Kajian Mata Kuliah Umum Estetika Humanisme | Topik: Personal Studies & Self-Concept
(Ilustrasi AI/foto: ist)
ANALISIS SELF-CONCEPT DAN KAJIAN PERSONAL STUDIES PADA TREN PENGOLAHAN KIMPUL: MEDIA AKTUALISASI DIRI DAN SELF-CARE IBU MODERN
analisis perspektif estetika humanisme terhadap fenomena pengolahan pangan lokal di sosial media
Penyusun: Wulandari Triastuti - Universitas Siber Asia
ZTV - A. Pendahuluan, Laju algoritma media sosial seperti TikTok dan Instagram Reels akhir-akhir ini dihiasi dengan sebuah fenomena kuliner yang menarik. Hadir riak tren baru yang diusung oleh salah satu kreator konten domestik, seorang Ibu Rumah Tangga dengan nama pengguna @black.sheep8208, yang membuat konten gerakan mengganti karbohidrat utama dengan umbi-umbian lokal, secara khusus kimpul (Xanthosoma sagittifolium), yang kemudian diikuti oleh para Ibu dan kreator konten lainnya. Piring-piring ditata dengan sentuhan aesthetic plating–yang menawan dan menggugah selera ini membawa warna baru dalam budaya kuliner digital.
Awalnya kimpul kerap menempati posisi atau memiliki stigma sebagai “makanan orang desa”, “makanan komoditas kelas bawah” atau sekadar pangan darurat. Namun konstruksi budaya di sosial media ini mengubah posisi kimpul sebagai penanda gaya hidup sehat, superfood lokal yang elegan dan bernilai estetis. Pangan yang dulu dikesampingkan kini bertransformasi dan digandrungi kalangan muda.
Fenomena ini tidak hanya cukup dibaca sebagai tren atau pencarian konten viral semata. Jika dilihat dan dibedah lebih dalam dari kacamata Estetika Humanisme–khususnya pada ruang lingkup Self-Concept dan Personal Studies–tren ini merupakan manifestasi dari pencarian makna self-care, dorongan aktualisasi diri dan kesadaran estetis yang nyata di tengah kompleksitas era modern.
B. Self-Concept dan Personal Studies
Untuk memahami fenomena ini secara akademis, kita perlu tahu dulu apa itu Self-Concept dan Personal Studies dalam kajian Estetika Humanisme:
1. Self-Concept atau Konsep Diri
Definisinya menurut William D Brooks sebagai “those physical, social, and psychological perceptions of ourselves that we have derived from experiences and our interactions with others”. Jadi, Self-Concept atau konsep diri adalah kumpulan keyakinan dan persepsi diri mengenai diri sendiri yang terorganisir, termasuk semua ide, pikiran, kepercayaan dan pendirian suatu individu dan mempengaruhi individu tersebut dalam berhubungan dengan orang lain.
2. Personal Studies
Kepribadian menurut Feist & Feist (2008) adalah pola-pola dari sifat yang relatif permanen dan memiliki karakter unik secara konsisten dan yang pada akhirnya memunculkan perilaku individu. Jadi, Personal Studies disini sebagai studi ilmiah dan reflektif tentang pengenalan serta pengembangan diri manusia. Dengan kata lain ilmu mengenali dan mengelola diri sendiri agar menjadi manusia yang utuh, berkarakter, dan bijak dalam bermasyarakat.
C. Redefinisi Kimpul: Pangan Tradisional Menjadi Kuliner Estetika
Fenomena kimpul yang menguasai FYP TikTok, Instagram Reels, Threads, hingga platform X diawali oleh aksi kreatif seorang kreator konten asal Bantul, Yogyakarta dengan nama pengguna @black.sheep8208 yang sering dijuluki netizen sebagai “ibu kimpul” dan “duta ketahanan pangan”. Setiap kali hendak membuat resep makanan kekinian atau sajian internasional—mulai dari hidangan Korea hingga Italia—ia kerap mendapati bahan-bahan mahal atau langka tidak tersedia di dapurnya.
