Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger
  • September 202665
  • Agustus 2026205
  • Juli 202673
  • Juni 202673
  • Mei 2026413
  • April 2026191
  • Maret 202669
  • Februari 202677
  • Januari 202677
  • Desember 202576
  • November 202573
  • Oktober 202584
  • September 202564
  • Agustus 2025115
  • Juli 2025122
  • Juni 2025111
  • Mei 2025112
  • April 202587
  • Maret 2025132
  • Februari 2025117
  • Januari 2025107
  • Desember 2024149
  • November 2024176
  • Oktober 202499
  • September 2024102
  • Agustus 2024130
  • Juli 2024177
  • Juni 2024103
  • Mei 2024297
  • April 2024139
  • Maret 202464
  • Februari 202469
  • Januari 202485
  • Desember 202383
  • November 202388
  • Oktober 2023211
  • September 2023206
  • Agustus 2023144
  • Juli 2023197

Laporkan Penyalahgunaan

BREAKING NEWS
ZTV

ZTV

  • Media Network
  • _Perintah Rakyat
  • _METRO - NETWORK id
  • _ZTV ACEH
  • _SATU PIKIRAN
  • News Network
  • _DAERAH
  • _GLOBAL
  • _HUKUM - KRIMINAL
  • _Dokumentasi
  • _Film
  • _KPOP
  • _Advetorial
  • _Wisata dan Kuliner
  • 🏙️ Nasional
  • 🏦 Ekonomi
  • 📰 News
  • 🗣️ Pilihan Rakyat
  • NEWS
  • NASIONAL
  • PENDIDIKAN
  • FILM
  • INTERNASIONAL
  • MEGAPOLITAN
  • POLITIK
  • PILIHAN EDITOR
  • JABODETABEK
  • KPOP
  • ADVETORIAL
  • REGIONAL
  • INDONESIA
  • FOTO
  • OPINI
  • EKONOMI
ZTV
  • ZTV
  • ZTV ACEH
  • METRO NETWORK
  • SATU PIKIRAN
  • PERINTAH RAKYAT
  • News
  • Pendidikan
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Film
  • Internasional
  • Megapolitan
  • Kriminal
  • Regional
  • Politik
  • Pilihan Editor
  • Pilihan Rakyat
  • Jabodetabek
  • KPOP
  • Advetorial
  • Opini
  • Beranda
  • Opini
  • Selebriti

Fenomena BTS Menolak Grammy : Gaya kepemimpinan transformasional dalam estetika humanism

Bro
Agustus 10, 2026




Hana Yunita Ekowati – Mahasiswa Universitas Siber Asia


ZTV - Keputusan BTS untuk tidak mengirimkan karyanya mereka ke ajang Grammy 2027 menjadi salah satu momen paling siginifikan dalam budaya global saat ini. Di tengah dominasi industry music barat, tindakan ini bukan hanya sekedar Keputusan administratif, melainkan sebuah pernyataan sikap yang sarat akan moral ,etika dan keberanian. 


Meskipun Grammy memperkenalkan kategori baru “Best Asian Pop Music Performance” sebagai bentuk pengakuan terhadap perkembangan musik Asia , BTS menilai kategori tersebut justru mengkotakkan musik Asia ke dalam ruang yang terpisah dengan kategori umum seperti Record of The Year atau Album of The Year. Ketujuh anggota BTS memposting peryataan seragam di Instagram :

“Kami memutuskan untuk tidak mengikuti Grammy tahun ini. Kami berharap musik dapat didengar dan dicintai apa adanya, bukan dibagi berdasarkan wilayah atau bahasa.”

Album comeback mereka, ARIRANG, adalah salah satu album terlaris tahun itu dan diprediksi masuk kategori besar seperti Album of the Year. Namun ironisnya, lagu utama mereka yang banyak berbahasa Inggris justru tidak memenuhi syarat untuk kategori Asian Pop baru. Ini memperkuat kesan bahwa kategori tersebut tidak benar-benar merepresentasikan realitas musik Asia modern yang sering bilingual. 

