ARTIKEL UAS ESTETIKA HUMANISME AI Agent Menggantikan Pekerjaan? Society 5.0 Mengingatkan Kita untuk Tetap Menjadi Manusia
(Ilustrasi AI/foto: ist)
oleh:
Nama: Yuanda Fitri
NIM: 250201010713
Dosen Pengampu:
Adinda Arifiah, S.I.Kom, M.I.Kom
PROGRAM STUDI MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS SIBER ASIA
SEMESTER GENAP 2025/2026
ZTV - PENDAHULUAN
Perkembangan Artificial Intelligence (AI) telah membawa perubahan besar
dalam kehidupan manusia, termasuk dunia kerja. Salah satu fenomena yang
semakin terlihat pada 2026 adalah meningkatnya penggunaan AI untuk membantu dan mengotomatisasi pekerjaan. PwC dalam AI Jobs Barometer 2026, yang menganalisis lebih dari satu miliar iklan lowongan kerja di enambenua,
menemukan bahwa AI sedang mengubah keterampilan yang dibutuhkan
perusahaan dan meningkatkan permintaan terhadap keterampilan manusia seperti
penilaian, kreativitas, dan kepemimpinan. Di Indonesia, Microsoft juga melaporkan
bahwa 33% pekerja Indonesia dalam penelitiannya termasuk kategori Frontier
Professionals, yaitu pengguna AI tingkat lanjut yang memanfaatkannya secara
strategis dalam pekerjaan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan AI di dunia
kerja tidak sesederhana manusia digantikan mesin, tetapi juga menyangkut
perubahan cara manusia bekerja bersama teknologi.
[5][6]
Kemajuan ini memberikan banyak manfaat, terutama dalam meningkatkan
efisiensi dan produktivitas. Namun, perkembangan AI Agent yang semakin mampu menjalankan tugas secara lebih mandiri memunculkan pertanyaan penting:
apakah semakin canggihnya teknologi akan mengurangi peran manusia dalam dunia kerja, atau justru mengubah peran manusia menjadi lebih strategis?
Menurut penulis, pertanyaan tersebut tidak seharusnya dijawab dengan rasa
takut terhadap teknologi.
Justru perkembangan AI menjadi kesempatan bagi manusia untuk memperkuat kemampuan yang sulit digantikan oleh teknologi, seperti empati, kreativitas, komunikasi, tanggung jawab, dan kemampuan memberikan makna.
Dalam konteks inilah konsep Society 5.0 dan Estetika Humanisme menjadi penting sebagai pengingat bahwa teknologi harus tetap berorientasi pada manusia.
Fenomena AI Agent dan Perubahan Dunia Kerja Fenomena tersebut semakin relevan karena AI Agent tidak hanya
menghasilkan jawaban seperti chatbot, tetapi dapat digunakan untuk menjalankan rangkaian tugas dengan tingkat kemandirian yang lebih tinggi. Perkembangan ini membuat sebagian pekerjaan rutin dan administratif semakin mudah diotomatisasi.
Namun, data PwC menunjukkan bahwa pekerjaan yang membutuhkan penilaian,
kreativitas, dan kepemimpinan justru semakin bernilai. Dengan demikian,
perkembangan AI lebih tepat dipahami sebagai perubahan komposisi tugas dan
keterampilan dalam pekerjaan daripada sekadar penghapusan seluruh pekerjaan
manusia. [5]
Menurut penulis, fenomena ini menjadi relevan dengan Estetika
Humanisme karena teknologi tidak seharusnya dinilai hanya dari kemampuan
menggantikan pekerjaan manusia. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah teknologi tersebut membantu manusia menjalani kehidupan dan pekerjaan dengan lebih baik tanpa menghilangkan tanggung jawab, nilai, dan makna yang melekat pada peran manusia.
Society 5.0: Teknologi yang Tetap Berpusat pada Manusia
Menurut materi kuliah Estetika Humanisme, konsep Society 5.0
menempatkan manusia sebagai pusat pengendali teknologi. Dalam konsep ini,
manusia memanfaatkan perkembangan teknologi seperti big data, Artificial
Intelligence, dan inovasi digital lainnya untuk menyelesaikan berbagai persoalan
sosial serta meningkatkan kualitas kehidupan manusia.
[1]
Pemerintah Jepang memperkenalkan Society 5.0 sebagai konsep
masyarakat yang berpusat pada manusia (human-centered society). Konsep ini
menekankan bahwa teknologi bukan hanya digunakan untuk meningkatkan
pertumbuhan ekonomi, tetapi juga untuk menyelesaikan permasalahan sosial dan
menciptakan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat.
