-gadang oleh Jokowi sebagai pasangan ideal Gibran, sebagai kandidat capres cawapres 2029. Pasangan ini menemukan momentum idealnya ketika Solo pecah kongsi dengan Hambalang.
waallahu a'lam
Dr M Sholeh Basyari, direktur eksekutif CSIIS. wasekjen PB IKA PMII
