Siswa Dikreg LXVIII Seskoad Perkuat Sinergi Pencegahan Karhutla di Kota Pekanbaru
ZTV — Dalam rangka pelaksanaan Kuliah Kerja Lapangan Wilayah Pertahanan (KKL Wilhan) di wilayah Kodam XIX/TT, Siswa Pendidikan Reguler (Dikreg) LXVIII Seskoad Tahun Anggaran 2026 melaksanakan rangkaian kegiatan pencegahan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kota Pekanbaru. Kegiatan ini diarahkan untuk memperkuat pemahaman terhadap dinamika wilayah sekaligus membangun sinergi antara TNI, Polri, pemerintah daerah, instansi terkait, dan masyarakat dalam menghadapi ancaman Karhutla.
Salah satu kegiatan yang dilaksanakan adalah penyuluhan pencegahan Karhutla di Kelurahan Delima, Kecamatan Bina Widya, Kota Pekanbaru. Penyuluhan tersebut menjadi bagian dari upaya preventif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai bahaya Karhutla, baik terhadap aspek lingkungan, kesehatan, sosial, maupun ekonomi.
Dalam kegiatan tersebut, masyarakat diberikan pemahaman tentang pentingnya tidak membuka lahan dengan cara membakar, meningkatkan kewaspadaan terhadap titik api, serta segera melaporkan apabila ditemukan indikasi kebakaran. Pendekatan edukatif tersebut menempatkan masyarakat sebagai bagian penting dalam sistem pencegahan dini, mengingat keberhasilan penanggulangan Karhutla sangat dipengaruhi oleh partisipasi aktif masyarakat di tingkat lokal.
Selain kegiatan penyuluhan, Siswa Dikreg LXVIII Seskoad juga melaksanakan audiensi dan koordinasi dengan jajaran Polresta Pekanbaru serta instansi terkait penanggulangan Karhutla. Audiensi tersebut dimanfaatkan untuk memperoleh gambaran faktual mengenai pola penanganan Karhutla, mulai dari deteksi dini, patroli wilayah, pembinaan masyarakat, kesiapsiagaan personel, hingga penegakan hukum.
Melalui dialog dengan para pemangku kepentingan, para siswa memperoleh pemahaman bahwa penanggulangan Karhutla memerlukan pendekatan yang bersifat komprehensif dan terintegrasi. Upaya pencegahan tidak cukup hanya dilakukan melalui pemadaman ketika kebakaran telah terjadi, tetapi harus dimulai dari pemetaan daerah rawan, penguatan sistem peringatan dini, edukasi masyarakat, kesiapan sarana dan prasarana, serta koordinasi lintas sektoral yang berkelanjutan.
Dalam perspektif ketahanan wilayah, Karhutla tidak hanya dipandang sebagai persoalan lingkungan, tetapi juga sebagai ancaman nonmiliter yang dapat berdampak terhadap stabilitas wilayah, kesehatan masyarakat, aktivitas ekonomi, transportasi, hingga kehidupan sosial. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu pola penanganan yang mengedepankan kolaborasi, kecepatan respons, serta keterpaduan antarinstansi.
Kegiatan KKL Wilhan ini juga memberikan nilai akademis bagi Siswa Dikreg LXVIII Seskoad karena memungkinkan para siswa menghubungkan teori yang diperoleh dalam pendidikan dengan kondisi faktual di lapangan. Dari proses tersebut, para siswa dapat memahami secara langsung bagaimana konsep manajemen wilayah, sinergi lintas sektoral, mitigasi bencana, serta pemberdayaan masyarakat diterapkan dalam menghadapi permasalahan nyata di daerah.
Lebih jauh, kegiatan ini juga menjadi sarana pembelajaran kepemimpinan bagi para siswa sebagai calon pemimpin strategis TNI. Kemampuan dalam membangun komunikasi, koordinasi, serta kolaborasi dengan berbagai komponen bangsa menjadi faktor penting dalam menghadapi ancaman multidimensional yang semakin kompleks.
Melalui rangkaian kegiatan penyuluhan dan audiensi tersebut, Siswa Dikreg LXVIII Seskoad diharapkan mampu memperoleh pemahaman yang lebih utuh mengenai penanggulangan Karhutla sekaligus memberikan kontribusi nyata dalam memperkuat kesadaran masyarakat serta sinergi antarinstansi di Kota Pekanbaru.
*Upaya tersebut selaras dengan semangat untuk membangun ketahanan wilayah yang tangguh, adaptif, dan berkelanjutan, melalui penguatan pencegahan, kesiapsiagaan, serta keterlibatan seluruh komponen masyarakat dalam menjaga lingkungan dari ancaman kebakaran hutan dan lahan.*