[2]
Menurut penulis, perbedaan utama antara Revolusi Industri 4.0 dan Society
5.0 terletak pada posisi manusia. Revolusi Industri 4.0 banyak menekankan
otomatisasi, integrasi teknologi, dan efisiensi, sedangkan Society 5.0 lebih
menempatkan manusia sebagai pusat dalam pemanfaatan teknologi. Materi kuliah juga menunjukkan bahwa perkembangan teknologi dapat mengurangi peran tenaga
manusia ketika mesin dan robot digunakan sebagai pengganti tenaga kerja.
Karena itu, teknologi perlu diarahkan untuk membantu manusia, bukan sekadar
menggantikan manusia.
[1]
Dalam materi kuliah Estetika Humanisme, terdapat beberapa kompetensi
yang perlu dikembangkan untuk menghadapi era Society 5.0, yaitu leadership, language skill, IT literacy, dan writing skill. Kompetensi tersebut menunjukkan bahwa perkembangan teknologi tetap membutuhkan kemampuan manusia untuk
memimpin, berkomunikasi, memahami teknologi, serta menyampaikan gagasan
secara jelas.
[1]
Tantangan Kemanusiaan di Era AI Agent
Walaupun AI memberikan banyak manfaat, perkembangan teknologi juga
menghadirkan tantangan terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Dalam konteks AI
Agent, tantangannya bukan hanya apakah suatu pekerjaan dapat dilakukan secara
otomatis, tetapi juga bagaimana manusia tetap memiliki peran dalam memberikan
pertimbangan, tanggung jawab, dan makna terhadap pekerjaan tersebut.
Pertama, risiko dehumanisasi dalam layanan.
AI mampu memberikan respons secara cepat dan konsisten, tetapi terdapat
situasi tertentu yang membutuhkan empati dan pemahaman emosional. Ketika seseorang menghadapi masalah yang kompleks, kemampuan manusia dalam
mendengarkan, memahami, dan memberikan perhatian tetap menjadi sesuatu yang sangat penting.
Kedua, meningkatnya produksi konten digital.
AI mampu menghasilkan berbagai jenis konten dalam jumlah besar dalam
waktu singkat. Namun, menurut penulis, karya yang memiliki pengalaman
personal, nilai emosional, dan cerita manusia tetap memiliki keunikan tersendiri.
Teknologi dapat membantu proses penciptaan, tetapi sentuhan manusia
memberikan makna pada sebuah karya.
Ketiga, tantangan etika dan regulasi AI.
Semakin luasnya penggunaan AI membutuhkan aturan yang mampu
memastikan teknologi berkembang secara bertanggung jawab. Pemerintah
Indonesia melalui Kementerian Komunikasi dan Digital memperkuat tata kelola AI melalui pembahasan regulasi yang berkaitan dengan etika AI, keamanan data, transparansi, dan akuntabilitas.[3][4]
Menurut penulis, perkembangan AI tanpa diimbangi dengan nilai etika
dapat menimbulkan berbagai risiko, seperti penyalahgunaan data pribadi, bias
algoritma, penyebaran informasi yang tidak akurat, serta berkurangnya
kepercayaan masyarakat terhadap teknologi.
Human Literacy: Kekuatan Manusia yang Tidak Dapat Digantikan AI Di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat, manusia membutuhkan kemampuan yang lebih dari sekadar kemampuan teknis. Materi kuliah Sesi 14 menempatkan literasi manusia sebagai bagian dari literasi baru, yang
berkaitan dengan humanities, komunikasi, dan desain. Hal ini menunjukkan bahwa
kemampuan memahami manusia dan berkomunikasi tetap penting ketika teknologi semakin berkembang.[1]
AI mampu mengolah data dalam jumlah besar dan memberikan hasil secara
cepat. Namun, AI belum mampu sepenuhnya memahami pengalaman hidup, budaya, emosi, dan nilai kemanusiaan sebagaimana manusia.
Menurut penulis, Human Literacy menjadi salah satu kemampuan penting
di era Society 5.0. Semakin canggih teknologi berkembang, semakin besar pula kebutuhan terhadap manusia yang memiliki karakter, kemampuan berkomunikasi, kreativitas, dan tanggung jawab sosial. Kemampuan tersebut melengkapi penguasaan teknologi sehingga manusia tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menentukan arah pemanfaatannya.
