"Ketika Privasi Menjadi Konsumsi Publik: Kajian Estetika Humanisme dan Emotional Intelligence pada Kasus Perceraian Sarwendah dan Ruben Onsu."
Oleh :
Hurmah Lidzikrillah - mahasiswa universitas siber Asia 🙏🏻
ZTV - Media sosial bukan hanya sebagai tempat berkomunikasi, tetapi seringkali telah bergeser manjadi panggung penghakiman. Terutama banyak terjadi pada public figure yang sedang di hadapkan masalah. Salah satu fenomena yang sangat terkenal di kalangan media
sosial Indonesia yaitu runtuhnya rumah tanggal pasangan selebritas ternama.di sinilah public mampu mengetahui cara beremotional intelligence yang baik di media sosial.
Ruben Onsu adalah seorang artist atau public figure yang sangat terkenal di Indonesia.
Ruben Onsu sering sekali muncul di layar televisi Indonesia dan di berbagai platform media sosial lainnya seperti Youtube, Tiktok, Inatagram, Twitter dan banyak platform lainnya. Ia muncul dari mulai sebagai Host, Bintang tamu, sampai dengan Vlog atau aktif di media
pribadinya. Beberapa acara televisi yang di bawakan oleh Ruben Onsu yaitu: Brownis,
Kontes Dangdut Indonesia, Kilau DMD, dsb.
Sarwendah juga seorang artist atau public figure yang sangat terkenal di Indonesia dan yang tidak kalah popular Sarwendah adalah mantan anggota vocal Cherrybelle (2011-2012). Di media sosial Sarwendah Berbeda dengan Ruben Onsu. Ia lebih aktif di media sosialnya sendiri seperti tiktok, youtube, Instagram, dan platform lainnya. Sarwendah di media sosialnya sering membagikan kehidupan pribadinya (reality show) mengangkat keseharian keluarganya seperti:
A day in my live, Bekel untuk anak, dan membagikan kegitan sehari hari
lainnya.
Fenomena yang terjadi antara pasangan public figure ini begitu kompleks karna
ketiadaannya komunikasi yang terlihat baik, bahkan mereka dan kuasa hukumnya terlihat saling serang di beberapa media sosial.
Hal itu tersebar ke public pada saat pasangan tersebut resmi bercerai pada 2024 lalu. Dan pada pertengahan 2026 ruben onsu secara resmi mendaftarkan gugatan hak asuh anak.
Akhirnya di ruang public, public memberikan komentar, spekulasi, bahkan tak sedikit yang melakukan komentar penghakiman terhadap kedua public figure tersebut.
Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana persepsi public terbentuk, menilai emocinal intelligence seorang netizen lalu pengaruhnya dengan
anominitas digital dan dampaknya terhadap hilangnya nilai kemanusiaan digital melalui lensa Estetika Humanisme.
Dalam menganalisis persepsi public dapat kita kelompokkan menjadi 2 bagian:
Pihak yang Berempati dan Menghargai Privasi.
Dalam isu ini terdapat komentar public yang berempati terhadap idolanya, Ruben Onsu maupun Sarwendah.
Salah satu empati public terhadap mereka berdua di sosial media Instagram:
Pihak yang kedua yaitu dengan membuat Spekulasi Negatif/Menghujat Dalam isu besar komentar negative tidak bisa di hindari oleh banyaknya public figure.
Karna banyaknya informasi yang simpang siur dan belum jelas kebenarannya banyak netizen yang menelan mentah mentah informasi tersebut dan akhirnya menulis komentar negative dan opini menurut masing masing netizen di platform public figure yang bersangkutan, seperti
halnya komentar komentar negative yang ada di akun Ruben onsu dan Sarwendah:
Padahal jika public memiliki kemampuan emotional intelligence, public tersebut tidak mungkin erkomentar yang tidak bai kia mencegah diri langsung marah atau membalas komentar buruk secara implusif. Juga public akan menjaga jejak digital mencegah penyesalan akibat mengunggah hal hal emosional di ruang public.
Jika menggunakan kacamata Estetika Humanise, keaktifan media digital
memperlihatkan tanda-tanda berkurangnya Emotional Intelligence dan keseimbangan manajemen konflik yang sehat dalam masyarakat.
Keindahan (estetika) dalam humanisme
antarpribadi seharusnya diekspresikan dalam ranah publik dan privat masyarakat melalui rasa toleransi dan rasa hormat terhadap diri sendiri serta batas-batas moral yang mendefinisikan
ranah publik dan privat.
Sebaliknya, pada kasus khusus ini, yang kita temukan adalah ruang privat (misalnya pernikahan yang retak) telah diubah menjadi komoditas hiburan publik.
Faktor utama yang membuat nilai humanisme semakin rusak adalah fenomena anonimitas digital. Di platform seperti TikTok, Instagram, dan X, kebanyakan netizen yang memberi penghakiman kejam, fitnah, atau komentar ofensif bersembunyi di balik akun palsu
atau nama samaran. Anonimitas digital memicu terjadinya Online Disinhibition Effect.
Ini adalah kondisi di mana seseorang merasa bebas dari sanksi sosial di dunia nyata, lalu kehilangan kendali diri ketika berkomentar. Mereka lupa bahwa subjek berita yang sedang mereka bicarakan adalah manusia nyata yang punya kesehatan mental dan perasaan yang bisa
terluka. Di sinilah sikap berpikir kritis dan ilmiah hilang. Publik dengan mudah menelan potongan video pendek atau narasi sepihak tanpa memeriksa fakta lebih dulu.
Reaksi negative di berbagai media sosial tentu sangat berpengaruh terhadap Kesehatan mental public figure apalagi Kesehatan mental anaknya. Di dalam hujatan tersebut saat anak dari si public figure sudah bisa membaca hal itu dapat berpengaruh bagi Kesehatan
mentalnya.
Juga perasaan bingung antara percaya terhadap netizen tentang ayahnya atau
tentang bundanya. Tentunya karna hal itulah kita sebagai pengguna media sosial /netizen pentingnya mempelajari etika berkomentar demi menjaga nilai estetika humanisme di ruang
siber.
Media sosial seringkali mengaburkan Batasan privasi demi komoditas sosial. Makadari itu lah pengguna media sosial harus lebih bijak dan kritis dalam menggunakannya.
Setiap informasi yang belum tentu benar di cari terlebih dahulu agar nantinya tidak terjadi penyebaran hoaks atau fitnah. Dan lebih berempati dalam merespon masalah pribadi orang lain di internet.
Banyak juga cara yang bisa di lakukan untuk menerapkan emotional intelligence
antara lain: terapkan jeda, latih empati pada diri kita, dan yang terakhir saring informasi terlebih dahulu.
