Masyarakat Lebih Memilih Belanja Online, Kondisi Pasar Semakin Mengkhawatirkan
ZTV.BANDUNG - Pasar Kosambi Bandung- Masyarakat kini lebih memilih membeli kebutuhan sehari-hari di aplikasi e-commerce dibandingkan membeli secara langsung di pasar tradisional. Perbandingan harga yang lebih transparan, lesunya pendapatan informal, dan fasilitas pasar yang menjadikan alasan utama masyarakat lebih memilih membeli kebutuhan sehari-hari di aplikasi e-commerce.
Para penjual pasar Kosambi merasa khawatir dan mengeluh melihat keadaan pasar yang semakin sepi, dan berpengaruh terhadap penurunan pendapatan. Sementara para penjual harus tetap membayar biaya sewa lapak jualan, iuran keamanan, dan kebutuhan harian yang harus tetap berjalan.
Biasanya momen seperti Ramadhan, Lebaran dan tahun baru menjadi waktu “panen” pendapatan, tetapi sekarang sepi. Ucap salah satu pemilik kios.
Bahkan sudah ada beberapa kios yang tutup karena stok barang tidak laku, modal yang tidak berputar, dan tidak ada pemasukan sama sekali. Selain itu, pekerja harian seperti porter, tukang parkir hingga penjual makanan di sekitar pasar juga ikut terkena dampaknya.
Beberapa pedagang mulai beradaptasi dengan cara menjual barang secara online seperti WhatsApp, Instagram, Tik Tok atau marketplace. Namun tidak semua penjual punya kemampuan untuk akses secara online, karenanya pedagang memilih mengurangi jumlah stok dan menekan biaya operasional.
Penurunan ini mulai terlihat sejak masa pandemi sekitar 60-80 persen dari keadaan normal, namun sampai sekarang masih terasa dampaknya.
Pemerintah sejauh ini belum terlihat banyak mengambil langkah yang konkret, padahal pedagang pasar tradisional sangat membutuhkan dukungan dari pemerintah.
“ Kondisi ini sangat disayangkan mengingat pasar Kosambi adalah salah satu pasar bersejarah dan strategi di Kota Bandung,” ucap Popy.
Pedagang berharap pemerintah memperhatikan dan memberi solusi agar pasar tradisional seperti Kosambi tetap bertahan dan kembali ramai seperti dulu, dengan membangun fasilitas yang nyaman, bersih dan ramah untuk di kunjungi.
Kontributor : Nur Aprilia Ningsih - NIM 230501010168, Mahasiswa Universitas Siber Asia