Estetika Humanisme sebagai Bekal Menghadapi Masa Depan
Dalam konteks mata kuliah Estetika Humanisme, perkembangan teknologi
tidak cukup dinilai dari kecanggihan dan efisiensinya, tetapi juga dari bagaimana
teknologi tersebut digunakan untuk mendukung kehidupan manusia. Materi Sesi 14 menegaskan bahwa Society 5.0 merupakan paradigma yang humanistis, dengan manusia sebagai pusat dan teknologi dimanfaatkan bagi kemanusiaan demi tercapainya kehidupan yang lebih baik.
[1]
Karena itu, kemampuan manusia seperti berpikir kritis, kreativitas,
komunikasi, kepemimpinan, dan pemahaman teknologi menjadi semakin penting.
AI dapat membantu menyediakan berbagai pilihan atau menyelesaikan tugas tertentu, tetapi manusia tetap memiliki peran dalam menentukan tujuan, mengambil keputusan, serta mempertimbangkan dampaknya bagi orang lain.
Menurut penulis, masa depan bukanlah tentang manusia melawan mesin,
melainkan bagaimana manusia dan teknologi dapat bekerja bersama secara
seimbang. AI Agent dapat membantu pekerjaan menjadi lebih cepat dan efisien,
sedangkan manusia tetap berperan dalam menentukan arah, nilai, tanggung jawab,
dan tujuan penggunaan teknologi.
PENUTUP
Perkembangan AI Agent bukanlah akhir dari peran manusia. Fenomena
aktual perkembangan AI di dunia kerja menunjukkan bahwa sebagian tugas dapat semakin mudah diotomatisasi, tetapi keterampilan seperti penilaian, kreativitas,
kepemimpinan, dan tanggung jawab manusia justru semakin penting. Karena itu, pertanyaan “AI Agent menggantikan pekerjaan?” sebaiknya dijawab dengan
melihat perubahan peran manusia, bukan hanya jumlah pekerjaan yang hilang.
Society 5.0 mengajarkan bahwa teknologi seharusnya menjadi alat yang membantu
manusia dan menyelesaikan persoalan sosial, dengan manusia tetap menjadi pusat dalam pemanfaatannya.[1][5]
Menurut penulis, keberhasilan di era AI bukan ditentukan oleh siapa yang
paling cepat atau paling canggih, tetapi oleh siapa yang mampu menggunakan
teknologi dengan bijaksana. Manusia tetap memiliki peran penting melalui
kemampuan memimpin, berkomunikasi, memahami teknologi, menulis, serta
memberikan pertimbangan yang berorientasi pada kemanusiaan.
[1]
Dengan mempertahankan paradigma humanistis dalam Society 5.0 dan
memperkuat Human Literacy, manusia dapat menghadapi perkembangan AI bukan semata-mata sebagai ancaman, tetapi sebagai peluang untuk menciptakan masa depan yang lebih manusiawi.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Arifiah, A. (2026). Materi Kuliah Estetika Humanisme Sesi 14. Jakarta:
Universitas Siber Asia.
[2] Cabinet Office, Government of Japan. (2021). Society 5.0. Diakses 6 Agustus
2026, dari
https://www8.cao.go.jp/cstp/english/society5_0/index.html
[3] Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia. (2026). Bangun Tata
Kelola AI yang Etis dan Bertanggung Jawab, Pemerintah Rampungkan
Pembahasan RPerpres. Diakses 6 Agustus 2026, dari
https://jdih.komdigi.go.id/berita/view/116
[4] Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia. (2026). Penguatan
Tata Kelola AI Jadi Kunci Mitigasi Risiko dan Keamanan Data. Diakses 6
Agustus 2026, dari
https://portal.komdigi.go.id/kanal-publik/berita-kini/10140
[5] PwC Indonesia. (2026).
AI Jobs Barometer 2026: AI mendorong transformasi dunia kerja dan meningkatkan permintaan atas keterampilan manusia. Diakses 6
Agustus 2026, dari
https://www.pwc.com/id/en/media-centre/press-release/2026/indonesian/ai-
jobs-barometer-id.html
[6] Microsoft Source Asia. (2026). Microsoft’s Work Trend Index 2026: 33% of
Indonesian Workers are at the Forefront of AI Adoption. Diakses 6 Agustus
2026, dari https://news.microsoft.com/source/asia/2026/06/30/microsofts-work
trend-index-2026-33-of-indonesian-workers-are-at-the-forefront-of-ai
adoption/?utm_source=chatgpt.com
