Islam Adalah Agama Perdamaian, Bukan Perpecahan
(Islam Adalah Agama Perdamaian, Bukan Perpecahan/Foto: ist)
ZTV.MEDAN - Belakangan ini, wajah Islam sering kali disalahpahami. Ada yang menganggap Islam identik dengan kekerasan, konflik, bahkan perpecahan. Padahal, jika kita menyelami samudera ajaran syariatnya, kita justru menemukan fakta sebaliknya: Islam adalah agama perdamaian (Dinul Salam), bukan agama yang mengajarkan permusuhan.
Makna Islam: Agama yang Membawa Kedamaian
Secara etimologi, kata Islam berasal dari akar kata as-salam yang berarti damai, selamat, dan tunduk kepada Allah SWT. Seorang Muslim sejati adalah pribadi yang menghadirkan rasa aman bagi orang lain.
Rasulullah SAW bersabda:
المسلم من سلم المسلمون من لسانه ويده
“Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa Islam tidak dibangun di atas kekerasan, melainkan di atas akhlak mulia, sikap santun, serta jaminan keselamatan bagi sesama manusia.
Islam Menjunjung Tinggi Persaudaraan
Islam sangat menekankan pentingnya persatuan umat dan melarang perpecahan. Perbedaan pendapat adalah hal yang wajar dan bahkan bisa menjadi rahmat, namun perpecahan (tafarruq) adalah musibah yang harus dihindari.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
واعتصموا بحبل الله جميعا ولا تفرقوا
“Berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai-berai.”
(QS. Ali ‘Imran: 103)
Ayat ini mengingatkan bahwa kekuatan umat terletak pada persatuan, bukan pada konflik internal yang justru melemahkan kita.
Islam dan Toleransi Terhadap Non-Muslim
Salah satu kesalahpahaman yang sering muncul adalah anggapan bahwa Islam selalu memerintahkan peperangan terhadap mereka yang berbeda keyakinan. Padahal dalam ajaran Islam, prinsip dasar hubungan dengan sesama manusia adalah kedamaian dan toleransi, selama tidak ada penindasan atau kezaliman.
Sebagai contoh yang belakangan menjadi pembahasan di masyarakat adalah terkait surat edaran walikota mengenai pengelolaan tempat penjualan daging non-halal.
Dalam hal ini, umat Islam tidak pernah melarang keberadaan penjualan daging non-halal. Namun tentu ada hal-hal yang perlu dijaga bersama, seperti penempatan lokasi yang jelas serta pengelolaan limbah yang baik, agar tidak mencemari lingkungan masyarakat.
Bagi umat Islam, bukan hanya daging tersebut yang tidak boleh dikonsumsi, tetapi juga terkait persoalan najis yang harus dijaga kebersihannya sesuai dengan ajaran agama.
Karena itu, kita berharap masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh pihak-pihak yang ingin memecah belah persatuan dan kerukunan.
Menyikapi Perbedaan dengan Kepala Dingin
Islam mengajarkan bahwa setiap persoalan harus diselesaikan dengan musyawarah, dialog, dan sikap bijaksana, bukan dengan emosi, keributan, apalagi tindakan anarkis.
Jika ada hal yang dirasa kurang tepat atau menimbulkan keresahan, maka sampaikan dengan lisan yang santun dan kepala dingin, sehingga solusi dapat ditemukan tanpa merusak kerukunan yang sudah terbangun.
Penutup
Mari kita menjadi duta kedamaian dalam kehidupan sehari-hari.
Jika hari ini masih ada pertikaian antar sesama Muslim atau ketegangan dengan kelompok lain, maka kita perlu bertanya pada diri sendiri:
apakah itu benar ajaran Islam, atau hanya ego manusia yang dibungkus dengan label agama?
Beberapa pelajaran yang dapat kita ambil:
Islam memerintahkan kita menyatukan yang tercerai, bukan memecah yang sudah bersatu.
Perbedaan adalah sunnatullah, yang harus disikapi dengan dialog, bukan dengan caci maki.
Dakwah terbaik adalah melalui perilaku dan keteladanan (dakwah bil hal).
Dengan akhlak yang baik, dunia akan melihat bahwa Islam benar-benar membawa rahmat bagi seluruh alam.
Semoga Allah SWT menjaga hati kita dari kebencian, memperkuat persatuan umat, dan menjadikan kita bagian dari umat yang membawa kedamaian bagi sesama.
Penulis : Mansyur Daud Lubis, S. Pd I
Ketua Majelis Misbahul muslimin Sumut