CEO Grammy, Harvey Mason Jr., menyatakan ia “saddened” tetapi menghormati keputusan BTS. Ia menegaskan kategori baru dibuat untuk “merayakan keragaman dan pertumbuhan musik Asia,” bukan memisahkan. 

Namun banyak kritikus dan fans melihatnya sebagai bentuk segregasi halus. Ketika dikaitkan dengan konsep gaya kepemimpinan humanistik, keputusan BTS menjadi contoh bagaimana pemimpin budaya dapat menggerakkan perubahan melalui tindakan etis yang berakar pada nilai-nilai kemanusiaan. 

Grammy, sebagai lembaga penghargaan musik global, memiliki sejarah panjang dalam menghadapi kritik terkait bias rasial dan struktural (Watson, 2020). Kategori “Asian Pop” yang baru, meskipun tampak inklusif, justru memperkuat batas-batas budaya yang memisahkan musik Asia dari kategori umum. 

Dalam estetika humanisme, tindakan BTS menolak kategori tersebut merupakan bentuk penolakan terhadap struktur yang dianggap tidak memuliakan martabat manusia secara setara.

Dari perspektif kepemimpinan humanistik, BTS menunjukkan tiga gaya kepemimpinan utama: kepemimpinan moral, kepemimpinan empatik, dan kepemimpinan transformasional humanistik. 

Namun kepemimpinan transformasional terlihat lebih menonjol. Kepemimpinan transformasional biasanya berfokus pada perubahan sistem, tetapi dalam estetika humanisme, perubahan tersebut harus berakar pada nilai kemanusiaan bukan sekadar strategi industri. 

Deng et al, (2023) menjelaskan bahwa kepemimpinan transformasional menekankan kemampuan pemimpin untuk menginspirasi, memotivasi, dan memengaruhi pengikut dalam mencapai perubahan positif yang berkelanjutan. 

Keputusan BTS memicu diskusi global tentang representasi budaya, bias struktural dalam industri musik, dan bagaimana lembaga besar seperti Grammy memandang musik non-Barat. Mereka tidak hanya mengkritik sistem, tetapi juga mendorong perubahan yang lebih inklusif dan adil. Dengan demikian, tindakan mereka menjadi bentuk transformasi budaya yang berlandaskan nilai humanistik atau Humanistic Cultural Resistance.

Pada akhirnya, fenomena BTS menolak Grammy adalah contoh nyata bagaimana estetika humanisme dapat diwujudkan dalam tindakan kepemimpinan. Keindahan tidak lagi terletak pada panggung megah atau penghargaan prestisius, tetapi pada keberanian memperjuangkan martabat manusia. BTS menunjukkan bahwa kepemimpinan humanistik adalah kepemimpinan yang memuliakan manusia, menolak ketidakadilan, dan mendorong perubahan yang berakar pada nilai-nilai kemanusiaan. 

Dalam dunia yang semakin kompleks dan terfragmentasi, tindakan seperti ini menjadi pengingat bahwa seni dan budaya memiliki kekuatan untuk menggerakkan perubahan sosial yang lebih besar. Dan semua fans ARMY akan selalu mendukung dan menghargai semua Keputusan BTS. BTS x ARMY Borahae .



Daftar Pustaka :
Watson, A. (2020). Racial bias and cultural politics in the Grammy Awards. Journal of Popular Music Studies, 32(3), 45–60.
Deng, X., Leung, K., & Wu, S. (2023). Transformational leadership revisited: A meta-analytic review of its overlap with contemporary leadership styles and its effectiveness. Journal of Management, 49(2), 345–372.
Baca Juga
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Bro
Bro
Hanya Kuli
Berita Terkait
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Rekomendasi
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Tampilkan lebih banyak
Posting Komentar
Batal
Gambar
Terpopuler
Ngaji Bareng
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Fokus
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Foto
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Shorts
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Tv
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
ZTV NETWORK
  • Brand Logo
  • Brand Logo
  • Brand Logo
ZTV
Ikuti Kami
  • Redaksi
  • About
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
© ZTV - SINCE 2021