Stop Scrolling !! Pentingnya Kontrol Diri di Tengah Arus TikTok
(Ilustrasi AI/foto: ist)
Oleh: Intan Rosdiana - Mahasiswa Universitas Siber Asia
ZTV - Jam tiga pagi, layar ponsel masih menyala. Ibu jari terus menggeser video demi video di TikTok, meski mata sudah berat dan esok pagi ada kelas jam tujuh. Bukan hanya rasa penasaran yang membuat sulit berhenti, melainkan banyak sesuatu yang lebih kompleks. Rasa takut tertinggal, dorongan mencari validasi, dan kebiasaan diam-diam membandingkan diri dengan potongan hidup orang lain dilayar.
Sebagian besar dari kita mungkin pernah mengalaminya, tanpa benar-benar menyadari mengapa hal itu terus terjadi, dan tanpa sempat bertanya apa yang sebenarnya sedang dikejar dari kebiasaan tersebut.
Fenomena ini bukan pengalaman segelintir orang. Per Maret 2025, jumlah pengguna aktif bulanan TikTok di Indonesia telah menembus lebih dari 160 juta, menjadikan Indonesia negara dengan pengguna TikTok terbanyak di Asia Tenggara (Kompas.com, 2025).
Mayoritasnya adalah kelompok usia sekolah dan kuliah, generasi yang secara psikologis masih berada dalam tahap mencari jati diri. Ketika platform sebesar ini menjangkau begitu banyak anak muda, dampaknya terhadap cara mereka berpikir dan berperilaku menjadi persoalan yang tidak bisa dianggap sepele.
Algoritma TikTok dirancang untuk memaksimalkan waktu tayang, bukan menjaga kesejahteraan penggunanya. Konten yang memicu emosi, kekaguman, iri hati, atau kemarahan. Terbukti membuat orang bertahan lebih lama di aplikasi.
Purboningsih dkk. (2023) menemukan bahwa media sosial kini menjadi ruang sosial utama remaja Indonesia, sekaligus sumber tekanan baru berupa perbandingan sosial dan kekhawatiran akan penilaian orang lain.
Ketika likes dan views dijadikan ukuran harga diri, kestabilan emosi seseorang jadi bergantung pada sesuatu yang tidak sepenuhnya bisa ia kendalikan. Sebuah sistem yang bekerja di luar kesadarannya sendiri.
Setidaknya ada tiga gejala yang paling sering muncul. Pertama, fear of missing out atau FOMO, yaitu kecemasan tertinggal tren dan momen orang lain, yang menurut kajian terhadap mahasiswa Universitas Negeri Malang berkaitan erat dengan kecenderungan adiksi media sosial pada Generasi Z (Jurnal Pendidikan Nonformal, 2024).
Kedua, perbandingan sosial yang tidak realistis: Tiggemann dan Slater (2013) menemukan remaja yang lebih sering bermedia sosial cenderung lebih tidak puas terhadap penampilan fisiknya sendiri, sebab yang mereka lihat hanyalah “sorotan terbaik” bukan potret utuh kehidupan seseorang.
Ketiga, reaksi impulsif di kolom komentar, yang menurut Kowalski dkk. (2014) dapat berdampak psikologis serius bagi korban perundungan siber, sebab anonimitas membuat orang lebih berani melontarkan kata-kata yang tak akan mereka ucapkan secara langsung.
Lestari dan Eriza (2021) menegaskan bahwa penggunaan media sosial berpengaruh terhadap kecerdasan emosional remaja, terutama ketika ketergantungan pada validasi online memperburuk kondisi mental penggunanya. Namun kajian sistematis Keles, McCrae, dan Grealish (2020) mengingatkan bahwa besarnya dampak ini tetap bergantung pada bagaimana dan untuk apa media sosial digunakan.
Artinya, TikTok bukan alat yang merusak, melainkan cermin dari cara penggunanya mengelola.
Di sinilah kecerdasan emosional atau EQ berperan. Daniel Goleman (1995) menjelaskan bahwa kesuksesan seseorang tak semata ditentukan oleh kecerdasan intelektual, melainkan juga kemampuan mengenali dan mengelola emosi.
Yang terangkum dalam lima kompetensi dan diterapkan pada kebiasaan bermedia sosial:
1.Kesadaran diri, berarti peka terhadap perubahan suasana hati setelah scrolling.
2.Pengendalian diri, berarti memberi jeda
sebelum membalas komentar atau mengikuti tren yang berisiko.
3.Motivasi, berarti menetapkan tujuan pribadi yang jelas, bukan mengejar validasi.
4.Empati, berarti mengingat ada manusia nyata di balik setiap akun.
5.Keterampilan sosial, berarti tetap menjaga relasi di dunia nyata, bukan hanya di layar.
Membangun kelima kompetensi ini tidak sepenuhnya bisa dibebankan pada individu seorang diri. Lingkungan keluarga yang terbuka dan mendiskusikan apa yang ditonton anaknya di media sosial, serta kampus yang menyisipkan literasi digital dalam kegiatan perkuliahan, sama-sama berperan menciptakan ekosistem yang membuat generasi muda tidak sendirian menghadapi tekanan dunia digital.
Dukungan semacam ini penting sebab algoritma yang dihadapi setiap hari dirancang oleh tim ahli, sehingga upaya membangun kesadaran diri sesungguhnya sedang melawan sistem yang jauh lebih canggih dari sekadar niat baik seorang individu.
Menurut Goleman, kelima keterampilan ini, bukan bakat bawaan lahir, melainkan kemampuan yang bisa dilatih siapa saja. TikTok akan terus ada, dan algoritmanya akan terus belajar memahami kelemahan penggunanya. Namun dengan kecerdasan emosional yang terlatih, seseorang tidak lagi menjadi penonton pasif yang bisa dengan mudah digiring notifikasi, melainkan pengguna yang sadar dan yang tahu kapan harus berhenti menggeser layar, dan kembali hadir sepenuhnya pada hidupnya sendiri.
Pada akhirnya, bukan TikTok yang perlu dijauhi sepenuhnya, melainkan kebiasaan lupa kendali atas diri sendiri dan menyerahkannya begitu saja pada layar yang tak pernah benar-benar mengenal siapa kita.
