HUBUNGAN TANPA STATUS (HTS) DI KALANGAN ANAK MUDA YANG MENDORONG PERAN EMOTIONAL INTELLIGENCE
(Ilustrasi Anime/Foto: ist)
Memahami hubungan tanpa status melalui Perspektif Humanisme dalam mengelola perasaan
Oleh: Samila Padia Suryani_Prodi Manajemen Universitas Siber Asia
ZTV – Pada era digital ini, komunikasi tak hanya lahir pada titik temu yang nyata. Media sosial justru jadi jembatan umum untuk membangun komunikasi, kedekatan, perhatian, bahkan perasaan. Kemudahan yang tercipta memang berdampak pada kedekatan manusia dalam bersosialisasi secara virtual, tetapi di sisi lain juga ada kesulitan dalam mengartikan batas sebuah hubungan antar-manusia.
Menurut saya, hubungan tanpa status atau HTS menjadi salah satu bentuk kedekatan yang dapat ditemukan di kalangan anak muda saat ini. Dua orang dapat berkomunikasi setiap hari, saling memberikan perhatian, dan merasa dekat tanpa menentukan hubungan mereka secara jelas. Kondisi tersebut terkadang terasa nyaman, tetapi juga dapat menimbulkan suatu konflik pendapat ketika harapan antara kedua pihak tidak sama.
Situasi seperti ini menunjukkan bahwa menjalani sebuah hubungan tidak hanya membutuhkan komunikasi dengan orang lain, tetapi juga kemampuan untuk memahami diri sendiri. Seseorang perlu mengetahui apa yang sebenarnya ia rasakan, mengapa perasaan tersebut muncul, serta bagaimana cara meresponsnya. Kemampuan tersebut berkaitan dengan Emotional Intelligence atau kecerdasan emosional.
Menurut Daniel Goleman, Emotional Intelligence adalah kemampuan seseorang mengatur kehidupan emosinya dengan inteligensi (to manage our emotional life with intelligence). Dalam konteks hubungan tanpa status, Emotional Intellegence akan mendorong kemampuan mengenali dan mengendalikan emosi, serta perasaan-perasaan cemas seperti ketakutan, kekhawatiran, ketidakpastian, bahkan rasa takut kehilangan yang lahir dengan tidak di sengaja.
Mengenali dan Mengelola Emosi Diri Sendiri
Menurut saya, dalam hubungan tanpa status (HTS), ketidakpastian yang terjadi dapat menimbulkan perasaan sulit membedakan antara takut kehilangan atau kebiasaan komunikasi yang sudah berjalan. Seseorang perlu batasan diri untuk benar-benar memahami apa yang sebenarnya sedang dirasakan. Dengan pengenalan emosi terhadap diri sendiri, sesorang akan memberi jeda dan memahami perasaan sebelum mengambil suatu tindakan.
Memahami Emosi Orang Lain dan Membangun Empati
Menurut saya, dalam hubungan tanpa status, dua orang dapat memiliki pandangan yang berbeda. Beberapa orang mungkin merasa nyaman dalam fase hubungan tanpa status, namun beberapa lagi lebih memilih menuntut kejelasan dibanding menjalani sebuah hubungan tanpa komitmen. Dan konflik bisa terjadi ketika salah satu dari keduanya memiliki pandangan yang berbeda. Karena itu, empati diperlukan sebagai jembatan utama untuk bisa memahami perasaan orang lain.
Emotional Intellegence dalam Komunikasi
“Emosi merujuk pada suatu perasaan atau pikiran-pikiran khasnya, suatu keadaan biologis dan psikologis serta serangkaian kecenderungan untuk bertindak.”
-Modul Estetika Humanisme pertemuan ke-5, Emotional Intelligence, Unsia
Emotional Intelligence membantu seseorang tidak hanya menyampaikan apa yang dirasakan, tetapi juga memilih cara penyampaian yang tepat. Seseorang yang mampu mengelola emosinya dapat membicarakan kekecewaan tanpa langsung menyalahkan, sementara kemampuan memahami orang lain membuat komunikasi menjadi dua arah.
Dengan demikian, komunikasi tidak hanya menjadi sarana untuk menyampaikan perasaan, tetapi juga bentuk memahami perasaan orang lain dan mencari jalan keluar dari perbedaan yang ada.
Emotional Intellegence dan Nilai Estetika Humanisme
Kemampuan mengelola emosi pada akhirnya tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri, tetapi juga memengaruhi cara seseorang memperlakukan orang lain. Ketika seseorang mampu memahami perasaannya, mengendalikan respons, dan berempati terhadap orang lain, ia akan lebih mampu membangun hubungan yang didasari oleh rasa saling menghargai.
Hal tersebut sejalan dengan nilai humanisme yang menempatkan manusia sebagai pribadi yang memiliki perasaan, kebebasan, kebutuhan, dan martabat. Dalam menghadapi hubungan yang tidak pasti, seseorang tetap memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan, tetapi kebebasan tersebut perlu disertai tanggung jawab terhadap dampak dari tindakan yang dilakukan. Dengan demikian, Emotional Intelligence tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengendalikan emosi, tetapi juga bagaimana seseorang menggunakan kemampuan untuk membangun hubungan yang lebih sehat dan manusiawi.
Kesimpulan
Menurut saya, hubungan tanpa status menunjukkan bahwa perkembangan hubungan di era digital dapat menghadirkan berbagai persoalan emosional. Dalam situasi tersebut, Emotional Intelligence menjadi kemampuan yang penting karena membantu seseorang memahami apa yang dirasakan, mengendalikan respons, memahami perasaan orang lain, serta menyampaikan perasaan melalui komunikasi yang baik.
Hal yang lebih penting adalah mampu memahami emosi tersebut dan menentukan tindakan yang tepat. Ketika kemampuan tersebut disertai empati dan penghargaan terhadap orang lain, hubungan antarmanusia dapat dijalani dengan lebih sehat, sadar, dan manusiawi.
Sumber Referensi
- Universitas Siber Asia. (2026). Modul Estetika Humanisme: Pertemuan 5 – Emotional Intelligence. Jakarta: Universitas Siber Asia.
- Goleman, D. (2026). EI Overview: The Four Domains and Twelve Competencies. Daniel Goleman Emotional Intelligence.
- Rintik Sedu. (2025). Musim yang Tak Sempat Kita Miliki. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
- Deep, M., & Mathur, A. (2017). Emotional Intelligence, Adjustment and Quality of Interpersonal Relationship among Young Adults. International Journal of Indian Psychology, 5(1).
- Saurabh, V., & Singh, P. (2024). Demystifying the Interrelations between Emotional Intelligence, Rational-Experiential Thinking, and Interpersonal Relationships among Young Adults. International Journal of Interdisciplinary Approaches in Psychology.