Dengan nada bicaranya yang ramah dan humble, ia mempopulerkan kalimat yang kini menjadi jargon viral di TikTok:
“Karena saya tidak punya [nama bahan baku], jadi saya ganti kimpul...”
Dari kalimat sederhana yang terkesan “kepepet” tersebut, sang ibu mempertunjukkan keahlian kuliner dan jiwa eksperimentalnya yang luar biasa. Berbagai hidangan pop-culture yang biasanya menggunakan kentang, gandum, pasta, atau beras diubah total menggunakan umbi kimpul lokal:
• Mashed Kimpul ala resto mewah sebagai pengganti mashed potato.
• Arancini (bola nasi goreng khas Italia) yang beras risottonya diganti kimpul.
• Kimpuljeon (pancake gurih ala Korea yang terinspirasi dari gamjajeon).
• Lasagna & Dubai Chewy Cookie yang lembaran pasta dan bahannya dikreasikan dengan kimpul.
Melalui perspektif estetika humanisme, keindahan tidak lagi terbatas pada objek seni tinggi murni, melainkan hadir dalam pengalaman keseharian (everyday aesthetics). Tindakan memilih umbi lokal dan mengolahnya secara sadar (mindful eating) merefleksikan penghargaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan dasar: kesehatan, kesadaran tubuh, dan hubungan yang harmonis dengan alam.
Estetika dalam konteks ini berfungsi sebagai instrumen pemaknaan ulang terhadap hal-hal yang tadinya dianggap remeh menjadi sesuatu yang bernilai tinggi dan berdaya pikat.
“Keindahan dalam Estetika Humanisme bukanlah sekadar kepuasan visual yang pasif, melainkan bentuk kesadaran aktif atau mindfulness yang memanusiawikan kembali aktivitas-aktivitas keseharian yang dulunya dianggap rutin dan mekanis”
D. Perspektif Personal Studies: Pengolahan Kimpul sebagai Self-Care dan Dorongan Aktualisasi Diri
Fenomena ini menjadikan keputusan seorang ibu untuk secara khusus mengolah kimpul bagi dirinya sendiri menjadi sebuah tindakan politis dalam skala mikro. Mengganti nasi dengan kimpul-yang kaya serat, memiliki indeks glikemik lebih rendah, dan memberikan rasa kenyang lebih lama-merupakan bentuk kepedulian yang nyata terhadap kondisi tubuhnya sendiri. Ini adalah wujud self-care yang autentik, bukan sekadar self-care komersial yang identik dengan perawatan spa mahal.
Saat ibu meluangkan waktu 15-30 menit di dapur untuk menyiapkan piring kimpulnya sendiri, mendokumentasikannya, dan menikmatinya dengan perlahan (mindful eating), ia sedang menciptakan ruang kedaulatan pribadi (personal agency). Kimpul bertindak sebagai “mediating object” atau objek perantara yang memfasilitasi “waktu untuk diri sendiri”.
Melalui ritual kecil ini, sang ibu mengartikulasikan sebuah pesan implisit: “Tubuhku berharga, kesehatanku penting, dan aku berhak menentukan apa yang terbaik untuk diriku sendiri.”
E. Transformasi Self-Concept sebagai Akibat dari Tren Pengolahan Kimpul
Menurut psikologi kognitif dan humanistik, konsep diri bersifat dinamis dan terus berkembang melalui interaksi sosial serta tindakan-tindakan bermakna. Tren pengolahan kimpul di media sosial ini merekonstruksi tiga komponen utama konsep diri dari konteks seorang ibu modern secara signifikan:
a. Reorganisasi Diri Ideal (Ideal Self)
Dulu, cita-cita seorang ibu rumah tangga sering kali didefinisikan oleh kepatuhan dan kesempurnaannya dalam mengurus rumah. Namun, paparan narasi baru di media sosial membentuk definisi baru tentang “ibu ideal”. Ibu yang ideal masa kini adalah ibu yang tidak melupakan dirinya sendiri; ibu yang tetap merawat kecantikan, kesahatan digestif, dan stamina tubuhnya. Mengonsumsi kimpul sebagai pengganti nasi menjadi simbol konkret dari pencapaian ideal self tersebut-seorang wanita yang modern, melek nutrisi, namun tetap membumi dengan mengapresiasi kearifan lokal.
