EMPATI: WUJUD NYATA EMOTIONAL INTELLIGENCE DI ERA DIGITAL
oleh : Septiani Kaharya - Mahasiswa Universitas Siber Asia
Perkembangan teknologi komunikasi membuat jarak antarmasyarakat semakin dekat. Pesan dapat disampaikan dalam hitungan detik. Akan tetapi, kemudahan tersebut tidak serta merta membuat manusia lebih saling memahami. Sering kali kita merasa terhubung, tetapi pada saat yang sama merasa kesepian.
Salah satu unsur penting dalam Emotional Intelligence adalah empati. Menurut Daniel Goleman, empati adalah kemampuan untuk memahami perasaan orang lain dan menempatkan diri pada posisi orang tersebut. Empati berbeda dengan simpati. Simpati berupa rasa kasihan, sementara empati berupa usaha untuk benar-benar merasakan dan memahami.
Di era media sosial, pola komunikasi cenderung singkat dan cepat. Ketika seseorang menceritakan persoalannya, respons yang diberikan umumnya berupa "semangat" atau "sabar ya". Respons tersebut tidak salah. Namun, tidak semua permasalahan memerlukan solusi. Ada kalanya seseorang hanya membutuhkan pendengar yang bersedia hadir tanpa menghakimi.
Dalam pandangan humanisme, manusia dipandang sebagai makhluk yang memiliki nilai, martabat, dan perasaan. Humanisme menekankan pentingnya memperlakukan sesama manusia secara manusiawi. Estetika humanisme tampak ketika seseorang bersedia meluangkan waktu untuk mendengarkan orang lain dengan penuh perhatian. Keindahan muncul ketika kita mampu melihat sisi kemanusiaan dalam diri orang lain.
Saya pernah menyaksikan seorang teman yang selalu tampak tegar. Ia jarang mengeluh di depan umum. Suatu ketika ia mengungkapkan bahwa ia lelah berpura-pura kuat. Selama ini ia hanya membutuhkan satu orang yang mau mendengarkan tanpa langsung memberi nasihat. Pengalaman tersebut mengajarkan bahwa pengakuan terhadap perasaan seseorang terkadang lebih berarti daripada nasihat.
Individu yang memiliki Emotional Intelligence tinggi tidak berarti bebas dari emosi negatif. Sebaliknya, ia lebih peka terhadap emosi diri sendiri dan orang lain. Ia mengetahui kapan waktu yang tepat untuk berbicara, kapan harus diam, dan kapan harus memberikan dukungan.
Estetika terdapat pada proses tersebut. Terdapat keindahan ketika seseorang memilih untuk tidak terburu-buru dalam menanggapi. Terdapat nilai ketika seseorang menahan diri untuk tidak memotong pembicaraan. Terdapat kemanusiaan ketika seseorang berani bertanya "apakah engkau benar-benar baik-baik saja?" dan bersedia menunggu jawaban dengan sabar.
Melatih empati memang bukan perkara mudah. Kehidupan saat ini menuntut kecepatan dan efisiensi. Notifikasi terus bermunculan. Tenggat waktu terus mendekat. Meskipun demikian, kita dapat memulainya dari hal sederhana. Misalnya, membalas pesan dengan lebih lengkap. Menatap lawan bicara ketika ia berbicara. Tidak segera membuka ponsel ketika seseorang sedang bercerita.
Perubahan besar mungkin tidak akan terjadi hanya karena kita menjadi lebih berempati. Namun, setidaknya ada satu orang yang merasa dihargai. Ada satu orang yang merasa bahwa perasaannya diakui. Bukankah hal tersebut merupakan wujud nyata dari kemanusiaan?
Di tengah kecepatan zaman, empati menjadi keterampilan yang langka. Sebab empati menuntut waktu, tenaga, dan keberanian untuk peduli. Justru karena langka, empati menjadi sesuatu yang berharga.
Di tengah percakapan yang singkat, ada baiknya kita bertanya kepada diri sendiri: sudahkah kita benar-benar memahami perasaan orang lain?