BREAKING NEWS

Menemukan Jati Diri di Balik Bar: Perjalanan Junaidi Setiawan dari Teknik Mesin ke Dunia Bartending Internasional


ZTV - Junaidi Setiawan, atau yang akrab disapa Juna, adalah potret keberanian dalam mengambil keputusan besar dalam hidup. 

Lulusan Teknik Mesin ini memilih untuk
meninggalkan jalur karier konvensional demi mengikuti panggilan hatinya: menjadi bartender. Bagi sebagian orang, ini mungkin terdengar mengejutkan.

Namun bagi Juna, inilah langkah yang membuatnya merasa benar-benar hidup.
“Saya dulu ambil jurusan Teknik Mesin karena katanya menjanjikan,” kenangnya. “Tapi setelah dijalani, saya merasa tidak ada gairah di sana. Rasanya hampa.” Kegalauan itulah yang mendorongnya mencari aktivitas baru setelah lulus. 

Tanpa ekspektasi tinggi, ia mengikuti pelatihan bartending singkat. Dari situ,
ketertarikannya tumbuh dan berkembang.

Sumber Foto: Oleh Penulis
Dokumentasi pribadi saat wawancara dengan Junaidi Setiawan

Awalnya, dunia bartending hanyalah pelarian. Namun semakin dalam ia menjalaninya, semakin ia merasa menemukan tempat yang tepat. “Ternyata seni meracik minuman dan interaksi sosial itu menyenangkan dan menantang,” ujarnya.

Ia mulai dari nol, bekerja sebagai barback di sebuah lounge kecil. “Tugas saya saat
itu bantu bersihin meja, nyiapin bahan, dan belajar dari bartender senior. Tapi saya
nggak malu, justru dari situ saya belajar dasar-dasarnya.”

Perjuangannya tidak ringan. Ia sempat merasa minder karena tidak memiliki latar belakang hospitality. Banyak rekan dan pelanggan yang meragukan kemampuannya. “Tantangan terbesarnya itu soal mental. Saya harus terus meyakinkan diri sendiri bahwa saya bisa. Karena kalau saya saja nggak percaya diri, orang lain juga pasti nggak percaya.” Namun Juna tidak berhenti di situ. 

Ia terus mengembangkan diri, mengikuti
pelatihan profesional, sertifikasi, dan ikut dalam berbagai kompetisi. Puncaknya, ia
berhasil menjadi finalis dalam kompetisi bartending nasional, yang membukakan
pintu baginya untuk bekerja di hotel internasional. “Saya apply ke beberapa
tempat. Prosesnya panjang, tapi akhirnya saya diterima. Dan itu jadi titik balik
karier saya.”

Bekerja di hotel bintang lima membawa tantangan baru. “Standar kerja jauh
lebih tinggi, tamu juga lebih beragam. Tapi itu justru membuat saya tumbuh. Saya
jadi lebih teliti, lebih disiplin, dan punya motivasi lebih besar untuk terus belajar,”
katanya. 

Ia juga banyak belajar dari rekan-rekan kerja dari berbagai negara, yang memperkaya perspektif dan kemampuannya.

Bagi Juna, bartending bukan sekadar pekerjaan. Ini adalah seni dan bentuk pelayanan yang membutuhkan empati dan kreativitas. “Setiap malam punya cerita sendiri. Tamu datang dengan suasana hati berbeda. Saya ingin mereka merasa nyaman, didengar, dan pulang dengan perasaan senang. Di situlah letak kepuasan saya.”

Kompetisi bartender oleh Junaidi Setiawan
Sumber: Instagram (@Juna.Setiawan76)

Namun tidak semua momen indah. Ada juga situasi sulit yang harus dihadapi. “Pernah ada tamu mabuk berat, bahkan bersikap kasar. Tapi saya belajar tetap tenang. Kalau situasinya terlalu berat, saya panggil supervisor. Intinya, jangan terpancing emosi.” Bagi Juna, profesionalisme dan pengelolaan emosi adalah keterampilan yang wajib dimiliki bartender.

Seiring berjalannya waktu, Juna mulai berdamai dengan pilihan kariernya.
“Dulu saya sering bertanya-tanya, ngapain kuliah teknik kalau akhirnya kerja di bar? Tapi sekarang saya sadar, semua pengalaman itu membentuk saya. Ilmu teknik membuat saya teliti, terstruktur, dan itu sangat membantu dalam meracik minuman.” Respon lingkungan awalnya tidak selalu positif. 

Keluarga sempat ragu, dan beberapa teman mempertanyakan pilihannya. “Ada yang bilang, ‘Sayang banget gelarnya.’ Tapi setelah lihat pencapaian saya sekarang, mereka jadi lebih menghargai.” Kini, ia menjadi panutan bagi banyak anak muda yang ingin
menekuni profesi serupa.

Cita-cita Juna ke depan adalah membuka bar miliknya sendiri. “Saya ingin bikin bar yang punya karakter, bukan cuma tempat minum. Tempat di mana orang bisa ngobrol, belajar, dan merasa nyaman.” Ia juga ingin menjadi mentor bagi generasi muda. “Banyak yang tertarik jadi bartender tapi nggak tahu harus mulai dari mana. Saya ingin bantu mereka.”
Kepada siapa pun yang ragu mengambil jalan berbeda, Juna memberikan pesan kuat: “Ikuti kata hati. Hidup bukan soal ekspektasi orang lain. Kalau kamu merasa bahagia dan bisa berkembang, jalani sepenuh hati. Jangan setengah-setengah.” Kini, Juna hidup dengan penuh semangat. 

Ia percaya bahwa kesuksesan bukan
hanya tentang jabatan atau gaji besar, tapi tentang menemukan makna dan kebanggaan dalam pekerjaan. “Hidup itu terlalu singkat untuk dijalani dengan setengah hati. Kalau kamu tahu apa yang kamu cintai, kejarlah. Dunia akan membuka jalan.” Kisah Junaidi Setiawan adalah bukti bahwa keberanian untuk memilih jalan yang berbeda bisa membawa seseorang ke tempat yang lebih bermakna. 

Dari jurusan teknik ke dunia bartender internasional, ia telah menepis keraguan dan
membuktikan bahwa passion, kerja keras, dan ketulusan adalah kunci sejati untuk
sukses.




Kontributor :  Oki Susanti - NIM 230501010082 Mahasiswa UNIVERSITAS SIBER ASIA
Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar