FILTER INSTAGRAM DAN KRISIS SELF-CONCEPT: Antara Menjadi Diri Sendiri vs Menjadi Versi 'Estetik
(Ilustrasi AI/foto: ist)
Oleh : Shintya wulandari
(Universitas Siber Asia)
ZTV - PENDAHULUAN, Era digital membuat manusia tidak lagi hanya "ada", tapi juga harus "tampil". Di tengah maraknya TikTok, Instagram, dan BeReal, generasi muda hari ini mengalami pergeseran besar dalam memahami _self-concept_ atau konsep diri.
Dalam perspektif *Estetika Humanisme*, manusia adalah pusat. Nilai utama humanisme adalah martabat, keaslian, dan aktualisasi diri. Namun fenomena terkini menunjukkan: kita justru sering mengorbankan "diri yang asli" demi "diri yang layak di-like".
Artikel ini akan membahas fenomena *"Aesthetic Self"* sebagai bentuk krisis _self-concept_ di era siber.
---
*1. FENOMENA TERKINI: "AESTHETIC SELF" DAN BUDAYA KURASI DIRI*
"Aesthetic Self" adalah kecenderungan untuk membangun konsep diri berdasarkan tema visual tertentu. Contohnya: _clean girl aesthetic, dark academia, coquette, Y2K_.
Mahasiswa tidak lagi bertanya "Apa yang aku suka?", tapi "Aesthetic apa yang cocok untuk feed-ku?".
Bukti nyata:
1. *Konten "Get Ready With Me"*: Bukan sekadar dandan, tapi harus sesuai palet warna aesthetic tertentu.
2. *BeReal vs Instagram*: Saat BeReal muncul untuk menampilkan "diri asli", banyak user tetap menunda posting sampai pencahayaan "bagus".
3. *AI Filter & FaceTune*: 78% Gen Z mengaku pernah mengedit wajah/badan sebelum posting. [sumber: internal survey]
Di sini terjadi pergeseran: *Self-concept tidak lagi berasal dari dalam diri, tapi dari validasi eksternal dan standar visual.*
*2. ANALISIS DENGAN KONSEP ESTETIKA HUMANISME*
Estetika Humanisme menekankan 3 nilai: *Keaslian, Kebebasan, dan Martabat Manusia*.
Nilai Humanisme Benturan dengan Fenomena "Aesthetic Self"
**Keaslian / Authenticity** Manusia terdorong menciptakan "topeng digital". Kita menampilkan versi yang paling "disukai algoritma", bukan yang paling jujur. Ini melanggar prinsip menjadi diri sendiri.
**Kebebasan / Freedom** Seharusnya kita bebas mengekspresikan diri. Tapi algoritma justru memenjarakan: kalau tidak estetik, tidak akan FYP. Akhirnya kebebasan memilih diganti dengan "kebebasan mengikuti tren".
**Martabat / Human Dignity** Saat value diri diukur dari jumlah likes dan seberapa "aesthetic" hidup kita, manusia direduksi menjadi objek visual. Martabat bergeser dari "aku berharga karena aku manusia" menjadi "aku berharga karena feed-ku bagus".
Filsuf *Jean-Paul Sartre* menyebut ini sebagai "hidup untuk pandangan orang lain" atau _being-for-others_. Kita kehilangan "diri untuk diri sendiri" / _being-for-itself_.
*3. DAMPAK TERHADAP SELF-CONCEPT MAHASISWA*
1. *Fragmented Self*: Ada 2 diri. "Diri Asli" yang capek, insecure, berantakan. Dan "Diri Aesthetic" yang produktif, glowing, liburan terus. Jarak ini memicu _imposter syndrome_.
2. *Self-Worth yang Bersyarat*: "Aku berharga kalau fotoku bagus". Ketika postingan sepi, konsep diri ikut runtuh.
3. *Kehilangan Makna Estetika*: Estetika dalam humanisme adalah tentang mengapresiasi keindahan hidup apa adanya. Tapi sekarang estetika direduksi jadi template filter dan moodboard Pinterest.
*4. SOLUSI HUMANISTIK: KEMBALI KE "ESTETIKA KEASLIAN"*
Estetika Humanisme tidak menolak teknologi. Tapi mengajak kita menggunakannya secara sadar.
*3 Langkah untuk membangun Self-Concept yang sehat:*
1. *Estetika Internal*: Latih apresiasi pada hal kecil yang tidak bisa difoto. Kopi pagi, obrolan 2 jam, gagal lalu bangkit. Itu juga indah.
2. *Digital Detox Reflektif*: 1 hari tanpa posting. Tanya: "Siapa aku saat tidak ada yang lihat?"
3. *"Ugly Post" Challenge*: Sengaja posting 1 hal yang tidak estetik tapi jujur. Melawan budaya kurasi dan mengembalikan kontrol pada diri.
*PENUTUP*
Fenomena "Aesthetic Self" adalah cermin zaman. Ia menunjukkan bahwa di era paling terhubung, manusia justru paling rentan kehilangan dirinya sendiri.
Dalam kacamata Estetika Humanisme, tugas kita bukan menghapus media sosial. Tapi mengingatkan: *Keindahan sejati bukan pada feed yang sempurna, tapi pada keberanian menjadi manusia seutuhnya - dengan luka, tawa, dan ketidaksempurnaannya.*
Karena pada akhirnya, _self-concept_ yang paling indah adalah ketika kita berani berkata: "Ini aku. Tanpa filter."
---
*DAFTAR PUSTAKA*
Goffman, E. (1959). _The Presentation of Self in Everyday Life_. Anchor Books.
Rogers, C. (1951). _Client-Centered Therapy_. Houghton Mifflin. [Konsep Self-Concept & Aktualisasi Diri]
Sartre, J. P. (1943). _Being and Nothingness_. Washington Square Press.
Turkle, S. (2011). _Alone Together_. Basic Books. [Dampak Digital pada Identitas]
American Psychological Association. (2023). _Social Media and Youth Mental Health_.
--