b. Konstruksi Diri Sosial (Social Self) dan Validasi Kolektif
Manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan pengakuan. Ketika seorang ibu mengunggah video pengolahan kimpul di TikTok dengan tagar seperti #MenuDietSehat, #KimpulLokal, atau #GayaHidupIbuMuda, ia sedang memproyeksikan social self-nya ke ruang publik digital. Kolom komentar yang dipenuhi oleh respons positif dari sesama ibu-seperti pujian, pertanyaan resep, atau berbagi pengalaman serupa menciptakan ruang validasi sosial. Ibu tersebut tidak lagi merasa terisolasi dalam tembok-tembok dapur yang sunyi, melainkan merasa menjadi bagian dari sebuah gerakan kolektif yang positif dan suportif.
c. Peningkatan Harga Diri (Self-Esteem) Melalui Pencapaian Subjektif
Self-esteem atau evaluasi terhadap keberhargaan diri tumbuh ketika individu merasa mampu mengontrol jalannya hidup (internal locus of control).
Keberhasilan konsisten dalam mengolah kimpul, mengatasi rasa bosan terhadap nasi, dan merasakan dampak positif pada tubuh (seperti badan terasa lebih ringan dan pencernaan lebih sehat) memberikan kepuasan emosional yang mendalam. Pengalaman keberhasilan kecil ini secara kumulatif memperkuat harga diri sang ibu, membuktikan bahwa ia memiliki kendali atas tubuh dan gaya hidupnya.
F. Kesimpulan
Dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa tren pengolahan kimpul sebagai pengganti karbohidrat oleh para ibu di TikTok merupakan sebuah fenomena kultural yang sangat kaya akan makna estetis dan humanistis. Melalui kacamata Estetika Humanisme kimpul telah bertransformasi dari sekadar umbi-umbian inferior menjadi media aktualisasi diri, ritual self-care, dan instrumen penting dalam pembentukan self-concept ibu modern.
Melalui tindakan sederhana ini, para ibu berhasil membuktikan bahwa aktivitas domestik tidak selamanya harus menjadi kurungan yang membelenggu identitas. Dapur dapat diubah menjadi studio kreatif, mengolah kimpul dapat dijadikan ritual mencintai diri, dan media sosial dapat dimanfaatkan sebagai panggung untuk merebut kembali agensi diri. Pada akhirnya, fenomena ini mengingatkan kita bahwa pemanusiaan diri (humanization of the self) dapat dimulai dari hal-hal paling sederhana di piring makan kita sehari-hari
Daftar Pustaka:
Tim Dosen Estetika Humanisme. Personality Studies. (Modul Bahan Ajar Pertemuan 2). Universitas Siber Asia
Tim Dosen Estetika Humanisme. Self-Concept. (Modul Bahan Ajar Pertemuan 3). Universitas Siber Asia
Brooks, W. D. (1974). Speech Communication. Wm. C. Brown Company Publishers.
Feist, J., & Feist, G. J. (2008). Theories of Personality (7th ed.). McGraw-Hill.
Prasetyo, A., & Wibowo, S. (2022). Konstruksi estetika harian (Everyday Aesthetics) dan representasi konten kuliner di media sosial TikTok. Jurnal Komunikasi dan Budaya Digital, 3(1), 45–57.
Rahmawati, D., & Nurdin, H. (2021). Media sosial sebagai panggung aktualisasi diri dan pembentukan self-concept ibu rumah tangga di era digital. Jurnal Kajian Gender dan Masyarakat, 12(2), 112–125.
